Sebelum Menggeleng…
Disclaimer: Tulisan ini merupakan karya fiksi komedi yang terinspirasi dari berbagai fenomena sosial di masyarakat. Seluruh tokoh, nama, dialog, lokasi, dan rangkaian peristiwa merupakan hasil pengembangan kreatif penulis untuk kepentingan hiburan dan refleksi sosial. Cerita ini tidak dimaksudkan untuk menggambarkan, menyerang, merendahkan, atau mengidentifikasi individu, kelompok, lembaga, profesi, maupun wilayah tertentu.
“Satu tegukan buat melupakan utang beras, dua tegukan buat bikin nyali setebal tembok!” gumam Dg Unyu sambil menyeka bibirnya yang basah oleh ballo dari jerigen plastik di pangkuannya di bawah pohon tala.
Efeknya langsung instan. Malam Minggu itu, rasa asam-manis cairan nira itu sukses menyulap Dg Unyu dari suami penurut menjadi pria paling nekat se-RT.
Dengkulnya memang mulai lemas dan pandangannya membayang ganda, tapi di dalam kepalanya, dia merasa baru saja diangkat menjadi komandan perang yang siap menaklukkan kegelapan semak-semak belakang pos ronda.
Matanya yang sayu berubah binar-binar penuh libido politik, dan lidahnya mulai menari-nari meminum angin malam yang dinginnya bagai bibir janda tanpa kepastian.
Dasar Unyu, kalau sudah ketumpahan air ballo racikan mantap itu, otaknya langsung meliuk-liuk bagai penari belit. Setelah menghabiskan tetes terakhir, dia pamit buang air kecil ke semak-semak.
Sialnya, urusan resleting selesai tapi kakinya malah minta piknik. Bagai pepatah tua patah tumbuh hilang berganti, niat kencing malah jalan-jalan tanpa permisi, Dg Unyu bukannya kembali ke pos ronda, tapi malah melangkah meliuk-liuk menyusuri kebun pisang warga.
- Selingkuh “Cokko-cokko”
- Menumpas Jin Penunggu Celana Dalam Janda
- Atas Kerudung, Bawah Warung
- Goyangan Janda Muda
- Modal “Mokondo” Tebar Bualan
- Apes Pak Kentut RT Terjebak Sampah Basah
Jalannya maju tiga langkah, mundur dua langkah, persis seperti irama dangdut koplo yang digoyang pinggul biduan. Akhirnya, di bawah rerimbunan pohon bambu yang gelapnya bagai masa depan jomblo lapuk, Dg Unyu ambruk.
Dia tidur terlentang dengan mulut menganga lebar, pasrah dipagut angin malam yang mengelus dadanya yang bertato gambar naga kurang gizi.
Menjelang subuh, Gang Keropos mendadak geger gempar. Istri Dg Unyu yang kencang dan bertenaga bagai mesin traktor sawah, berteriak-teriak histeris di pinggir jalan.
“Tolongg! Dg Unyu hilang! Dari semalam kencing di semak-semak tak balik-balik! Jangan-jangan diculik wewe gombel!” jerit istrinya sambil mengibaskan daster tipisnya yang berkibar-kibar liar diterpa angin.
Kepanikan menyebar cepat bagai gosip tetangga. Warga yang panik langsung menghubungi Tim SAR dan Polsek setempat. Tak sampai satu jam, tiga mobil SAR lengkap dengan sirine meraung-raung tiba di lokasi.
Puluhan relawan berkostum oranye menyisir area kebun dan pinggiran sungai. Senjata mereka lengkap: senter berdaya tinggi, tali temali, hingga megafon raksasa.
Sementara itu, di bawah pohon bambu, Dg Unyu terbangun karena gesekan daun kering di punggungnya. Kepalanya masih berputar bagai komidi putar pasar malam. Pandangannya remang-remang, tapi telinganya menangkap suara sirine dan teriakan bersahut-sahutan.
“Cari di sebelah timur! Jangan sampai korban tenggelam atau dimakan binatang!” teriak Komandan SAR pakai megafon.
Dg Unyu yang jiwanya membara oleh rasa kesetiakawanan sosial, meski otaknya masih tergenang sisa ballo, langsung merayap keluar dari rimbunan bambu. Melihat rombongan berkaos oranye sibuk riwa-riwi, naluri sok pahlawannya langsung bergejolak bagai air mendidih.
“Ada apa ini ramai-ramai, Komandan?” tanya Dg Unyu sambil mengucek matanya yang merah bagai biji saga. Matanya sempat mengerling nakal ke arah relawan wanita yang badannya lempeng dan sintal.
- Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
- Cewek BO Vs Burung Beo
- Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece
“Ada warga hilang dari semalam! Namanya Dg Unyu! Katanya mabuk berat lalu lenyap!” jawab salah satu relawan SAR sambil menyenter semak-semak.
Dg Unyu menepuk dadanya yang kurus. “Oalah, kasihan sekali itu Dg Unyu! Bahaya kalau malam-malam makin dingin, bisa kejang-kejang dia! Ayo saya bantu cari, Komandan! Saya hapal lekuk-lekuk kebun ini bagai menghapal lekuk tubuh istri tetangga!”
Maka mulailah aksi konyol sejagat raya. Dg Unyu, dengan sisa bau pening dan aroma ballo yang menyengat bagai terasi bakar, berbaris paling depan bersama Tim SAR. Dia ikut berteriak memanggil namanya sendiri dengan suara melengking sok dramatis!
“Unyuuu! Di mana kau Unyuuu?! Pulanglah! Istrimu sudah menunggu sambil bawa kayu!” teriak Dg Unyu lantang, menyusuri semak-semak sambil memegang batang kayu untuk memukul rimbunan rumput.
Dua jam berlalu, matahari mulai meninggi memancarkan sinar hangat yang membakar embun. Penyisiran sudah meluas hingga ke pinggir kali.
Dg Unyu yang makin lelah dan keringatnya mengucur deras membasahi kemeja tipisnya yang terbuka tiga kancing atas, makin bersemangat berteriak.
“Unyuuu! Keluar kau! Jangan bikin susah Tim SAR!” serunya lagi sambil memegang pinggangnya yang mulai encok.
Melihat kegigihan warga lokal yang begitu berdedikasi bantu pencarian, Komandan SAR merasa tersentuh. Dia merangkul pundak Dg Unyu yang lengket oleh keringat.
“Luar biasa dedikasi Bapak. Jarang ada warga sepeduli ini. Boleh tahu nama Bapak siapa biar nanti saya masukkan ke laporan penghargaan?” tanya Komandan SAR penuh haru.
Dg Unyu mengusap keringat di dahi dengan ujung lengan bajunya, lalu tersenyum manis memamerkan giginya yang agak kekuningan.
“Saya Dg Unyu, Komandan!”
Hening seketika.
Roda angin mendadak berhenti berembus. Burung-burung di atas pohon bambu mendadak diam. Komandan SAR melotot, matanya hampir melompat keluar dari kelopak. Puluhan relawan SAR yang sedang memegang tali langsung membeku bagai patung lilin.
- Nikmatnya Biji “Peler” mu
- Sodok Terus Sampai Puas
- Niat Mengocok Janda, Duda Sangkalaroa Malah Dikocok Montir Las
- Janda “Londo Ireng”
- Setiap Lihat Janda, “Burung” Dg Kacci Berdiri
“Maksud Bapak… Bapak ini Dg Unyu yang kita cari dari subuh tadi?!” pekik Komandan SAR dengan nada melengking lima oktaf.
“Iya, Komandan. Dari tadi saya ikut teriak cari Dg Unyu, tapi tidak ketemu-ketemu juga. Coba Komandan panggil pakai megafon, siapa tahu dia dengar!” sahut Dg Unyu polos tanpa dosa sambil menggaruk perutnya yang gatal.
PLAKK!
Sebuah tamparan daster melayang mulus mendarat di bahu Dg Unyu! Istrinya yang baru berlari dari pos ronda langsung menyambar telinga Dg Unyu dan memutirnya 180 derajat bagai memutar keran air!
“Dasar otak udang berbau ballo! Kau cari diri sendiri dari subuh sampai siang bolong, hah?! Bikin malu keluarga saja! Pulang kau!” bentak istrinya sambil menyeret Dg Unyu yang meringis kesakitan bagai belut disiram garam.
Warga sekampung dan seluruh Tim SAR cuma bisa melongo guling-guling, antara ingin marah atau tertawa sampai mulas melihat kelakuan ajaib si Dg Unyu.
Memang benar kata pepatah tua, setinggi-tingginya burung terbang, akhirnya hinggap di pelimbahan juga; sepintar-pintarnya orang mabuk merasa pahlawan, akhirnya tersadar kalau yang dicari adalah dirinya sendiri!
Kelakuan orang yang tenggelam dalam ilusi ballo itu ibarat naik motor tanpa stang dan tanpa rem: jalannya meliuk-liuk aduhai menantang bahaya, tapi begitu sadar, mukanya sudah nyungsep duluan di got dan diseret istri pakai garpu tala!
Penulis: Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok
Makna dan Pesan Moral
1. Hilangnya Akal Sehat Membuat Seseorang Kehilangan Jati Diri
Dg Unyu bukan hanya tersesat secara fisik, tetapi juga kehilangan kesadaran terhadap dirinya sendiri. Ia bahkan ikut mencari orang yang ternyata adalah dirinya sendiri. Ini menjadi simbol bahwa ketika akal sehat tertutup oleh pengaruh minuman atau hawa nafsu, seseorang bisa kehilangan arah hidup tanpa menyadarinya.
2. Kesenangan Sesaat Bisa Menyusahkan Banyak Orang
Bagi Dg Unyu, mabuk hanyalah hiburan semalam. Namun akibatnya, istri, tetangga, hingga Tim SAR harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencarinya. Cerita ini mengingatkan bahwa tindakan yang tampak sepele bagi pelakunya sering kali membawa beban bagi orang lain.
3. Tanggung Jawab Tidak Pernah Bisa Digantikan oleh Alasan
Mabuk bukan pembenaran untuk mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga maupun lingkungan. Setiap keputusan memiliki konsekuensi, dan orang yang bertanggung jawab adalah mereka yang mampu mengendalikan dirinya sebelum menimbulkan masalah bagi orang lain.
4. Jangan Terlalu Percaya Diri Saat Kesadaran Sudah Hilang
Dalam kondisi mabuk, Dg Unyu merasa dirinya pahlawan yang membantu pencarian korban. Padahal ia sendiri adalah orang yang sedang dicari. Cerita ini menyindir bahwa rasa percaya diri tanpa kesadaran justru melahirkan keputusan-keputusan yang konyol dan memalukan.
5. Humor Menjadi Cara Mengingatkan Tanpa Menggurui
Kelucuan cerita bukan bertujuan mempermalukan orang yang pernah berbuat salah, melainkan mengajak pembaca melihat bahwa kebiasaan buruk sering berakhir menjadi bahan tertawaan. Terkadang, tawa menjadi cara paling efektif untuk menyampaikan pelajaran hidup.
Di balik tingkah konyol Dg Unyu yang ikut mencari dirinya sendiri, tersimpan pesan bahwa manusia paling mudah tersesat ketika kehilangan kendali atas pikirannya sendiri. Orang yang tidak mampu mengendalikan diri sering kali tidak sadar bahwa sumber masalah yang sedang dicari sebenarnya adalah dirinya sendiri.
Sebelum sibuk mencari siapa yang salah atau apa yang hilang, pastikan terlebih dahulu bahwa akal sehat dan kesadaran diri masih ada. Sebab, orang yang kehilangan kendali sering menjadi penyebab masalah tanpa pernah menyadarinya.





















