Mahfud Sindir Ketua KPU Asusila: Istri-Anak Saja Dibohongi, Apalagi Rakyat

Jumat, 12 Juli 2024 - 07:13 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Ketua KPU Asusila bersama Prabowo-Gibran (Ist)

Ketua KPU Asusila bersama Prabowo-Gibran (Ist)

Zonafaktualnews.com – Mahfud MD, menyindir atas pemecatan Ketua KPU Hasyim Asy’ari akibat kasus asusila.

Dalam sindirannya, Mahfud mengatakan seorang pemimpin yang berani membohongi keluarganya tidak akan segan-segan membohongi rakyat.

“Jika seseorang berani melanggar moral, membohongi istri dan anaknya, dia pasti berani melakukan apa saja untuk membohongi rakyat Indonesia,” ujar Mahfud dalam podcast Terus Terang Mahfud MD yang disimak pada Jumat (12/7/2024).

Mahfud mengingatkan bahwa kasus asusila ini bukanlah masalah sederhana. Menurutnya, tindakan Hasyim Asy’ari berulang kali terlibat dalam perzinahan menambah bobot pelanggaran moral yang dilakukan.

BACA JUGA :  Mahfud MD Buka Borok MBG, Makan Cuma Rp34 Miliar, Sisanya ke Mobil dan Kaos

“Ini bukan hanya sekali, tapi berkali-kali. Jika ketua KPU sebelumnya terlibat dengan Wanita Emas, ini menunjukkan bahwa pelanggaran tersebut bukan kejadian sepele,” tambahnya.

Mahfud juga menyoroti dampak dari sistem demokrasi saat ini yang memberikan banyak kekuasaan kepada DPR dalam proses pemilihan pejabat tinggi negara.

“Pada era Reformasi, DPR memiliki peran besar dalam pengangkatan pejabat seperti Hakim Agung, anggota KPU, dan Komnas HAM. Namun, ini juga membuka peluang untuk lobi-lobi politik dan trade-off,” jelasnya.

BACA JUGA :  Penjahat Kelamin itu Bernama Hasyim Asyari

Menurut Mahfud, adanya praktik tawar-menawar dengan partai politik dalam pemilihan pejabat tinggi ini menjadi salah satu penyebab terpilihnya individu yang tidak bermoral untuk memimpin lembaga negara.

“Dalam proses pemilihan, ada banyak lobi dan janji. Mereka bisa menjanjikan sesuatu untuk mendapatkan posisi, dan ini yang menjadi masalah besar dalam demokrasi kita,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa pemilihan pejabat tinggi negara harus dilakukan dengan mempertimbangkan integritas dan moralitas kandidat. “Kita butuh pemimpin yang tidak hanya cakap secara teknis, tapi juga bermoral tinggi,” tegasnya.

BACA JUGA :  Komika Abdur Cubit Gibran : Capek-capek Bayar Pajak Disamakan Binatang

Menutup pernyataannya, Mahfud menekankan bahwa meskipun hasil kerja ketua lembaga negara harus diterima, tetap ada keraguan jika pemimpinnya tidak bermoral.

“Kita harus menerima hasil kerja mereka, meskipun mereka dipilih oleh orang yang tidak bermoral. Namun, ini tidak boleh dibiarkan terus terjadi,” pungkasnya.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di Google News

Berita Terkait

Eks Projo Tuding Jokowi Otak di Balik Ucapan Liar Budi Arie Soal Prabowo
Aktivis 98 Sebut Manuver Budi Arie di Depan Jokowi Sinyal Lengserkan Prabowo
Pejabat di Gowa Nyemrempet Politik Praktis di Tengah Polemik DPRD dan Bupati
Rumor Perjanjian Rahasia Prabowo–Jokowi ‘Bocor’, Benarkah Ada Kesepakatan?
Survei Capres 2029 Diduga Bocor, Dedi Mulyadi Salip Prabowo dan Anies
Ambisi PSI Jadikan Jateng Kandang Gajah Berat Meski Andalkan Pesona Jokowi
Jokowi Injak Kepala Kerbau, Pengamat Tafsirkan Simbol Menantang Megawati
Hak Angket Gowa ‘Tersandera Drama Politik’, Dosa Pribadi Diulik dan Dipertontonkan

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 11:16 WITA

Eks Projo Tuding Jokowi Otak di Balik Ucapan Liar Budi Arie Soal Prabowo

Kamis, 27 Agustus 2026 - 02:01 WITA

Aktivis 98 Sebut Manuver Budi Arie di Depan Jokowi Sinyal Lengserkan Prabowo

Minggu, 16 Agustus 2026 - 01:58 WITA

Pejabat di Gowa Nyemrempet Politik Praktis di Tengah Polemik DPRD dan Bupati

Kamis, 6 Agustus 2026 - 00:57 WITA

Rumor Perjanjian Rahasia Prabowo–Jokowi ‘Bocor’, Benarkah Ada Kesepakatan?

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:18 WITA

Survei Capres 2029 Diduga Bocor, Dedi Mulyadi Salip Prabowo dan Anies

Berita Terbaru