Penegakan Hukum Dipertanyakan, “Sadbor” Dijerat, Artis Bebas Melenggang?

Sabtu, 9 November 2024 - 00:51 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Penegakan Hukum Dipertanyakan, “Sadbor” Dijerat, Artis Bebas Melenggang?

Artis promosikan judi online/Ilustrasi

Zonafaktualnews.com –  Penegakan hukum terhadap kasus promosi judi online kembali menjadi sorotan publik.

Anggota Komisi III DPR RI, Martin Tumbeleka, mendesak kepolisian untuk berlaku adil dan transparan dalam menindak figur publik yang terlibat dalam aktivitas ini, termasuk artis dan influencer.

“Penegakan hukum harus adil, termasuk terhadap public figure yang terlibat dalam aktivitas judi online. Banyak artis, influencer, dan selebgram yang kemarin sempat diperiksa, tetapi kasusnya tidak jelas,” ujar Martin di Jakarta, Jumat (8/11/2024).

Kasus ini kembali mencuat setelah penangkapan Tiktoker asal Sukabumi, Gunawan alias Sadbor, yang terkenal dengan joget “ayam patuk”. Ia ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus judi online dan menghadapi ancaman hukuman hingga 10 tahun penjara.

BACA JUGA :  Laut di Tanakeke Hancur, Polres Takalar “Tidur Nyenyak” di Tengah Ledakan Bom Ikan

Namun, Martin menyoroti ketimpangan dalam penegakan hukum.

“Sadbor memang bersalah karena mempromosikan judi online, tapi yang lebih besar kesalahannya masih banyak yang belum diusut. Aparat jangan hanya tegas kepada masyarakat kecil, sementara artis yang terlibat tetap bebas melenggang,” tegasnya.

Artis dan Influencer Belum Ditindak Tegas

Martin juga mengungkapkan kekhawatiran bahwa banyak masyarakat terpengaruh oleh artis yang mempromosikan judi online.

“Banyak masyarakat yang terjebak karena percaya pada artis yang mereka idolakan. Mereka mengira perjudian itu sah atau legal hanya karena dipromosikan oleh nama-nama besar,” katanya.

Beberapa artis dan influencer telah dipanggil untuk dimintai keterangan oleh penyidik, termasuk nama-nama terkenal seperti pedangdut Cupi Cupita, Wulan Guritno, dan Yuki Kato. Namun, hingga kini, penegakan hukum terhadap mereka dinilai tidak setegas kepada Sadbor.

BACA JUGA :  F-KRB Apresiasi Kapolda Sulsel atas Pemberantasan Kosmetik Berbahaya

“Usut dan tindak juga public figure yang terlibat dalam promosi judi online. Masyarakat sudah teriak-teriak meminta hukum yang adil bagi semua,” tambah Martin.

Dampak Judi Online yang Mengkhawatirkan

Data dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mencatat nilai transaksi judi daring mencapai Rp600 triliun pada kuartal I tahun 2024, meningkat 83,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Judi online juga berdampak pada peningkatan angka kemiskinan, yang mencapai 25,9 juta penduduk pada Maret 2023, menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

“Masalah judi online ini sudah sangat meresahkan. Penindakan tegas harus dilakukan tanpa pandang bulu untuk menjaga integritas hukum dan kepercayaan masyarakat,” pungkas Martin.

BACA JUGA :  Razia Plat Aceh Dinilai Ilegal, Komisi III DPR RI Desak Polisi Tangkap Gubernur Bobby

Tuntutan Transparansi dan Keadilan

Aksi penangkapan Sadbor menjadi pengingat bahwa penegakan hukum tidak boleh tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.

Publik dan legislator mendesak agar semua pihak yang terlibat, tanpa terkecuali, diusut secara adil.

“Kepercayaan masyarakat terhadap proses hukum hanya akan terjaga jika semua pihak yang bersalah mendapat perlakuan yang sama di depan hukum,” tutup Martin

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di Google News

Berita Terkait

Ekspor Gas Dibatasi, Politikus Singapura Ancam Potong Kabel Internet Indonesia
Jimly Usul Ijazah Capres Dihapus, Netizen Sindir Terapkan di Semua Lembaga
KPK Siap Terbitkan Surat Jemput Paksa Nusron Wahid yang Masih Ngumpet
KPK Tolak “Bisikan” Luhut ke Prabowo Soal Penghapusan Kerugian Negara
Letkol Arman Ditahan Buntut Rumah Dinas TNI di Cijantung Jadi Markas Judol
Karhutla Tak Ditetapkan Bencana Nasional, Menko Polkam Sebut RI Masih Sanggup
2 Kali Ngumpet dari Panggilan KPK, Nusron Wahid Terancam Dijemput Paksa
Indonesia Terancam Digugat Malaysia, Imbas Kabut Asap Karhutla Makin Parah