Sebelum Menggeleng…
Disclaimer: Tulisan ini merupakan karya fiksi komedi yang terinspirasi dari berbagai fenomena sosial di masyarakat. Seluruh tokoh, nama, dialog, lokasi, dan rangkaian peristiwa merupakan hasil pengembangan kreatif penulis untuk kepentingan hiburan dan refleksi sosial. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan, menyerang, merendahkan, atau mengidentifikasi individu, kelompok, lembaga, profesi, maupun wilayah tertentu.
Gara-gara Gunung Anak Krakatau muntah dan menyemprotkan abu putih ke mana-mana, pemandangan desa langsung berubah kelam.
Jalan tertutup debu, pohon berbalut serbuk, atap rumah pun sama rata, bagai seluruh kampung disiram bedak giling sekarung.
Dalam kepungan kabut tebal yang bikin jarak pandang tak sampai sejengkal jempol itu, hilanglah seorang ketua RT berumur 69 tahun yang akrab dipanggil Pak Ompong.
Padahal, biarpun umurnya sudah kepala enam dan giginya tinggal dua biji di depan, gairah laki-laki Pak Ompong ini masih sering tegang bagai pisang kepok matang pohon.
Begitu pandangan mata tertutup kabut, otak Pak Ompong yang memang dari dulu suka ngeres langsung oleng kehilangan arah.
Hari pertama hilang, suasana rumahnya mendadak gempar. Ny Erni, istrinya yang berbadan subur dan bersuara melengking bagai sirine ambulan, meraung-raung di teras sambil memukuli dadanya.
Warga sekampung yang kasihan langsung bergerak. Berbekal obor dan kentongan, mereka menyisir semak-semak sampai ke pinggir parit tua karena takut Pak Ompong mati tertimbun abu atau diculik wewe gombel.
Pencarian yang melelahkan itu berlanjut sampai hari kedua dan ketiga tanpa hasil, membuat warga mulai pasrah dan bersiap mengurus surat kematian. Eh, pas hari keempat, warga malah dibuat tepuk jidat massal!
Pagi-pagi sekali, saat warga masih sibuk memegang cangkul dan obor, Pak Ompong tiba-tiba muncul berjalan santai dengan wajah segar bugar, kumis klimis, perut kenyang, dan baju rapi wangi.
Yang Tak Kalah Menggeleng
- Duda Kaya Cari Janda “Perawan”, Malah Dapat Nenek-nenek
- Joni Bikin Pak Guru Pening, Jawab Merantau Dikasih Nol
- Niat Curi Celana Dalam, Dg Lukka Nyungsep di Kandang Ayam
- Dg Kuttu Tertipu Janda Glowing, Wajah Putih, Leher Hitam
- Dg Beddu Apes! Minta 5+5=10, Dikasih Jalan 6×2+10-2-11+1=10
- Lomba Paling Heboh “Menangkap Janda”, Dg Jaka Sial Dapat Batangan
- Hilang Saat Mabuk, Dg Unyu Ikut Tim SAR Cari Diri Sendiri
Pak Ompong bukan keluar dari semak-semak, parit tua, apalagi dari dalam jurang, tapi beliau baru saja melangkah keluar dari pintu rumah Bella, janda muda kinyis-kinyis yang kulitnya mulus bagai paha perawan tanpa noda.
Melihat pemandangan ajaib itu, warga yang tadinya tegang sampai keluar keringat dingin di selangkangan seketika langsung ngumpul mengelilingi teras rumah Bella.
Ny Erni yang berdiri paling depan bukannya berlari memeluk suami, tapi matanya langsung melotot hampir copot bagai mau menelan Pak Ompong hidup-hidup.
Wartawan lokal yang ikutan sibuk mencari keberadaan Pak RT sejak hari pertama langsung menerobos kerumunan.
“Pak RT! Tiga hari hilang ke mana saja? Kok bisa selamat dan tampak bugar begini di dalam rumah janda?”
Yang Tak Kalah Menggeleng
- Selingkuh “Cokko-cokko”
- Menumpas Jin Penunggu Celana Dalam Janda
- Atas Kerudung, Bawah Warung
- Goyangan Janda Muda
- Modal “Mokondo” Tebar Bualan
- Apes Pak Kentut RT Terjebak Sampah Basah
- Kalah Lomba Minum Ballo, Dg Tolo Terdampar di Rumah Janda
Pak Ompong tersenyum polos tanpa dosa sambil memamerkan gusi ompongnya yang bikin gemas.
“Aduh warga sekalian, jujur saya kira itu rumah saya sendiri! Di luar kan putih semua, tak kelihatan bedanya pintu sendiri sama pintu tetangga. Saya asal meraba dan masuk saja, eh… alangkah kagetnya saya! Pas pintu dibuka, saya langsung disambut senyum manis, disuguhi kopi panas, sama makanan enak. Tak ada yang nyemprot, tak ada yang nyuruh-nyuruh sapu rumah. Servisnya… aduhai, bikin tamu serasa jadi raja di atas kasur!”
Pak Ompong melanjutkan penjelasannya dengan mata meram-melek seolah-olah otaknya masih bernostalgia menikmati kehangatan di dalam rumah janda itu,
“Di sana, pintu terbuka lebar menyambut kedatangan. Suara lembutnya berbisik manja di telinga, tak ada nada tinggi bagai petasan meledak. Makanan tersaji hangat, tak ada yang minta uang belanja ini-itu. Tinggal duduk manis, menikmati, dan merasakan nikmat yang kenyal-kenyal empuk. Servisnya itu pas betul! Tak terlalu keras, tak terlalu lemas. Berbeda jauh sekali sama situasi di rumah saya sendiri!”
Mendengar kronologi jujur yang begitu polos, warga sekampung langsung meledak tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perut masing-masing.
Ny Erni yang berdiri di sampingnya langsung kempas-kempis menahan napas, dadanya yang montok naik turun bagai kobra siap mematuk!
“Terus kenapa bisa betah sampai tiga hari tiga malam tidak pulang ke rumah, Pak?” celekit salah satu warga di barisan belakang sambil menahan tawa.
Pak Ompong menunduk sedikit sambil mengurut pinggulnya yang terasa agak pegal.
Yang Tak Kalah Menggeleng
- Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
- Cewek BO Vs Burung Beo
- Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece
“Ya karena kabutnya belum hilang, jalanan masih gelap! Saya kira baru hari pertama. Lagian… makin lama saya di dalam sana, gairah saya makin betah. Kopi hangat terus, senyum manis terus. Saya pikir, kalau kabut belum bersih betul, ya saya belum tentu ingat jalan pulang!”
GERRR!
Tawa warga makin pecah riuh memenuhi halaman! Ternyata Pak RT mereka bukan kena musibah bencana alam apalagi diculik setan, Pak Ompong cuma tersesat lalu menemukan tempat pengungsian paling nikmat yang tak pernah ia dapatkan di rumahnya sendiri!
Setelah puas memberikan keterangan, Pak Ompong lalu menengok ke arah istrinya dengan muka santai. Ny Erni cuma mendengus keras sambil melipat kedua tangannya kencang-kencang di dada.
“Lega sih aku kau selamat,” cerocos Ny Erni dengan suara setengah lega tapi setengah mendidih panas, “Tapi nyasarnya kok ya pintar betul, malah pas di atas kasur rumah janda! Itu yang bikin hatiku meledak panas, bukan gara-gara abu vulkanik itu!”
Penulis : Ibhe Ananda





















