Sebelum Menggeleng…
Disclaimer: Kisah ini adalah fiksi satir yang terinspirasi dari fenomena nyata di media sosial. Kesamaan nama, karakter, atau peristiwa dalam naskah ini bukanlah suatu kebetulan atau tidak disengaja, melainkan bentuk dramatika yang diangkat untuk menjadi cermin bagi kita semua.
Jika naskah ini terasa dekat dengan kehidupan nyata, anggaplah itu sebagai ajakan untuk berefleksi diri. Jangan tersinggung, kalau merasa tersinggung, berarti Anda salah satu pelakunya, hehehe.
Zaman sekarang, kalau tidak punya filter, tidak punya harga diri. Begitulah prinsip hidup Dg Sabar dan Sarah.
Pasangan ini punya dua wajah, wajah asli yang dekil di rumah, dan wajah “halusinasi” di depan kamera live.
Kalau di rumah, jangan harap ketemu sosok sosialita. Sarah itu setia mati dengan daster batik legendaris. Warnanya pudar, penuh noda kuah coto, dan punya lubang ventilasi alami di ketiak.
Rambutnya? Selalu digulung acak-acakan kayak sarang burung yang habis kena angin badai.
Dg Sabar pun sama saja. Kerjanya cuma pakai kolor karet kendor yang kainnya sudah setipis kulit bawang.
Baunya? Campuran antara minyak angin menyengat dan bau apek rumah yang jarang dibuka jendelanya.
- Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
- Cewek BO Vs Burung Beo
Tapi, begitu ring-light dinyalakan, mereka mendadak jadi manusia baru.
Sarah langsung ma’gaya jadi bidadari medsos. Daster bolongnya dibuang, diganti gaun malam ketat yang memamerkan lekuk tubuh.
Wajahnya dipoles sampai glowing bak model papan atas. Suaranya berubah jadi manja halus-halus manja, padahal lima menit sebelumnya dia baru saja teriak kasar gara-gara Dg Sabar lupa beli micin.
Dg Sabar pun tak mau kalah bossku. Dia tampil necis dengan kemeja sutra dan rambut klimis minyak orang-aring, seolah direktur bank yang sedang memantau bursa saham, padahal itu baju hasil cicilan yang belum lunas.
Suatu sore, mereka asyik live jualan baju “premium” dengan latar belakang tirai mewah yang sebenarnya cuma kain sprei yang disetrika asal-asalan.
“Ini bahannya sutra mahal, bossku, adem dipakai, seperti kulit bidadari!” seru Sarah dengan nada yang dibuat-buat. Dg Sabar sibuk mondar-mandir di belakang kamera, pamer jam tangan yang jarumnya saja sudah mati dua tahun lalu.
Tapi, namanya juga pencitraan, sepandai-pandainya ditutupi, pasti bau juga.
Tiba-tiba, kucing tetangga masuk lewat ventilasi dan mengejar tikus. Sarah kaget, refleks melompat, dan menyenggol tripod HP-nya sampai jatuh. HP itu tidak mati, tapi malah berputar arah.
Bukannya menyorot wajah “glowing” Sarah, kamera malah menyorot sudut ruangan yang jadi “markas besar”. Terpampang nyata tumpukan daster batik bolong dan kolor kendor Dg Sabar yang dijemur di atas kursi plastik.
Lebih parah lagi, anak mereka yang ingusan lari ke depan kamera sambil teriak, “Mama, kenapa live pakai baju bagus? Tadi pas makan coto, bajunya daster bolongki, toh?”
Suasana live mendadak sunyi. Comment section yang tadinya penuh pujian, berubah jadi ledakan tawa netizen.
“Aduh, mati! Matikan itu HP!” teriak Sarah histeris. Bukannya mematikan live, dia malah tidak sengaja menekan tombol screenshot dan membagikannya ke story WhatsApp pribadinya.
Dalam hitungan detik, seluruh warga kompleks sudah menonton “kebenaran” di balik layar. Dg Sabar cuma bisa duduk jongkok sambil memegangi pantat kolornya yang tersorot kamera.
Sementara Sarah mati gaya menatap layar yang jumlah penontonnya melonjak drastis, karena mereka sekarang jadi bahan tertawaan se-Makassar.
Bukannya tobat, Dg Sabar malah berbisik, “Dinda, tenang! Jangan dihapus! Biar viral. Besok kita buat konten klarifikasi, bilang itu semua cuma social experiment!”
Memang benar kata orang, gengsi itu mahal, tapi kalau bodoh, itu sudah paket lengkap sejak lahir.
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















