Narkoba Bukan Sekadar Kejahatan, tapi Neo-Kolonialisme Hancurkan Generasi

Senin, 27 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Visual dibuat dengan AI

Visual dibuat dengan AI

Peredaran narkotika kini tak lagi bisa dipandang sebagai kejahatan biasa di Indonesia.

Masalah ini telah berkembang menjadi ancaman sistemik yang lebih dalam, bahkan dapat dibaca sebagai bentuk neo-kolonialisme, yakni penjajahan gaya baru yang tidak membutuhkan senjata, tetapi efektif merusak bangsa dari dalam.

Di tengah realitas itu, publik dihadapkan pada viralnya lagu “Siti Mawarni Ya Incek” yang ramai di media sosial.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Lagu ini bukan sekadar hiburan, melainkan cermin kegelisahan masyarakat terhadap maraknya peredaran sabu-sabu.

Liriknya yang lugas seolah menjadi suara perlawanan, bahwa narkoba bukan hanya masalah individu, tetapi ancaman kolektif.

Kondisi ini menunjukkan satu hal penting, yakni kesadaran publik mulai tumbuh. Di sisi lain, realitas di lapangan justru memperlihatkan betapa dalam dan kompleksnya persoalan tersebut.

Berbeda dengan kolonialisme lama yang datang dengan kekuatan militer, pola modern bekerja secara senyap. Tidak ada invasi dan tidak ada dentuman senjata.

BACA JUGA :  Polisi Gagalkan Produksi Ganja Sintetis 1,2 Ton Senilai Rp143,5 Miliar

Meski tanpa kekuatan fisik, dampaknya nyata, kualitas sumber daya manusia melemah, daya saing bangsa menurun, dan generasi muda perlahan dihancurkan. Inilah wajah nyata neo-kolonialisme, ketika kehancuran terjadi dari dalam.

Lebih mengkhawatirkan lagi, peredaran narkotika tidak berdiri sendiri. Ia terhubung erat dengan praktik kejahatan terorganisasi yang juga bersinggungan dengan korupsi.

Fakta di lapangan menunjukkan hal itu bukan sekadar teori.

Di Toraja Utara, seorang Kasat Narkoba dan Kanit II bahkan dipecat setelah terbukti menerima setoran dari bandar narkoba.

Dalam sidang etik, terungkap adanya aliran dana rutin dari jaringan narkotika untuk mengamankan bisnis haram tersebut.

Kasus ini menunjukkan bagaimana praktik suap menjadi pintu masuk utama dalam melindungi peredaran narkoba.

Tak hanya itu, kasus lain juga mencuat di Bima. Seorang mantan Kapolres terseret dan dipecat karena keterlibatan dalam jaringan narkotika, termasuk dugaan menerima aliran dana dari bandar.

BACA JUGA :  Bandar Narkoba Ditangkap di Makassar, Oknum BNN Diduga 86 Miliaran ?

Hal ini menggambarkan bentuk kedua, yakni penyalahgunaan wewenang, ketika kekuasaan yang seharusnya memberantas justru dimanfaatkan untuk melindungi.

Sementara itu, keuntungan besar dari bisnis narkoba kemudian disamarkan melalui berbagai skema keuangan, yang memperlihatkan praktik pencucian uang atau money laundering untuk memperkuat jaringan tersebut.

Tiga pola ini, yakni suap, penyalahgunaan wewenang, dan pencucian uang, menunjukkan bahwa narkotika bukan sekadar ancaman sosial, melainkan ancaman struktural yang menyusup ke dalam sistem kekuasaan.

Dalam situasi seperti ini, generasi muda menjadi korban utama. Mereka dijadikan target pasar sekaligus titik lemah bangsa. Ketika generasi ini rusak, maka masa depan bangsa ikut terancam.

Di sinilah relevansi suara seperti dalam lagu “Siti Mawarni Ya Incek” menjadi penting. Lagu ini bukan sekadar viral, tetapi menjadi simbol bahwa masyarakat mulai menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

BACA JUGA :  Irjen Teddy Minahasa Dituntut Pidana Mati Dalam Kasus Sabu

Lebih dari itu, kesadaran saja tidak cukup.

Pemberantasan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat. Dibutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa, mulai dari tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pemuda, hingga keluarga sebagai benteng pertama.

Edukasi, penguatan nilai, dan pengawasan sosial harus berjalan seiring dengan penegakan hukum yang tegas serta bersih dari praktik korupsi.

Pada akhirnya, melawan narkoba bukan hanya soal hukum. Ini adalah perjuangan mempertahankan masa depan bangsa dari ancaman neo-kolonialisme yang nyata.

Jika dahulu penjajahan datang dengan senjata, maka hari ini ia hadir dalam bentuk yang lebih halus, namun jauh lebih mematikan.

Ketika generasi muda menjadi sasaran, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hari ini, tetapi masa depan sebuah bangsa.

 

Penulis : Ibhe Ananda
Dewan Pendiri Serikat Insan Media
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Panitia SPMB SMAN 1 Parepare Akui Celah Aplikasi, Disdik-Sekolah Saling Lempar Bola
GOR SMKN 6 Makassar Disewakan, Aset Pendidikan Dituding Jadi “Sapi Perah”
Menakar Kinerja Polrestabes Makassar, Ada Apa di Balik Narasi “Kurang Bukti” Kasus MH?
Isi Chat Sony Sanjaya Terbongkar, Kejagung Kantongi 26 Tokoh di Balik Jatah SPPG
SPMB SMAN 1 Parepare Kacau, Jalur Domisili Diukur Skor, Bukan Jarak Rumah
Bandar Lintas Daerah Diciduk, 421 Gram Sabu Gagal Merusak Maros dan Bone
Bukan Prank! Pertamax Tembus Rp16.250, Pertalite dan Biosolar Belum Ikut Gila
Potret Buram Kelalaian Sistemik Pengelola Apparalang Tanpa Standar Keselamatan

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 04:42 WITA

Panitia SPMB SMAN 1 Parepare Akui Celah Aplikasi, Disdik-Sekolah Saling Lempar Bola

Jumat, 12 Juni 2026 - 03:28 WITA

GOR SMKN 6 Makassar Disewakan, Aset Pendidikan Dituding Jadi “Sapi Perah”

Jumat, 12 Juni 2026 - 01:42 WITA

Menakar Kinerja Polrestabes Makassar, Ada Apa di Balik Narasi “Kurang Bukti” Kasus MH?

Kamis, 11 Juni 2026 - 03:34 WITA

Isi Chat Sony Sanjaya Terbongkar, Kejagung Kantongi 26 Tokoh di Balik Jatah SPPG

Kamis, 11 Juni 2026 - 02:00 WITA

SPMB SMAN 1 Parepare Kacau, Jalur Domisili Diukur Skor, Bukan Jarak Rumah

Berita Terbaru