Awalnya Sakit, Lama-lama Juga Enak

Selasa, 7 Juli 2026 - 02:59 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Awalnya Sakit, Lama-lama Juga Enak

Visual dibuat dengan AI

Sebelum Menggeleng…

Tulisan ini menggunakan pendekatan “Fiksi Berbasis Fakta” yang dibalut dalam realitas urban. Penulis sengaja meminjam metafora liar bukan untuk sekadar memancing sensasi, melainkan untuk menelanjangi pola pikir di mana kenikmatan, baik itu nafsu maupun kekuasaan, kerap membuat pelakunya kehilangan orientasi.

Rubrik “Geleng Kepala” di zonafaktualnews.com ini hadir sebagai cermin retak bagi siapa saja yang masih merasa kebal terhadap moralitas. Penulis menyajikan sebuah otopsi sosial dengan cara yang jujur, tanpa tedeng aling-aling, untuk menunjukkan bagaimana perilaku “di bawah perut” sering kali menjadi indikator utama keruntuhan integritas seseorang di ruang publik.

Kita tidak sedang mendiskusikan cinta; kita sedang membincangkan bagaimana rasa malu telah berhasil dikuliti hingga tak bersisa. Ketika batasan nilai yang dulunya sakral kini bisa ditukar dengan kenyamanan sesaat, di situlah sistem pertahanan martabat manusia benar-benar runtuh dan tak lagi menyisakan harga diri.

Bagi Dg. Tojeng, usia hanyalah angka yang bisa dipoles dengan parfum murah dan kemeja yang dikancingkan lebih rendah untuk memamerkan bulu dada yang mulai memutih.

Sebagai pria yang sudah khatam asam-garam dunia gelap Makassar, urusan “bawah perut” adalah satu-satunya instrumen yang masih sanggup memompa adrenalinnya.

Dg. Tojeng bukan pemain amatir, koleksinya rapi. Ani hanyalah satu dari empat selingkuhan yang ia pelihara.

Selebihnya? Ada janda-janda yang kesepian, yang selalu siap menunggu giliran Dg. Tojeng datang untuk melakukan kegiatan “bercocok tanam” di lahan yang bukan hak miliknya.

BACA JUGA :  Bentrok Sengketa Lahan di Panakkukang Makassar, Tiga Kubu Saling Serang

Ani, seorang oknum ASN yang terikat janji suci di rumah, adalah target yang paling menantang sekaligus paling memuaskan.

Di balik seragam korps yang kaku, Ani menyimpan api yang siap membakar siapa saja yang tahu cara memantik sumbunya.

Pertemuan mereka di sebuah hotel di pinggiran Makassar adalah skenario klasik. Ani yang bosan dengan suaminya, menemukan dalam diri Dg. Tojeng pria yang mampu memuaskan lapar yang selama ini ia tekan di balik tumpukan berkas dinas.

Di balik pintu kamar yang terkunci rapat, Dg. Tojeng selalu merasa sedang dalam performa terbaik. Begitu melihat lekuk tubuh Ani yang menggoda, senjata Dg. Tojeng yang awalnya berukuran “L”, seketika menegang hebat menjadi “XL”.

Nafsu itu langsung konak tanpa kompromi, menuntut untuk segera disalurkan. Tanpa basa-basi, mereka langsung terjun ke dalam ritual yang sudah jadi rutinitas panas tersebut.

Ada suara-suara yang tertahan, gesekan yang tak wajar, hingga kemudian terdengar jeritan yang sengaja disamarkan.

“Awalnya sakit, Dg… tapi lama-lama juga enak,” bisik Ani dengan napas yang memburu, menyiratkan bahwa batas antara norma dan nafsu sudah lama mereka injak-injak.

Dg. Tojeng hanya tersenyum puas, merasa dunia sedang berada dalam genggamannya. Ia merasa jadi raja dengan empat selingkuhan yang siap melayani kapan pun ia merasa “lapar”.

BACA JUGA :  Pelayanan PDAM Makassar Buruk, Aduan Krisis Air Warga di Toddopuli Tak Digubris

Mereka berdua terjebak dalam delusi bahwa rahasia ini akan abadi selama pintu kamar tetap terkunci, sementara tiga janda lainnya menunggu giliran di antrean berikutnya.

Namun, setiap perbuatan pasti menyisakan jejak. Dinding hotel memang bisa meredam suara, tapi tidak bisa menyembunyikan kebusukan dari mata orang banyak. Arogansi mereka menjadi bumerang, rasa percaya diri yang berlebihan membuat mereka lalai menutup celah.

Tak butuh waktu lama sebelum kenyataan pahit itu menghancurkan hidup mereka. Jejak digital yang ceroboh, foto-foto yang tidak sengaja terkirim, hingga laporan dari orang terdekat yang mencium bau busuk perselingkuhan itu menyebar ke ruang publik.

Suami Ani akhirnya menyadari ada yang tak beres dengan sang istri yang sering pulang malam, sementara keluarga Dg. Tojeng tidak lagi bisa menampung perilaku sang kepala keluarga yang hobi “bercocok tanam” di ladang orang lain.

Sanksi kedisiplinan yang memecat kehormatan Ani sebagai ASN sekaligus membongkar aib keluarga Dg. Tojeng ke publik menjadi klimaks dari semua ini.

Kini, tidak ada lagi kenyamanan. Ani kehilangan karier yang dibangun bertahun-tahun dan dicerai oleh suaminya. Dg. Tojeng mendapati dirinya terasing, dibuang oleh istri dan anak-anaknya, serta ditinggal oleh para janda yang takut ikut terseret dalam skandalnya.

BACA JUGA :  Terendus Kabar, 2 Ustaz Senior TPA Babussalam Borong Dilaporkan Oknum Guru Ngaji

Pada akhirnya, sensasi “enak” yang mereka kejar hanyalah fatamorgana. Rasa sakit yang dulunya mereka anggap sebagai bumbu “bercocok tanam”, kini menetap menjadi penyesalan yang tidak akan pernah bisa disembuhkan.

Dg. Tojeng yang dulu merasa paling jumawa dengan senjata yang selalu siap tempur, kini hanya bisa meratapi sisa kejayaannya yang layu sebelum waktunya, terkucil, dan habis tak bersisa.

Sebab begitulah hukum bermain api. Awalnya memang sakit, lama-lama memang terasa enak sampai membuat lupa diri, tapi pada akhirnya, kenikmatan itu hanyalah jebakan batman yang siap memutus urat nadi kehormatan di saat sedang asyik-asyiknya konak.

Penulis : Ibhe Ananda
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Disclaimer: Seluruh isi tulisan ini adalah bentuk karya fiksi berbasis fakta yang menggunakan simbol dan metafora kreatif. Nama-nama dalam peristiwa tersebut sengaja diganti demi privasi. Seluruh latar dan peristiwa di dalamnya merupakan bentuk dramaturgi yang tidak ditujukan untuk menyinggung, menyerang, atau mendiskreditkan pihak mana pun secara personal maupun institusional.

Berita Terkait

Kosmetik Merkuri Firfin Glowing hingga RD Viral Disikat, Owner NF Ditahan
Putusan MK Buka Jalan Pemakzulan, Denny Dorong DPR Impeachment Gibran
Putusan MK Gagal Puaskan Publik, Prof Henri Sentil Polemik Ijazah Jokowi
Mahfud MD Sebut Wantimpres Lembaga Tak Berguna, Ruang Bicara Terkekang
PDIP Diminta Tebus Dosa Politik, Segera Eksekusi Gibran Mundur Lewat DPR
Diduga Terpengaruh Tekanan, 9 Hakim MK Diadukan Terkait Kasus Gibran
Polisi Sikat Tujuh Anggota Geng Motor yang Kerap Meneror Warga di Gowa
Sindir Putusan MK, F-KRB: Gibran Ukir Sejarah Jadi Wapres Pertama Tanpa Ijazah SMA

Berita Terkait

Jumat, 9 Oktober 2026 - 15:08 WITA

Kosmetik Merkuri Firfin Glowing hingga RD Viral Disikat, Owner NF Ditahan

Jumat, 9 Oktober 2026 - 02:28 WITA

Putusan MK Buka Jalan Pemakzulan, Denny Dorong DPR Impeachment Gibran

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:13 WITA

Putusan MK Gagal Puaskan Publik, Prof Henri Sentil Polemik Ijazah Jokowi

Kamis, 8 Oktober 2026 - 13:34 WITA

Mahfud MD Sebut Wantimpres Lembaga Tak Berguna, Ruang Bicara Terkekang

Kamis, 8 Oktober 2026 - 12:35 WITA

PDIP Diminta Tebus Dosa Politik, Segera Eksekusi Gibran Mundur Lewat DPR

Berita Terbaru