Sebelum Menggeleng…
Seluruh isi tulisan ini adalah bentuk karya fiksi berbasis fakta yang menggunakan simbol dan metafora. Nama-nama dalam peristiwa tersebut sengaja diganti demi privasi. Seluruh latar dan peristiwa di dalamnya merupakan bentuk dramaturgi yang tidak ditujukan untuk menyinggung, menyerang, atau mendiskreditkan pihak mana pun secara personal maupun institusional.
Di mata jagat maya, Nyonya Merry, istri dari oknum aparat berbaju cokelat adalah sosok yang sangat bernafsu ingin tampil menjadi pahlawan.
Akun media sosialnya penuh dengan khotbah moral, diselingi konten-konten provokatif yang seolah-olah sedang menyapu bersih praktik bisnis ilegal di sekitarnya.
Namun, panggung itu hanyalah kedok. Di balik tirai kamarnya yang wangi parfum mahal, Merry menjalankan praktik yang jauh lebih menguntungkan yaitu makelar kasus.
Baginya, hukum itu ibarat daster longgar yang bisa ditarik ulur sesuai pesanan dan ketebalan amplop panas.
Kelakuan Merry sudah lama membuat teman-teman arisan sosialitanya gerah. Namun, Merry cuek saja. Apalagi sejak setahun lalu dia punya mainan baru yang jauh lebih kekar yaitu seorang oknum aparat berbaju loreng.
Setiap bulan, rekening Merry selalu gemuk, mendapat jatah transferan dengan angka nol berjejer panjang dari sang kekasih gelap yang gemar menyelinap itu.
- Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
Di depan publik, Merry sok alim, bicara moralitas seolah penjaga pintu surga. Namun, di balik selimut gairah, kelakuannya tak kalah lihai dari “cewek BO” kelas kakap yang tahu betul cara memeras keringat pria.
Target buruannya adalah para “burung beo” istilah nakal Merry untuk lelaki beristri yang punya jabatan. Lelaki jenis ini kalau di ranjang suka meniru bunyi-bunyian nikmat, tapi aslinya gampang dijinakkan hanya dengan “gesekan kulit”.
Sore itu, hawa kamar hotel terasa menyesakkan. Merry sedang bersama selingkuhan lorengnya. Dengan balutan gaun tidur transparan yang memperlihatkan lekuk “aset kembar” dan pinggul sintalnya, Merry erotis memijat pundak sang kekasih.
Kulit yang basah oleh keringat tipis bertemu pelukan hangat, menciptakan gesekan intim yang membakar akal sehat. Merry tahu betul cara memanjakan “burung” yang satu ini, membelainya dengan gerakan sensual agar pasokan dana bulan depan tetap lancar jaya.
Baginya, urusan ranjang dan uang adalah kombinasi surga dunia yang tak boleh putus, tidak peduli ada hati istri lain yang terkoyak.
Namun, roda kehidupan itu berputar. Karma sering kali datang tanpa mengetuk pintu.
Akibat terlalu sering membongkar aib orang lain demi ego dan kantongnya, Merry lupa bahwa sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, baunya akan tercium juga.
Istri sah sang oknum loreng ternyata diam-diam mencium gelagat busuk ini. Dengan kecerdikan seorang istri yang tersakiti, dia mengumpulkan semua bukti transferan dan rekaman chat mesum Merry yang sangat jorok, lalu menyebarkannya ke publik. Seketika itu juga bom aib Merry meledak, menjadi santapan publik yang haus drama.
Melihat suaminya terancam dipecat dan nama baiknya hancur, sang oknum loreng langsung mengambil tindakan tegas, memutuskan hubungan dan menghentikan semua pasokan dana.
Dasar Merry! Urat malunya tampaknya sudah putus sejak lama. Bukannya bersembunyi karena aib seksnya telanjang di depan umum, dia malah nekat menyusun rencana gila demi membalas dendam. Dengan wajah sengaja di-make up lebam dan baju yang dirobek sedikit di bagian dada agar terlihat dramatis, Merry mendatangi kantor polisi.
Dia membuat laporan resmi, mengaku telah menjadi korban pengeroyokan brutal. Dia menangis histeris di depan kamera wartawan, mencoba tampil sebagai korban dizalimi.
Tapi sial bagi Merry, penyidik zaman sekarang tidak bodoh. Setelah dilakukan olah TKP dan pemeriksaan kamera pengawas, kedok Merry langsung terbuka lebar. Tidak ada pengeroyokan, lebam di wajahnya hanyalah goresan kosmetik, dan laporannya terbukti fiktif.
Merry yang awalnya ingin memenjarakan orang, kini justru terancam masuk bui karena ulahnya sendiri.
Pukulan paling telak justru datang setelah itu. Teman-teman sosialita dan rekan arisan yang dulu menjilatnya kini berbalik arah. Mereka memblokir nomor Merry, mengeluarkan dirinya dari grup WhatsApp, dan pura-pura tidak kenal.
Merry benar-benar ditinggalkan. Tidak ada lagi pelukan hangat sang loreng. Yang tersisa hanyalah ruang kosong dan cibiran tetangga.
Pada akhirnya, hidup adalah cermin yang adil. Seseorang yang hobi melemparkan kotoran ke pekarangan orang lain, suatu saat akan terpeleset oleh kotorannya sendiri.
Merry lupa bahwa kemunafikan yang dibungkus topeng kesucian tidak akan bertahan lama. Saat menggunakan pesona tubuh dan tipu daya untuk merusak kebahagiaan orang lain, sebenarnya sedang menanam bom waktu. Dan saat bom itu meledak, jangankan mendapatkan simpati, teman paling dekat pun akan lari menjauh.
Kini, Merry tak punya pilihan lain. Dia harus kembali ke rumah suaminya, si oknum berbaju cokelat yang selama ini dia anggap “mokondo” dan tidak berguna. Padahal, si suami memang benar-benar seorang “mokondo” sejati, pria tanpa modal, tanpa daya tawar, dan mungkin satu-satunya pria yang cukup “bodoh” untuk menerima Merry.
Di mata Merry, suaminya adalah pelarian terakhir. Di mata sang suami, Merry adalah beban yang tidak bisa dibuang. Sang suami bukannya tidak tahu istrinya bergelimang aib dan dikelilingi pria lain, dia tahu persis.
Namun, alasan yang menahannya hanyalah kehadiran dua anak mereka. Dia memilih menelan harga diri dan membiarkan rumah tangganya menjadi pajangan kosong, hanya agar kedua buah hatinya tidak harus menanggung hancurnya biduk keluarga.
Merry pun pulang, menelan ludah, dan harus hidup dalam kepahitan yang dia ciptakan sendiri. Namun, jangan mengira dia sudah sadar.
Di balik tembok rumah yang dingin itu, Merry justru sudah sibuk memutar otak, mencari celah, dan menebar jaring tipu daya baru.
Dia tidak pernah menyesal, apalagi bertobat. Baginya, hidup memang hanyalah panggung sandiwara, dan dia sudah tidak sabar untuk kembali berulah. Dasar, urat malunya sudah putus total!
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















