Sebelum Menggeleng
Seluruh isi tulisan ini adalah bentuk karya fiksi berbasis fakta yang menggunakan simbol dan metafora. Nama-nama dalam peristiwa tersebut sengaja diganti demi privasi. Seluruh latar dan peristiwa di dalamnya merupakan bentuk dramaturgi yang tidak ditujukan untuk menyinggung, menyerang, atau mendiskreditkan pihak mana pun secara personal maupun institusional.
Duh, selingkuh lagi, selingkuh lagi. Drama Surti dan Tejo benar-benar berbelok arah, makin seksi sekaligus bikin geleng-geleng kepala.
Surti mungkin merasa sudah jago main kucing-kucingan, tapi ternyata Tejo nggak mau terus-terusan jadi tikusnya.
Sekarang permainannya sudah ganti babak, bukan lagi soal cokko-cokko, tapi soal siapa yang bakal duluan “basah” di depan mata publik karena aib yang makin sulit ditutup-tutupi.
Panggung sandiwara ini mendadak riuh. Seolah-olah semua orang baru sadar kalau di balik kursi empuk yang selama ini diduduki, tersimpan bantal yang bau apek karena terlalu lama dipakai menyembunyikan rahasia.
Surti, si puan yang punya kuasa, dulunya merasa punya taktik jempolan untuk membagi waktu antara urusan kantor dan “urusan ranjang” dengan rekan yang serba bisa.
Namun, apa mau dikata. Sepandai-pandainya tupai melompat, kalau tupainya sudah sering lupa daratan karena asyik bermain di ranting orang lain, ya pasti bakal jatuh juga.
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
Tejo yang dulu dianggap sebagai pion yang cuma bisa manggut-manggut, tiba-tiba membalikkan papan catur. Langkahnya bikin semua orang kaget, membuat drama ini melesat kencang layaknya mobil sport yang lupa caranya ngerem di tikungan tajam.
Lalu, datanglah para pemeran figuran yang justru bertingkah seperti bintang utama.
Ada kenalan lama yang dulu sering wara-wiri di lingkungan mereka, serta seorang rekan yang pernah mencicipi nikmatnya bekerja di lingkup domestik Surti.
Mereka ini ibarat kompor gas yang bocor, bukannya memperbaiki keadaan, malah sengaja melempar korek api ke tumpukan jerami.
Ditambah lagi, ada seorang tukang gosip yang mencium bau amis ini, lalu menyiramkan bensin agar api skandalnya makin berkobar hebat.
Benar kata pepatah, kalau berani main api, jangan heran kalau jempol kaki ikut melepuh.
Saking hebohnya, drama ini tak lagi cuma jadi konsumsi gosip di warung kopi. Jalanan mendadak penuh dengan aksi demo.
Spanduk-spanduk berisi cacian berseliweran, toa-toa berteriak menuntut keadilan, seolah-olah Surti dan Tejo adalah musuh besar yang harus segera dikuliti di depan umum.
Lucunya, drama ini lama-kelamaan mirip banyolan kelas teri di pojok pasar. Semua orang sibuk buka aib, saling tunjuk hidung, padahal sebenarnya semuanya sedang berlumuran lumpur yang sama.
Kejadian ini mengingatkan siapa saja bahwa bicara soal selingkuh dan zina itu ibarat memancing ikan di air keruh menggunakan jaring yang bolong-bolong. Susah banget dibuktikan!
Di pengadilan, hakim mana yang sudi memutus perkara cuma pakai modal “katanya” atau rekaman samar yang buremnya ngalahin ingatan mantan?
Kalau tidak ada bukti telanjang yang bikin kuping merah, seperti kepergok sedang “bergulat” di atas ranjang dengan bukti autentik, maka tuduhan-tuduhan itu hanya bakal menguap menjadi angin lalu.
Zina itu bukan perkara yang bisa ditebak lewat bau parfum atau bisik-bisik tetangga di warung kopi, melainkan perkara bukti nyata yang seringkali raib ditelan rahasia.
Surti kini pasang badan, mati-matian menepis semua tuduhan layaknya kiper yang berusaha menghalau tendangan penalti di menit terakhir.
Sementara itu, Tejo tak mau lagi jadi suami yang cuma bisa pasrah meratapi nasib di sudut kamar.
Keduanya kini sedang asyik menari di atas bara api, saling lempar tanggung jawab, sementara publik cuma bisa menonton sambil mengunyah camilan, menertawakan betapa rapuhnya harga diri manusia kalau sudah berurusan dengan urusan di bawah pusar.
Bangkai, walau dibungkus kain sutra paling mahal sekalipun, baunya tetap saja akan tercium juga, apalagi kalau bangkainya dipelihara dengan penuh gairah di ruang yang seharusnya dipakai untuk kerja nyata.
Drama ini masih jauh dari kata selesai. Masih banyak babak-babak memalukan yang akan membuat kuping panas dan mata terbelalak.
Perseteruan ini bukan lagi soal siapa yang benar atau salah, tapi tentang siapa yang punya stok drama paling banyak untuk dijual.
Publik hanya bisa duduk manis, menyiapkan kopi hangat, sambil menunggu episode berikutnya yang entah akan berakhir di pelaminan baru atau malah di ruang sidang yang dingin.
Jangan lupa, di balik layar, ada sutradara dan produser yang terus mengamati. Mereka menunggu waktu yang pas untuk memutar roda kekuasaan, lalu menentukan siapa yang berhak duduk di kursi empuk itu.
Namun, di atas semua skenario mereka, kebenaran hanya bisa tertawa sinis. Ia diam-diam menunggu momen yang tepat untuk membuka semua kedok saat drama ini sudah tamat nanti.
Pada akhirnya, waktu yang akan mengadili, karena sekeras apa pun kebohongan mencoba bersolek, ia tak akan pernah bisa menggantikan wajah asli kejujuran di hadapan cermin sejarah.
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















