Dirty Vote: Jokowi Salurkan Bansos, Kerahkan Polisi dan Tekan Kades

Minggu, 11 Februari 2024 - 17:26 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Dirty Vote: Jokowi Salurkan Bansos, Kerahkan Polisi dan Tekan Kades

Film dokumenter Dirty Vote

Zonafaktualnews.com – Film dokumenter bertajuk Dirty Vote viral di media sosial, Minggu (11/2/2024).

Film yang disutradarai oleh Dandy Laksono ini mengungkap soal dugaan kecurangan Pemilu 2024.

Dalam dokumenter Dirty Vote, Presiden Jokowi diduga mengerahkan lembaga negara untuk membantu kemenangan capres Prabowo Subianto dan cawapres Gibran Rakabuming Raka, anak sulungnya.

Rentetan dugaan kecurangan dipaparkan tiga ahli hukum tata negara, yaitu Bivitri Susanti, Zainal Arifin Mochtar, dan Feri Amsari.

Salah satu isu yang disorot dalam film ini adalah dugaan penyalahgunaan wewenang oleh kepala desa.

Ahli hukum tata negara, Zainal Arifin menyebut, desa menjadi wilayah pertarungan untuk memperebutkan suara.

Dia mengatakan ada sejumlah wewenang kepala desa (kades) yang bisa disalahgunakan.

BACA JUGA :  Rocky Sebut Jokowi Tak Ngerti Pancasila, Bengis Akan Kekuasaan

Hal itu meliputi data pemilih, penggunaan dana desa, data penerima bantuan sosial (Bansos), Program Keluarga Harapan (PKH), dan bantuan langsung tunai atau BLT, serta wewenang alokasi Bansos.

“Kasus penyelewenangan dana desa sangat mungkin dikonversi menjadi alat tukar dukungan politik,” kata Zainal.

Dari sekian banyak sektor tindak pidana korupsi (tipikor) sepanjang 2022,  kata Zainal kasus terbesar ada pada Anggaran Pendapaan Belanja Desa atau APBDes.

Oleh karena itu, ia mengatakan fenomena ini sangat mungkin menjadi bagian untuk menekan kepala desa yang bermasalah, dibarter dengan dukungan politik.

Caranya, dengan memberi imbalan untuk tidak melanjutkan proses hukum kepala desa tersebut.

“Kami merekam kesaksian kepala desa yang diminta memenangkan paslon tertentu,” kata Zainal.

BACA JUGA :  Kaesang Terpilih Lagi, Pengamat Sebut PSI Jadi Wajah Dinasti Politik Jokowi

Dirty Vote menampilkan rekaman suara dari kepala desa tersebut. Dengan identitas yang disamarkan, kades itu bersaksi bahwa ada tekanan dari kubu pasangan capres-cawapres 02, Prabowo-Gibran, dan 03, Ganjar Pranowo-Mahfud MD.

Dalam kesaksiannya, ia menyebut tekanan dari kubu 02 berupa arahan untuk membentuk teknis penyaluran bantuan beras secara tiba-tiba.

“Itu sangat tiba-tiba dan datanya entah dari mana. Tidak sesuai dengan data kemiskinan di desa,” kata kepala desa itu.

Walhasil, bantuan itu menjadi polemik di desa.

“Kami, kepala desa di paguyuban bingung. Kami yang repot sendiri karena itu tidak sesuai data kebutuhan di desa,” katanya.

Tak cuma itu, ia mengaku dihubungi pihak kepolisian yang meminta izin penggunaan balai desa untuk deklarasi dukungan Capres-Cawapres 02.

BACA JUGA :  Jokowi Dukung KPU Banding, Pemilu 2024 Tetap Akan Digelar

Ia juga berujar ada beberapa kepala desa tersangkut korupsi dan menjadi sasaran.

“Kita (kami) senantiasa diawasi Polda,” katanya.

Kepala desa juga diminta menyiapkan laporan penggunaan dana desa dari tahun 2021 hingga 2023.

Sementara itu,  ia berujar, tekanan dari kubu Capres-Cawapres 03 Ganjar Pranowo-MahfdMD berupa arahan langsung dari bupati untuk memenangkan Capres-Cawapres 03.

Bahkan, ditargetkan mendapat suara minimal 50 persen plus 1 untuk kemenangan 03 di satu desa.

“Itu melaui camat. Camat menghubungi paguyuban kepala desa,” pungkasnya

 

 

Editor : Id Amor

Berita Terkait

Kanit dan Penyidik “Dibuang” ke Polsek Usai Tangkap Politisi Gerindra Nyabu
Sentil Bahaya IPO Paksaan, Mintarsih Dukung Polri Sikat Penggoreng Saham
Pembalut Wanita “Dipalak” PPN 11 Persen, Pemerintah Diminta Kaji Ulang
Ekspor Gas Dibatasi, Politikus Singapura Ancam Potong Kabel Internet Indonesia
Jimly Usul Ijazah Capres Dihapus, Netizen Sindir Terapkan di Semua Lembaga
KPK Siap Terbitkan Surat Jemput Paksa Nusron Wahid yang Masih Ngumpet
KPK Tolak “Bisikan” Luhut ke Prabowo Soal Penghapusan Kerugian Negara
Letkol Arman Ditahan Buntut Rumah Dinas TNI di Cijantung Jadi Markas Judol