Sebelum Menggeleng…
Disclaimer : Seluruh isi tulisan ini adalah karya fiksi belaka. Nama tokoh, latar tempat, maupun peristiwa yang terjadi di dalamnya hanyalah hasil dramatisasi dan imajinasi kreatif penulis untuk kebutuhan hiburan semata. Segala kemiripan nama, karakter, atau lokasi dengan pihak-pihak tertentu di dunia nyata adalah murni kebetulan belaka dan tidak dimaksudkan untuk menyasar atau menyinggung siapa pun.
Di komplek perumahan Bumi Tamalanrea Permai, Kota Makassar, Daeng Ranca dikenal sebagai pria paruh baya yang paling tinggi gengsinya namun paling rendah tingkat kesabarannya.
Segala hal dalam hidupnya harus terlihat sempurna di mata tetangga, termasuk urusan menyalurkan gairah tersembunyinya.
Setelah berbulan-bulan hanya menjadi penonton setia di pinggir lapangan sambil memandangi orang lain beraksi, Daeng Ranca akhirnya nekat membeli sebuah alat permainan bekas yang dia klaim sebagai kualitas import kelas wahid dari luar negeri, demi memuaskan hasrat terpendamnya.
Hasrat Daeng Ranca malam itu sudah berada di ubun-ubun, hawa dingin setelah hujan membuat keinginannya untuk beraksi menjadi-jadi.
Dia mengundang Marni, istrinya yang malam itu hanya mengenakan daster batik lusuh dengan potongan dada rendah yang memperlihatkan gundukan kulitnya yang sintal, untuk datang menyaksikan keperkasaannya di ruang belakang.
“Malam ini kau akan lihat sendiri dinda bagaimana ketangkasan suamimu ini, perhatikan baik-baik gerakanku karena saya akan melakukan aksi sodok sampai puas tanpa henti sampai semua sasaran masuk tanpa sisa,” bisik Daeng Ranca dengan nada sombong yang menuntut, matanya berkilat penuh gairah liar yang membara.
- Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
- Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
- Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa
- Cewek BO Vs Burung Beo
- Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece
Marni hanya bersendekap, memandangi suaminya dengan tatapan malas bercampur penasaran, “Silakan buktikan suamiku, jangan sampai kau cuma besar cerita di depan orang tapi baru sekali sodok sudah loyo dan minta ampun,” balas Marni menyindir halus dengan senyuman erotis yang memancing harga diri lelaki Daeng Ranca.
Ditantang seperti itu, darah Daeng Ranca langsung mendidih, Dia mengambil posisi membungkuk yang sangat sensual, menata kuda-kuda kakinya dengan pas, lalu menggosok ujung stik biliar tuanya dengan kapur biru secara perlahan dan berulang-ulang, mirip sebuah ritual pemanasan yang sangat intim.
Di depannya, meja biliar tua berkarpet hijau yang baru dia beli sore tadi sudah bergoyang tidak stabil karena salah satu kakinya diganjal potongan triplek.
Daeng Ranca memicingkan mata, membidik bola putih di tengah meja dengan gerakan maju mundur stik yang sangat provokatif, “Bersiaplah dinda, ini sodokan pertama yang akan membuatmu menjerit kagum,” seru Daeng Ranca penuh percaya diri.
Namun, keperkasaan yang digembar-gemborkan Daeng Ranca seketika berubah menjadi petaka komedi yang mengerikan.
Saat tangannya melakukan dorongan kuat alias sodokan maut dengan ritme yang terlalu menggebu-gebu, ujung stiknya meleset dari bola akibat karpet meja yang ternyata sudah bergelombang dan lapuk.
Gagal mengenai sasaran, stik kayu panjang itu justru meluncur deras ke depan tanpa kendali, menghantam keras toples kaca besar berisi air pasang ikan cupang aduan milik anaknya yang dipajang di atas rak dinding tepat di ujung meja.
Toples kaca itu pecah berantakan dengan suara dentuman yang sangat nyaring membelah malam.
Bencana tidak berhenti di situ, air keruh beserta pecahan kaca dan ikan cupang yang panik langsung tumpah ruah membanjiri lantai, Daeng Ranca yang kaget setengah mati mencoba melompat mundur untuk menyelamatkan kakinya.
Namun sial seribu sial, kaki meja biliar yang diganjal triplek itu patah total karena tersenggol tubuh tambunnya. Meja biliar seberat ratusan kilo itu mendadak miring bergeser dan menjepit ujung sarung sutra yang dipakai Daeng Ranca, membuatnya kehilangan keseimbangan.
Daeng Ranca terjatuh telentang di atas pecahan kaca dengan posisi kaki terbuka lebar, menjerit histeris bak orang disembelih, “Adoooooh, pantatku tertusuk kaca dinda, tolong burungku jangan sampai digigit ikan cupang,” teriak Daeng Ranca panik sambil berusaha menutupi bagian depannya yang mendadak terekspos bebas karena sarungnya robek total tersangkut meja.
Marni yang syok melihat suaminya yang tadinya sok perkasa kini menangis meraung-raung di lantai penuh air keruh langsung menjerit histeris memanggil tetangga, mengira ada gempa bumi atau pembunuhan di rumahnya.
Dalam hitungan menit, ruang belakang mereka langsung didobrak oleh Daeng Kulle dan rombongan ronda malam yang datang dengan membawa senter besar.
Pemandangan malam itu sungguh mengundang rasa kasihan yang mendalam sekaligus tawa yang tertahan. Rombongan ronda malam bukannya menemukan maling, malah mendapati Daeng Ranca sedang menangis tersedu-sedu dengan posisi nungging di atas pel.
Sementara istrinya sibuk mencabuti serpihan kaca kecil dari pantat suaminya menggunakan pinset alis di bawah sorotan lampu senter warga.
Penyesalan memang selalu datang belakangan tanpa pernah mengirim pesan singkat terlebih dahulu. Hasrat untuk pamer aksi sodok sampai puas berakhir di atas ranjang puskesmas dengan balutan perban tebal di bagian belakang.
Esok harinya, cerita tentang petaka meja biliar Daeng Ranca langsung menyebar luas dari warung kopi ke warung kopi, menjadikannya bahan lelucon paling segar seantero komplek.
Daeng Ranca kini hanya bisa tiarap pasrah menahan malu seumur hidup, meratapi harga dirinya yang hancur lebur di tangan hobi barunya sendiri, akibat nafsu yang terlalu besar untuk dipuji namun berakhir dengan keapesan yang tiada tara.
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok
Makna dan Pesan Moral di Balik Cerita “Sodok Terus Sampai Puas”
Di balik balutan komedinya yang menggelitik, cerita ini menyimpan tiga pesan moral mendalam yang ingin disampaikan kepada pembaca:
- Sindiran terhadap “Gengsi dan Obsesi Tampil Sempurna”
Daeng Ranca adalah simbol dari tipe manusia yang hidupnya disetir oleh pendapat orang lain.
Dia rela membeli barang bekas yang dipaksakan sebagai “kualitas impor” hanya demi terlihat berkelas di mata tetangga dan istrinya.
Cerita ini mengingatkan kita bahwa mengejar gengsi di luar kemampuan hanya akan berakhir dengan kepanikan dan penderitaan diri sendiri.
- Bahaya “Sok Hebat” (Nafsu Besar, Tenaga Kurang)
Dialog sensual di awal cerita memperlihatkan kesombongan Daeng Ranca yang merasa paling jago dan paling tahu segalanya.
Namun pada kenyataannya, dia tidak menguasai medan, meja biliar lapuk yang diganjal triplek.
Maknanya: Sikap meremehkan persiapan dan terlalu tinggi menyombongkan kemampuan adalah jalan pintas menuju kehancuran yang memalukan.
- Ekspektasi vs. Realita dalam Kehidupan
Judul yang provokatif awalnya menggiring pikiran pembaca ke arah sesuatu yang erotis, namun kenyataannya justru hanyalah permainan biliar yang berakhir tragis bersama toples ikan cupang.
Ini adalah metafora kehidupan: Sesuatu yang terlihat sangat menggiurkan dan menjanjikan kepuasan instan dari luar, sering kali hanyalah jebakan yang ujungnya mendatangkan penyesalan mendalam.
Singkatnya, jangan terlalu sibuk memikirkan cara agar “terlihat hebat” di mata orang lain, sampai lupa mengukur kemampuan diri sendiri, hingga akhirnya harus menanggung malu yang luar biasa.





















