Sebelum Menggeleng…
Disclaimer : Seluruh isi tulisan ini adalah karya fiksi belaka. Nama tokoh, latar tempat, maupun peristiwa yang terjadi di dalamnya hanyalah hasil dramatisasi dan imajinasi kreatif penulis untuk kebutuhan hiburan semata. Segala kemiripan nama, karakter, atau lokasi dengan pihak-pihak tertentu di dunia nyata adalah murni kebetulan belaka dan tidak dimaksudkan untuk menyasar atau menyinggung siapa pun.
Urusan selangkangan memang paling ampuh membuat pria malas lupa diri. Modal “mokondo” tebar bualan di alam maya, padahal isi dompet dan piring makan saban hari bergantung pada cucuran keringat sang istri, begitulah nasib memprihatinkan Dg Bere.
Niat hati ingin memanjakan syahwat lewat layar seluler, kenyataan malah membongkar borok parasit yang bikin wibawa rontok.
Nama Dg Bere sudah terlanjur tersohor di seantero Gang Paboya sebagai contoh nyata lelaki tak tahu diri. Sosok paruh baya ini punya gelar tak resmi sebagai Duta Mokondo Kecamatan.
Kerjanya saban hari cuma rebahan, mengelus-elus perut buncitnya, dan merawat “burung bere-bere” kesayangannya yang cuma jadi pajangan tanpa daya beli.
Sementara di luar sana, istrinya, Dg Sompa, harus banting tulang dari sebelum terbit matahari, memeras keringat di pasar hingga dasternya basah kuyup demi sesuap nasi dan biaya hidup suami tak berguna itu.
- Selingkuh “Cokko-cokko”
- Nikmatnya Biji “Peler” mu
- Sodok Terus Sampai Puas
- Menumpas Jin Penunggu Celana Dalam Janda
- Atas Kerudung, Bawah Warung
- Goyangan Janda Muda
Di dunia maya, Dg Bere adalah macan kelaparan. Dengan modal kuota internet yang dibeli dari uang kembalian belanja istrinya, Dg Bere menjelma jadi pria idaman di medsos.
Kancing bajunya sengaja dibuka melambai-lambai memamerkan dada berbulu tipis yang diolesi minyak kayu putih biar kelihatan mengilap sensual. Hobinya menyasar istri-istri orang yang kesepian, mengajak mereka bernostalgia syahwat lewat panggilan video alias VCS.
Siang itu, saat matahari Makassar lagi terik-teriknya membakar atap seng, Dg Bere beraksi di dalam kamar. Mumpung rumah sepi dan istrinya masih mengangkut karung di pasar, Dg Bere mengunci pintu, mengencangkan volume HP, dan menyalakan kamera.
Di layar HP, tampak sesosok wanita bertubuh padat berisi dengan belahan daster merah yang menggoda imajinasi. Darah Dg Bere langsung mendidih sampai ke ubun-ubun.
“Aduhh Sayangku, makin bening saja itu paha kuning langsatmu di kamera. Coba turunkan sedikit itu daster, biar kelihatan bukit kenikmatanmu!” bisik Dg Bere dengan suara serak-serak basah sambil jemarinya mulai menggerilya ke balik celana pendeknya.
Wanita di layar terkekeh mendayu-dayu, “Iya kah Dg Bere? Tapi kau betul-betul pria kaya kan? Nanti kalau saya ceraikan suamiku, kau sanggup belikan saya perhiasan emas?”
- Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
- Cewek BO Vs Burung Beo
- Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece
“Jangankan emas, intan berlian pun saya belikan! Burungku ini tidak cuma pandai bikin tegang di layar, tapi dompetku juga tebal tidak berseri!” pamer Dg Bere penuh bualan, padahal di kantong celananya cuma ada uang dua ribu rupiah lecek sisa beli kerupuk.
Dg Bere makin liar. Nafsunya membumbung tinggi ke langit ketujuh. Dia melepaskan celananya, memamerkan “aset bere-bere”-nya ke depan kamera HP sambil mendesah-desah nakal seperti mahluk kehausan.
Namun, sepandai-pandai menyimpan bangkai, akhirnya tercium juga!
Pintu kamar ditendang sampai jebol!
Dg Sompa, istrinya yang bertubuh kekar bekas mengangkat karung beras, berdiri di ambang pintu dengan wajah merah padam bagai banteng terluka. Tangan kanannya memegang sapu lidi, dan tangan kirinya memegang pisau pemotong daging pasar!
Dg Bere yang lagi dalam posisi “burung tegang” di depan kamera langsung terperanjat, matanya melotot mau copot, pelor syahwatnya seketika menciut kaku ketakutan!
“Oohh… Begini kelakuanmu di rumah sementara saya setengah mati banting tulang di pasar, heh?!” teriak Dg Sompa dengan suara melengking khas Makassar yang bikin kaca jendela bergetar.
“Kau pakai uang hasil jualanku cuma buat beli kuota dan pamer burung bere-bere-mu sama perempuan gatal di medsos?!”
Belum sempat Dg Bere memakai celananya, Dg Sompa langsung menyambar HP tersebut. Dan alangkah terkejutnya Dg Bere waktu mendengar suara dari balik HP.
- Nikmatnya Biji “Peler” mu
- Sodok Terus Sampai Puas
- Niat Mengocok Janda, Duda Sangkalaroa Malah Dikocok Montir Las
- Janda “Londo Ireng”
- Setiap Lihat Janda, “Burung” Dg Kacci Berdiri
“Aduhh Dg Sompa! Ini suamimu sok kaya mau kasih saya emas, padahal cicilan sayurnya di lapakku sudah tiga bulan belum dibayar!” teriak wanita di layar HP, yang ternyata adalah Dg Te’ne, janda penjual bumbu pasar yang sengaja memancing Dg Bere karena gemas utangnya tidak dibayar-bayar!
Seketika itu juga, kedok Mokondo Dg Bere terbongkar habis tanpa sisa!
Warga sekampung yang mendengar keributan langsung berkumpul di depan rumah. Dg Sompa yang sudah gelap mata tidak memberi ampun.
Tanpa ba-bi-bu, Dg Bere yang cuma pakai celana dalam bergambar kartun diseret keluar rumah, dilempar ke jalanan sambil dilempari daster basah dan keranjang pasar!
“Pergi kau dari rumahku! Tidak usah kembali kalau cuma modal burung bere-bere dan bualan palsu! Dasar lelaki Mokondo!” bentak Dg Sompa sambil mengunci pintu rumah rapat-rapat.
Dg Bere cuma bisa duduk meratap di atas selokan sambil menutupi “aset”-nya yang mendadak encok dan menciut total, diketawai guling-guling oleh seluruh warga Gang Paboya.
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok
Makna dan Pesan Moral
1. Jangan Hidup Menjadi Beban Orang Lain
Dg Bere digambarkan sebagai pria yang enggan bekerja alias mokondo, tetapi menikmati hasil jerih payah istrinya. Ironisnya, ia masih merasa berhak bergaya dan mencari kesenangan pribadi. Cerita ini mengingatkan bahwa harga diri seorang manusia dibangun melalui tanggung jawab, bukan dengan bergantung sepenuhnya pada pengorbanan orang lain.
2. Kebohongan Selalu Memiliki Batas Waktu
Di dunia maya, Dg Bere mengaku kaya, dermawan, dan mampu memenuhi berbagai keinginan. Padahal kenyataannya, hidupnya justru bergantung pada istrinya dan masih memiliki utang kecil yang belum dibayar. Pesannya jelas, kebohongan mungkin mampu menarik perhatian sesaat, tetapi pada akhirnya kenyataan akan membongkar semuanya dengan cara yang paling memalukan.
3. Media Sosial Bukan Tempat Menciptakan Identitas Palsu
Dg Bere membangun citra sebagai pria mapan demi memperoleh pengakuan dari orang lain. Kisah ini menyindir fenomena banyak orang yang lebih sibuk membangun pencitraan di media sosial daripada memperbaiki kehidupan nyata. Reputasi yang dibangun di atas kepalsuan tidak akan bertahan lama.
4. Mengkhianati Kepercayaan Keluarga Berujung Penyesalan
Ketika istri bekerja keras demi menghidupi rumah tangga, Dg Bere justru menggunakan hasil jerih payah itu untuk kepentingan yang tidak pantas. Cerita ini menegaskan bahwa pengkhianatan terhadap kepercayaan pasangan bukan hanya merusak hubungan, tetapi juga menghancurkan martabat diri sendiri.
5. Ego dan Nafsu Sering Menjadi Jalan Menuju Kehancuran
Yang mempermalukan Dg Bere bukan orang lain, melainkan kesombongan dan hawa nafsunya sendiri. Ia merasa paling pintar, paling menarik, dan mampu memperdaya siapa saja. Namun justru sifat itulah yang menjadi penyebab seluruh kebohongannya terbongkar.





















