Mahfud MD Buka Borok MBG, Makan Cuma Rp34 Miliar, Sisanya ke Mobil dan Kaos

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tangkapan layar kanal YouTube Forum KEADILAN TV: Mahfud MD mengulas persoalan tata kelola program MBG.

Tangkapan layar kanal YouTube Forum KEADILAN TV: Mahfud MD mengulas persoalan tata kelola program MBG.

Zonafaktualnews.com – Mahfud MD kembali melontarkan kritik tajam terkait pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Mantan Menko Polhukam itu menyoroti dugaan ketimpangan serius dalam penggunaan anggaran yang dinilai tidak mencerminkan prioritas utama program.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Forum KEADILAN TV, Senin (27/4/2026), Mahfud mengungkap informasi yang menurutnya cukup mencengangkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dari total dana program yang mencapai triliunan rupiah, porsi yang benar-benar digunakan untuk kebutuhan makanan disebut sangat kecil.

“Tadi saya baru dapat, uang yang dikeluarkan MBG yang triliunan itu, yang untuk makan cuma Rp34 Miliar. Sisanya untuk apa? Biaya mobil, biaya kaos, biaya ompreng (wadah makan), dan lain-lain. Ini boros,” tegas Mahfud MD.

Pernyataan itu menyoroti adanya dugaan ketidakseimbangan antara tujuan program dengan realisasi anggaran di lapangan.

Menurutnya, alokasi dana justru lebih banyak terserap ke kebutuhan non-pangan seperti pengadaan kendaraan, perlengkapan, hingga biaya operasional yang urgensinya patut dipertanyakan.

BACA JUGA :  Tak Bisa Diakses Lagi, Komdigi Takedown Video Amien Rais soal ‘Skandal Istana’

“Kalau benar angkanya seperti itu, berarti ada masalah serius dalam tata kelola. Harus diperiksa,” ujarnya.

Mahfud menilai, kritik terhadap MBG seharusnya dijawab dengan langkah konkret oleh pemerintah, bukan sekadar klarifikasi naratif.

Ia juga menyinggung adanya perbedaan antara laporan di tingkat pusat dengan kondisi riil di daerah.

Sejumlah persoalan di lapangan, seperti dugaan keracunan massal hingga distribusi yang tidak tepat sasaran, turut menjadi sorotan.

Selain itu, ia mempertanyakan klaim besar terkait pengadaan bahan pangan yang dinilai tidak sejalan dengan fakta yang terlihat.

“Laporannya besar, tapi realitasnya tidak terlihat,” katanya.

Di sisi lain, Mahfud menyambut baik jika ada upaya perbaikan dari pemerintah, termasuk wacana penyesuaian tata kelola program agar lebih menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan, khususnya di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar).

BACA JUGA :  Surya Paloh Tegaskan Kesetiaan NasDem pada Pemerintahan Prabowo

Mahfud MD menekankan bahwa perubahan tersebut harus dibarengi dengan audit menyeluruh terhadap penggunaan anggaran sebelumnya agar persoalan mendasar bisa terurai.

Mahfud juga menyoroti pola perilaku pejabat yang dinilai cenderung berlebihan dalam penggunaan anggaran. Ia menyebut praktik pemborosan tersebut sebagai sesuatu yang “brutal” dan berpotensi menular hingga ke tingkat daerah.

Meski demikian, ia tidak menampik bahwa program MBG memiliki manfaat nyata bagi masyarakat, terutama kelompok kurang mampu. Hanya saja, menurutnya, persoalan utama terletak pada kualitas pengelolaannya.

“Programnya bagus, tapi pengelolaannya buruk. Itu yang harus diperbaiki,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah dapat lebih konsisten dalam melakukan pembenahan berbasis data dan kebutuhan riil masyarakat, bukan sekadar respons sesaat terhadap kritik publik.

BACA JUGA :  Sri Mulyani Ungkap 964 PNS Terlibat Transaksi Mencurigakan

Selain membahas MBG, Mahfud juga menyinggung perkembangan dokumen Komisi Reformasi Polri yang hingga kini belum diserahkan secara resmi kepada Prabowo Subianto.

Mahfud MD mengungkapkan bahwa dokumen yang terdiri dari delapan buku dan sepuluh laporan hasil kajian tersebut sebenarnya telah rampung sejak Februari. Namun, hingga kini belum ada jadwal resmi untuk penyerahannya.

“Pak Jimly (Asshiddiqie) sudah tawarkan kirim naskahnya, tapi Presiden bilang jangan dikirim takut bocor, minta datang langsung. Tapi sampai hari ini belum ada jadwal,” ungkap Mahfud.

Meski begitu, ia mengapresiasi langkah awal Polri yang mulai menjalankan salah satu rekomendasi, yakni penghapusan praktik “titip-titipan” dalam proses rekrutmen Akademi Kepolisian.

“Setidaknya ke depan Polri bisa lebih tegas dan bersih dari kepentingan politik,” katanya.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Jukir Liar Makin Beringas di Makassar, PD Parkir Dinilai Gagal Lakukan Penertiban
SPBU Pettuadae Jadi Biang Keladi Antrean Truk, Pengawasan Pertamina Minim
Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok
DNA 99 Persen Diabaikan, Polisi Beralibi Kurang Bukti di Kasus Pemerkosaan Tator
Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami
Digoyang Kasus Korupsi Batubara, Isu Jampidsus Febrie Mundur Beredar
Tepis Isu Penggerudukan, TNI Minta Publik Waspada Provokator Medsos
Jaksa Tangkap Jenderal, Polisi Balas Sikat Jaksa

Berita Terkait

Minggu, 12 Juli 2026 - 16:20 WITA

Jukir Liar Makin Beringas di Makassar, PD Parkir Dinilai Gagal Lakukan Penertiban

Minggu, 12 Juli 2026 - 12:52 WITA

SPBU Pettuadae Jadi Biang Keladi Antrean Truk, Pengawasan Pertamina Minim

Minggu, 12 Juli 2026 - 01:51 WITA

Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok

Sabtu, 11 Juli 2026 - 14:28 WITA

DNA 99 Persen Diabaikan, Polisi Beralibi Kurang Bukti di Kasus Pemerkosaan Tator

Sabtu, 11 Juli 2026 - 01:39 WITA

Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami

Berita Terbaru

Visual dibuat dengan AI

Geleng Kepala

Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok

Minggu, 12 Jul 2026 - 01:51 WITA

Visual dibuat dengan AI

Geleng Kepala

Disangka “Si Joni” Ternyata Terong, Istri Polisikan Suami

Sabtu, 11 Jul 2026 - 01:39 WITA