Sebelum Menggeleng…
Tulisan ini menggunakan pendekatan “Fiksi Berbasis Fakta” dengan gaya Urban Noir yang khas. Penulis meminjam metafora untuk menggambarkan realitas yang lebih luas di ruang publik.
Penggunaan diksi yang mungkin terasa “berani” di judul bukanlah bertujuan untuk vulgaritas, melainkan sebuah kiasan untuk menyentil bagaimana kenikmatan kekuasaan sering kali membuat pelakunya lupa diri.
Rubrik “Geleng Kepala” di zonafaktualnews.com memberikan sentuhan yang berbeda dari berita pada umumnya. Penulis menyajikan sebuah katarsis dalam membedah isu dengan cara yang lebih jujur, tanpa tedeng aling-aling.
Disclaimer: Seluruh isi tulisan ini adalah bentuk karya fiksi berbasis fakta yang menggunakan simbol dan metafora. Nama, latar, dan peristiwa di dalamnya merupakan bentuk dramaturgi kreatif yang tidak ditujukan untuk menyerang, menyinggung, atau mendiskreditkan pihak mana pun secara personal maupun institusional.
“Aaahh enak sayang, gele-gele’ki!” Mendengar kalimat itu, otak mungkin langsung melayang ke adegan urusan selangkangan.
Biarkan saja imajinasi itu liar sejenak. Lagipula, bukankah kesenangan terlarang memang selalu punya daya tarik yang sulit ditolak?
Jangan tersinggung jika tulisan ini mengusik. Sebab, ketersinggungan hanyalah tanda bahwa ada sesuatu yang sedang coba disembunyikan, atau memang ada bagian dari sistem yang sedang dibedah di sini.
Mari jujur, perselingkuhan di balik meja kantor hanyalah bunga tidur dibanding “perzinahan” kebijakan yang dilakukan oknum-oknum berkuasa. Di balik pintu-pintu ruang rapat yang terkunci, ada adegan yang jauh lebih sensual yakni negosiasi tukar guling aset dan bagi-bagi jatah proyek.
Di panggung politik Konoha saat ini, rasa “enak” telah bermutasi menjadi sebuah ilusi rasa. Seperti kotoran kucing yang dibalut cokelat premium, tampilannya sangat menggoda, sensual, dan tampak berkelas.
Aaahh, begitu digigit, bau busuknya langsung menusuk kalbu. Semua yang terlibat merasakan geli-geli nikmat, sebuah sensasi euforia sesaat sebelum akuntabilitas benar-benar dikubur dalam senyap.
Perselingkuhan jabatan telah menjadi gaya hidup bagi para aktor. Oknum pejabat memuluskan regulasi, pengusaha menyetor “vitamin” agar roda proyek tetap berputar licin, dan oknum ASN memainkan peran sebagai penghubung yang manis.
Puncaknya, mereka berpelukan dalam kesepakatan gelap, benar-benar lupa bahwa desahan kenikmatan hari ini adalah beban berat bagi rakyat yang harus menelan pil pahit kebijakan tersebut.
Setiap transaksi tukar guling terasa begitu “geli” bagi mereka yang terlibat. Gele-gele’ki. Geli karena uang haram itu terasa begitu memuaskan di kantong, geli karena merasa bisa mengakali sistem tanpa perlu berkeringat.
Ruang-ruang birokrasi Konoha telah berubah menjadi ruang “lendir” privat, di mana para aktornya saling membelai anggaran dan bertukar posisi jabatan, sementara aturan hanya dianggap sebagai pajangan yang tidak bernilai.
Setiap perselingkuhan, baik itu urusan ranjang maupun urusan kebijakan, pasti memiliki masa kedaluwarsa. Bau busuk dari cokelat palsu itu lama-kelamaan akan tercium oleh publik.
Saat skandal itu nanti pecah, saat jalinan “cinta” antara oknum dan proyek-proyeknya terbongkar, tidak ada lagi desahan nikmat yang tersisa. Yang ada hanyalah rasa geli yang berubah menjadi kecemasan luar biasa saat pintu ruang pemeriksaan terbuka lebar.
Dunia ini panggung sandiwara, dan sandiwara tersebut dimainkan dengan sangat lihai oleh orang-orang yang merasa tak tersentuh.
Gele-gele’ki? Nikmati saja geli itu selama masih bisa, sebelum realita menghantam dengan cara yang paling tidak menyenangkan.
Permainan selesai, topeng terbuka, dan hukum akan memastikan siapa yang tertawa terakhir.
Pada akhirnya, tulisan ini croott dengan sendirinya, meninggalkan para aktor yang menggigil ketakutan saat lampu panggung disorot tepat ke wajah mereka.
Aaahh, geli-geli nikmat itu ternyata hanyalah kiasan, sebuah jebakan syahwat kekuasaan yang berujung pada klimaks kehancuran yang memalukan.
Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















