Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik

Jumat, 15 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indri Wahyuni, Juri LCC Empat Pilar MPR RI (Tangkapan layar video)

Indri Wahyuni, Juri LCC Empat Pilar MPR RI (Tangkapan layar video)

Dalam dunia komunikasi, artikulasi memang krusial, namun ia bukanlah “tuhan” yang menentukan segalanya.

Teknik berbicara adalah sebuah ansambel; ia melibatkan volume, intonasi, jeda, hingga infleksi.

Artikulasi hanyalah soal kejelasan pelafalan, seperti memastikan kata “ADIL” terdengar tegas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika aspek teknis vokal ini dijadikan alat utama untuk menjatuhkan mental peserta LCC, di sanalah letak kegagalannya. Inilah ironi perundungan berdalih artikulasi yang dipertontonkan ke publik.

Sangat tidak adil menjadikan artikulasi sebagai variabel penentu dalam Lomba Cerdas Cermat. Jika ini lomba pidato atau public speaking, tuntutan kualitas vokal layaknya penyiar profesional mungkin masuk akal.

BACA JUGA :  Jarang Bertemu, Sekali Ketemu Kakak Embat Adik Kandung

Sedangkan esensi LCC sejatinya terletak pada ketepatan jawaban dan kecepatan berpikir, bukan adu indah suara atau kesempurnaan lidah.

Faktor cadel, aksen daerah, hingga kualitas mikrofon yang buruk seharusnya tidak boleh membegal poin siswa yang secara substansi sudah menjawab benar.

Publik menangkap aroma intimidasi yang menyengat ketika juri secara berlebihan mempermasalahkan artikulasi anak sekolah.

BACA JUGA :  Viral Video Perundungan Siswa SMP Negeri 3 Sungguminasa Gowa

Perlu ditegaskan: panggung LCC bukan ruang sidang bagi terdakwa, melainkan ruang tumbuh bagi peserta didik.

Tugas juri bukan sekadar menghakimi, melainkan menjaga mental dan semangat anak-anak ini agar tidak patah di tengah jalan.

Ketegasan tanpa empati hanyalah bentuk kesombongan otoritas yang nihil nilai pendidikan.

Puncak ironi terjadi saat kejujuran dikalahkan oleh standar ganda. Publik meledak dalam amarah bukan karena masalah teknis semata, melainkan karena melihat seorang anak yang menjawab benar justru “dihukum”, sementara jawaban yang dinilai copy-paste oleh netizen malah dipuja.

BACA JUGA :  Prahara “Si Paling Artikulasi”, Juri LCC MPR RI Dihujat Usai Begal Nilai Siswa

Ini bukan lagi soal lomba, melainkan soal rasa keadilan yang terluka dan cara orang dewasa yang secara tidak bijak mempertontonkan “perundungan” hak intelektual di depan umum.

 

Penulis : Ibhe Ananda
Dewan Pendiri Serikat Insan Media
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Pengendali Sabu Medan-Makassar Tak Dituntut, Nama Andido Tak Masuk Berkas JPU
Tak Puas Dibui, Kakak Korban Penyekapan Minta Mata Taufik Sontoloyo Dicungkil
14 Kapolres di Sulsel Dikocok Ulang, Gowa, Maros hingga Toraja Ganti Nakhoda
40 Tahun Mengabdi, Guru Ijah Jadi Simbol Kesenjangan dalam Realisasi Anggaran MBG
Polisi Kejar Geng Motor Pengeroyok Selebgram di Jalan Sudirman Makassar
Anak SD dan SMP Ketakutan, Ibu di Parepare Ngaku Disorot Flash HP Oknum Polisi
Cabuli Bocah Tetangga, Pemuda di Makassar Nyaris Tewas Dihakimi Massa
Hak Angket Gowa ‘Tersandera Drama Politik’, Dosa Pribadi Diulik dan Dipertontonkan

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 20:13 WITA

Pengendali Sabu Medan-Makassar Tak Dituntut, Nama Andido Tak Masuk Berkas JPU

Minggu, 28 Juni 2026 - 02:06 WITA

Tak Puas Dibui, Kakak Korban Penyekapan Minta Mata Taufik Sontoloyo Dicungkil

Sabtu, 27 Juni 2026 - 23:05 WITA

14 Kapolres di Sulsel Dikocok Ulang, Gowa, Maros hingga Toraja Ganti Nakhoda

Sabtu, 27 Juni 2026 - 13:08 WITA

40 Tahun Mengabdi, Guru Ijah Jadi Simbol Kesenjangan dalam Realisasi Anggaran MBG

Jumat, 26 Juni 2026 - 16:21 WITA

Polisi Kejar Geng Motor Pengeroyok Selebgram di Jalan Sudirman Makassar

Berita Terbaru