Dalam dunia komunikasi, artikulasi memang krusial, namun ia bukanlah “tuhan” yang menentukan segalanya.
Teknik berbicara adalah sebuah ansambel; ia melibatkan volume, intonasi, jeda, hingga infleksi.
Artikulasi hanyalah soal kejelasan pelafalan, seperti memastikan kata “ADIL” terdengar tegas.
Ketika aspek teknis vokal ini dijadikan alat utama untuk menjatuhkan mental peserta LCC, di sanalah letak kegagalannya. Inilah ironi perundungan berdalih artikulasi yang dipertontonkan ke publik.
Sangat tidak adil menjadikan artikulasi sebagai variabel penentu dalam Lomba Cerdas Cermat. Jika ini lomba pidato atau public speaking, tuntutan kualitas vokal layaknya penyiar profesional mungkin masuk akal.
Sedangkan esensi LCC sejatinya terletak pada ketepatan jawaban dan kecepatan berpikir, bukan adu indah suara atau kesempurnaan lidah.
Faktor cadel, aksen daerah, hingga kualitas mikrofon yang buruk seharusnya tidak boleh membegal poin siswa yang secara substansi sudah menjawab benar.
Publik menangkap aroma intimidasi yang menyengat ketika juri secara berlebihan mempermasalahkan artikulasi anak sekolah.
Perlu ditegaskan: panggung LCC bukan ruang sidang bagi terdakwa, melainkan ruang tumbuh bagi peserta didik.
Tugas juri bukan sekadar menghakimi, melainkan menjaga mental dan semangat anak-anak ini agar tidak patah di tengah jalan.
Ketegasan tanpa empati hanyalah bentuk kesombongan otoritas yang nihil nilai pendidikan.
Puncak ironi terjadi saat kejujuran dikalahkan oleh standar ganda. Publik meledak dalam amarah bukan karena masalah teknis semata, melainkan karena melihat seorang anak yang menjawab benar justru “dihukum”, sementara jawaban yang dinilai copy-paste oleh netizen malah dipuja.
Ini bukan lagi soal lomba, melainkan soal rasa keadilan yang terluka dan cara orang dewasa yang secara tidak bijak mempertontonkan “perundungan” hak intelektual di depan umum.
Penulis : Ibhe Ananda
Dewan Pendiri Serikat Insan Media
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok



















