Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:47 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Indri Wahyuni, Juri LCC Empat Pilar MPR RI (Tangkapan layar video)

Indri Wahyuni, Juri LCC Empat Pilar MPR RI (Tangkapan layar video)

Dalam dunia komunikasi, artikulasi memang krusial, namun ia bukanlah “tuhan” yang menentukan segalanya.

Teknik berbicara adalah sebuah ansambel; ia melibatkan volume, intonasi, jeda, hingga infleksi.

Artikulasi hanyalah soal kejelasan pelafalan, seperti memastikan kata “ADIL” terdengar tegas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketika aspek teknis vokal ini dijadikan alat utama untuk menjatuhkan mental peserta LCC, di sanalah letak kegagalannya. Inilah ironi perundungan berdalih artikulasi yang dipertontonkan ke publik.

Sangat tidak adil menjadikan artikulasi sebagai variabel penentu dalam Lomba Cerdas Cermat. Jika ini lomba pidato atau public speaking, tuntutan kualitas vokal layaknya penyiar profesional mungkin masuk akal.

BACA JUGA :  Viral! Perundungan di SMK Gorontalo, Siswa Terkapar dan Dianiaya Usai Pesta Miras

Sedangkan esensi LCC sejatinya terletak pada ketepatan jawaban dan kecepatan berpikir, bukan adu indah suara atau kesempurnaan lidah.

Faktor cadel, aksen daerah, hingga kualitas mikrofon yang buruk seharusnya tidak boleh membegal poin siswa yang secara substansi sudah menjawab benar.

Publik menangkap aroma intimidasi yang menyengat ketika juri secara berlebihan mempermasalahkan artikulasi anak sekolah.

BACA JUGA :  Iblis, Bapak Perawani Anak Kandung hingga Hamil 7 Bulan

Perlu ditegaskan: panggung LCC bukan ruang sidang bagi terdakwa, melainkan ruang tumbuh bagi peserta didik.

Tugas juri bukan sekadar menghakimi, melainkan menjaga mental dan semangat anak-anak ini agar tidak patah di tengah jalan.

Ketegasan tanpa empati hanyalah bentuk kesombongan otoritas yang nihil nilai pendidikan.

Puncak ironi terjadi saat kejujuran dikalahkan oleh standar ganda. Publik meledak dalam amarah bukan karena masalah teknis semata, melainkan karena melihat seorang anak yang menjawab benar justru “dihukum”, sementara jawaban yang dinilai copy-paste oleh netizen malah dipuja.

BACA JUGA :  DPR RI Desak MPR Tetapkan Narkotika Sebagai Bahaya Laten Bangsa

Ini bukan lagi soal lomba, melainkan soal rasa keadilan yang terluka dan cara orang dewasa yang secara tidak bijak mempertontonkan “perundungan” hak intelektual di depan umum.

 

Penulis : Ibhe Ananda
Dewan Pendiri Serikat Insan Media
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Dg Beddu Apes! Minta 5+5=10, Dikasih Jalan 6×2+10-2-11+1=10
Kejari Ekspose Kasus Korupsi Jalan Beton PUPR Parepare 2025
Anak Jahanam di Kuningan Bunuh Ibu Kandung hanya karena Dibangunkan Salat
Rugikan Negara Rp223,6 Miliar, KPK Jebloskan 4 Tersangka Iklan Bank BJB
Asyik Berdua Saat Suami Kerja, Istri di Bone dan Selingkuhan Digerebek Warga
Sultan Brunei Lucuti Gelar Kebangsawanan Istri Pangeran Abdul Malik
2 Tahun Hilang, Gadis Wajo Ternyata Dibunuh Sopir Travel Pakai Kunci Roda
Dg Kuttu Tertipu Janda Glowing, Wajah Putih, Leher Hitam

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 12:31 WITA

Dg Beddu Apes! Minta 5+5=10, Dikasih Jalan 6×2+10-2-11+1=10

Kamis, 13 Agustus 2026 - 00:12 WITA

Kejari Ekspose Kasus Korupsi Jalan Beton PUPR Parepare 2025

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:41 WITA

Anak Jahanam di Kuningan Bunuh Ibu Kandung hanya karena Dibangunkan Salat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:04 WITA

Rugikan Negara Rp223,6 Miliar, KPK Jebloskan 4 Tersangka Iklan Bank BJB

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:03 WITA

Asyik Berdua Saat Suami Kerja, Istri di Bone dan Selingkuhan Digerebek Warga

Berita Terbaru

Visual dibuat dengan AI

Geleng Kepala

Dg Beddu Apes! Minta 5+5=10, Dikasih Jalan 6×2+10-2-11+1=10

Kamis, 13 Agu 2026 - 12:31 WITA