Survei Capres 2029 Diduga Bocor, Dedi Mulyadi Salip Prabowo dan Anies

Rabu, 29 Juli 2026 - 22:18 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Survei Capres 2029 Diduga Bocor, Dedi Mulyadi Salip Prabowo dan Anies

Dedi Mulyadi, Prabowo Subianto, dan Anies Baswedan dalam ilustrasi hasil simulasi 32 nama yang tercantum pada dokumen survei capres 2029 yang beredar. Indikator Politik Indonesia menyatakan dokumen tersebut bukan rilis resmi. (Visual AI)

Ringkasan

Dokumen PDF yang diklaim sebagai hasil survei capres-cawapres 2029 beredar luas dan memuat simulasi elektabilitas sejumlah tokoh nasional. Isinya menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas, diikuti Prabowo Subianto dan Anies Baswedan, serta mencantumkan survei 14–24 Juli 2026 dengan 4.250 responden.

Indikator Politik Indonesia membantah dokumen itu sebagai publikasi resmi. Lembaga tersebut menyatakan hasil survei resmi hanya dipublikasikan melalui kanal resminya, sehingga keabsahan data yang beredar belum dapat dipastikan.

Zonafaktualnews.com – Dokumen yang diklaim sebagai hasil survei terbaru mengenai bursa calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) Pemilu 2029 ramai beredar di berbagai kalangan.

Dokumen berbentuk PDF itu memicu perhatian publik karena memuat simulasi elektabilitas sejumlah tokoh nasional.

Dalam dokumen yang beredar disebutkan survei tersebut dilakukan pada 14–24 Juli 2026.

Total terdapat sekitar 26 halaman yang berisi pemetaan dukungan publik terhadap figur-figur yang dinilai berpeluang maju pada kontestasi Pilpres 2029.

Isi dokumen diawali dengan hasil top of mind atau tokoh yang paling pertama disebut responden ketika ditanya mengenai sosok yang layak menjadi presiden.

Setelah itu, survei menampilkan simulasi daftar terbuka yang memuat 32 nama tokoh politik maupun pejabat pemerintahan untuk mengukur tingkat dukungan masyarakat.

BACA JUGA :  Surya Paloh Tegaskan Kesetiaan NasDem pada Pemerintahan Prabowo

Pembahasan kemudian mengerucut pada beberapa skenario, mulai dari simulasi 10 nama, lima nama, hingga pasangan calon dalam simulasi tiga maupun dua kandidat.

Dokumen tersebut juga memuat tingkat popularitas masing-masing tokoh beserta perolehan dukungan dari responden.

Tak lama setelah dokumen itu beredar, Indikator Politik Indonesia memberikan klarifikasi resmi.

Pendiri sekaligus Direktur Eksekutif Indikator, Burhanuddin Muhtadi, menegaskan lembaganya tidak pernah menerbitkan hasil survei nasional sebagaimana yang beredar.

Melalui surat yang ditandatangani Direktur Indikator, Fauny Hidayat, lembaga tersebut menyatakan dokumen yang beredar bukan merupakan publikasi resmi Indikator Politik Indonesia.

“Indikator Politik Indonesia tak pernah menulis atau mempublikasikan hasil survei nasional yang dilakukan pada Juli 2026 tersebut,” tulis Indikator dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (29/7/2026).

Dalam surat bantahan itu juga dijelaskan bahwa mekanisme publikasi hasil survei yang dilakukan Indikator tidak merujuk pada ketentuan sebagaimana disebutkan dalam dokumen yang beredar.

Oleh karena itu, masyarakat diminta tidak menjadikan dokumen tersebut sebagai rujukan resmi.

“Data dan temuan survei Indikator secara resmi selalu dipublikasikan melalui web/portal resmi www.indikator.co.id, dan jaringan media sosial Indikator Politik,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Tak Bisa Diakses Lagi, Komdigi Takedown Video Amien Rais soal ‘Skandal Istana’

Meski telah dibantah sebagai publikasi resmi, dokumen yang beredar tersebut turut memuat rincian hasil elektabilitas sejumlah tokoh nasional.

Dalam dokumen itu disebutkan survei dilakukan pada 14–24 Juli 2026 dengan dua pendekatan, yakni pertanyaan spontan (top of mind) dan simulasi semi terbuka yang melibatkan 32 nama bakal calon presiden.

PeringkatNama TokohElektabilitas
1Dedi Mulyadi31,4%
2Prabowo Subianto18,8%
3Anies Baswedan11,6%
4Gibran Rakabuming Raka5,9%
5Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)5,8%
6Ganjar Pranowo4,5%
7Sherly Tjoanda2,5%
8Mahfud MD2,1%
–Tokoh lainnya dan belum menentukan17,4%
Total100%

Catatan Redaksi: Angka-angka di atas berasal dari dokumen survei yang beredar di publik. Indikator Politik Indonesia telah menyatakan dokumen tersebut bukan merupakan publikasi resmi lembaga.

Pada simulasi top of mind, responden diminta menyebutkan nama calon presiden pilihannya tanpa disodori daftar kandidat.

Dalam dokumen tersebut, Dedi Mulyadi disebut menempati posisi pertama dengan elektabilitas 22,4 persen, disusul Prabowo Subianto sebesar 20,1 persen.

Selanjutnya, Gibran Rakabuming Raka tercatat memperoleh 9,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 3,9 persen, Anies Baswedan 3,4 persen, dan Ganjar Pranowo juga 3,4 persen.

BACA JUGA :  Pejabat Tak Diundang, Prabowo Open House Bersama 5.000 Warga di Istana

Sementara itu, sebanyak 25,8 persen responden disebut belum menentukan pilihan atau memilih tidak menjawab.

Dalam simulasi semi terbuka yang memuat 32 nama, dokumen tersebut kembali menempatkan Dedi Mulyadi di posisi teratas dengan elektabilitas 31,4 persen, unggul 12,6 poin persentase atas Prabowo Subianto yang memperoleh 18,8 persen.

Adapun Anies Baswedan berada di urutan ketiga dengan 11,6 persen, diikuti Gibran Rakabuming Raka 5,9 persen, AHY 5,8 persen, Ganjar Pranowo 4,5 persen, Sherly Tjoanda 2,5 persen, dan Mahfud MD 2,1 persen.

Dokumen yang beredar itu juga mencantumkan bahwa survei melibatkan 4.250 responden yang memiliki hak pilih di seluruh Indonesia.

Pengambilan sampel disebut menggunakan metode multistage random sampling dengan margin of error sekitar ±1,6 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Meski demikian, hingga bantahan resmi disampaikan Indikator Politik Indonesia pada Rabu (29/7/2026), rincian hasil tersebut dinyatakan bukan bagian dari publikasi resmi lembaga tersebut.

Karena itu, keabsahan data yang tercantum dalam dokumen yang beredar masih menjadi tanda tanya dan belum dapat dipastikan sebagai hasil survei resmi Indikator Politik Indonesia.

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Kebijakan Tidak Jalan! Gerindra Sebut Tiga Menteri Layak Diberi “Rapor Merah”
Digeruduk Loyalis Usai Fitnah Anggota DPR RI, Kadispar Sultra Minta Maaf
Tawuran Pecah di Makassar, Konvoi Motor Diserang Pakai Busur dan Batu
Makam Tebing Toraja Utara Dilahap Karhutla, 270 Jenazah Berakhir Jadi Abu
Houthi Gempur Habis-habisan Arab Saudi, Kilang Minyak Ras Tanura Terbakar
Diduga Istimewakan Penipu, Polresta Gowa Diminta Cabut Penangguhan AHA
Tiga Pemalsu STNK di Kendari Diringkus, Duit Haram Dipakai Beli Sabu dan Judol
Ekspor Gas Dibatasi, Politikus Singapura Ancam Potong Kabel Internet Indonesia