Sebelum Menggeleng…
Tulisan ini menggunakan pendekatan “Fiksi Berbasis Fakta” yang dibalut dalam realitas urban. Penulis sengaja meminjam metafora erotis tidak untuk tujuan vulgaritas, melainkan sebagai kiasan untuk menelanjangi pola pikir di mana kenikmatan sering kali membuat pelakunya kehilangan orientasi.
Rubrik ini hadir sebagai cermin retak bagi siapa saja yang masih merasa kebal terhadap moralitas. Penulis menyajikan otopsi sosial dengan cara yang jujur, untuk menunjukkan bagaimana perilaku “di bawah perut” sering kali menjadi indikator utama keruntuhan integritas seseorang di ruang publik.
Kita tidak sedang mendiskusikan cinta; kita sedang membincangkan bagaimana rasa malu telah berhasil dikuliti hingga tak bersisa. Ketika batasan nilai yang dulunya sakral kini bisa ditukar dengan kenyamanan sesaat, di situlah sistem pertahanan martabat manusia benar-benar runtuh dan tak lagi menyisakan harga diri.
Seringkali, kebakaran hebat justru lahir dari percikan kecil di tempat yang paling tersembunyi. Begitu pula dengan pengkhianatan, ia tidak datang dengan suara gaduh, melainkan lewat “korsleting” halus di balik pesan singkat yang membuat napas tersengal.
Bagi Dg. Kebo dan selingkuhannya, seni selingkuh yang menarik adalah cokko-cokko. Dalam dialek Makassar, cokko artinya bersembunyi.
Dg. Kebo, yang di rumah terlihat seperti istri yang patuh, di luar sana menjelma menjadi pemain utama dalam skenario liar bersama sang oknum polisi. Keduanya larut dalam setiap detik permainan ini.
Dg. Kebo ini tipe istri yang kalau di depan suaminya, Dg. Makulle, gayanya sudah mirip malaikat yang baru turun dari kahyangan.
Daster batik longgar, muka polos tanpa bedak, dan kalau disuruh masak, suaranya lembut sekali.
“Iya, Puang, sudah ka masak ikan.”
Padahal, di dalam tasnya, ia menyimpan lingerie sutra warna merah cabe yang kalau dipakai, bisa membuat iman pria mana pun goyah.
Sementara di seberang sana, si oknum polisi ini punya taktik yang tak kalah licik. Kalau sedang bertugas, gayanya gagah, sok disiplin, dan sering memaki pelanggar lalu lintas dengan muka sangar. Tapi kalau sudah lepas seragam, dia berubah jadi “penjinak ranjang” yang haus.
- Aaahh Enak Sayang, “Gele-gele’ki!”
- Janda Muda Diperkosa Minta Nambah, Eh Si Perampok Malah Minta Ampun
- Sawah Terbengkalai Tak Lagi Berisi, Petani “Broken Home” Tanam Benih ke Anak
- Perawan dan Janda Kalah Telak, Istri-Suami Orang Kini Jadi “Mainan Baru”
- Awalnya Sakit, Lama-lama Juga Enak
Di bawah bayang-bayang malam, pertemuan keduanya sering disepakati di hotel melati yang bau spreinya sudah bercampur antara aroma pembersih lantai murah dan bau sisa “keringat” orang lain.
Di kamar nomor 102 itulah mereka beraksi. Begitu pintu terkunci, Dg. Kebo tidak butuh waktu lama untuk membuang kedok “istri salihah”.
Si oknum polisi, dengan tangan yang biasa memegang pistol, kini lebih sibuk “menggeledah” setiap lekuk tubuh Dg. Kebo tanpa surat tugas.
Keduanya melakukan senam jantung yang lebih intens daripada latihan fisik. Desahan mereka seringkali terdengar sampai ke kamar sebelah, membuat tamu lain cuma bisa geleng-geleng kepala sambil membatin.
“Ini orang lagi main bola apa lagi berantem sampai bunyi plak-plok begitu?”
Puncak keseruan cokko-cokko ini ada pada momen-momen kritis yakni saat telepon genggam Dg. Kebo berdering, menampilkan nama “Dg. Makulle” di layar.
Dg. Kebo cuma bisa cekikikan sambil menempelkan jari ke bibir si polisi, menyuruhnya diam sejenak agar napas mereka yang memburu tidak kedengaran lewat mikrofon.
Sungguh sebuah drama komedi yang jorok namun memacu adrenalin. Mereka merasa paling hebat, paling pintar, dan paling aman karena merasa sudah menyembunyikan jejak dengan rapi.
Tapi, hukum karma tidak butuh kunci pintu.
Satu hari yang naas, Dg. Kebo lupa mematikan share location di ponselnya yang tertinggal di atas meja saat ia sedang asyik “berolahraga”.
Dg. Makulle yang curiga karena istrinya sudah tiga jam “beli sayur” tak kunjung pulang, membuka peta di ponselnya. Betapa terkejutnya dia melihat titik merah berhenti tepat di sebuah penginapan yang terkenal dengan tarif per jam-nya.
Dg. Makulle tidak perlu jadi detektif untuk tahu apa yang terjadi. Dia langsung meluncur, menendang pintu kamar yang tidak terkunci rapat, dan duaaarr! Adegan sinetron itu pecah.
Dg. Kebo yang tadinya sedang asyik “bercocok tanam” mendadak kaku, nyaris melompat keluar jendela karena kaget.
Si oknum polisi yang gagah perkasa itu pun seketika kehilangan nyali, cuma bisa menutupi bagian vitalnya pakai celana dinas yang berserakan.
Kini, semua cokko-cokko itu berakhir tragis. Tidak ada lagi desahan manis, yang ada hanya cacian dan tangisan. Dg. Kebo diceraikan dengan cara yang tidak terhormat, diusir dari rumah dengan daster yang tersisa di badan.
Si oknum polisi? Kariernya tamat, kena sidang kode etik karena ketahuan “menggunakan senjata” di tempat yang salah.
Mereka yang dulu merasa paling jago main rahasia, sekarang jadi bahan gosip di seluruh kelurahan. Penyesalan datang menyapa, bukan di ranjang yang empuk, melainkan di balik pintu rumah yang tertutup rapat, di mana kesepian menjadi satu-satunya kawan yang tersisa.
Awalnya memang enak, tapi akhirnya? Habis tak bersisa, malu pun menumpuk setinggi gunung.
Sebab, sepandai-pandai cokko, akhirnya akan terbongkar juga. Sepintar-pintarnya mereka menutupi bangkai, baunya pasti tercium juga oleh pemilik sah yang sudah menunggu di depan pintu.
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok
Disclaimer: Seluruh isi tulisan ini adalah bentuk karya fiksi berbasis fakta yang menggunakan simbol dan metafora kreatif. Nama-nama dalam peristiwa tersebut sengaja diganti demi privasi. Seluruh latar dan peristiwa di dalamnya merupakan bentuk dramaturgi yang tidak ditujukan untuk menyinggung, menyerang, atau mendiskreditkan pihak mana pun secara personal maupun institusional.





















