Zonafaktualnews.com – Tekanan terhadap rupiah masih belum mereda pada perdagangan Selasa, 5 Mei 2026.
Rupiah bahkan sempat berada di level Rp17.420 terhadap dolar Amerika Serikat (AS), yang disebut menjadi titik terendah sejak mata uang tersebut diperdagangkan secara modern.
Data Bloomberg menunjukkan kurs rupiah pada awal perdagangan terkoreksi sekitar 0,23 persen.
Meski sempat mengalami perbaikan tipis, hingga pukul 09.28 WIB nilainya masih berada di kisaran Rp17.407 per dolar AS.
Kondisi tersebut turut memengaruhi pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat bergerak di zona merah pada sesi pagi seiring meningkatnya tekanan di pasar keuangan.
Aktivitas perdagangan di Bursa Efek Indonesia juga menunjukkan mayoritas saham berada di jalur pelemahan dibandingkan penguatan.
Analis pasar menilai tekanan terhadap rupiah terjadi akibat meningkatnya ketidakpastian ekonomi global yang membuat investor cenderung memburu dolar AS sebagai aset aman.
Situasi geopolitik internasional, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, disebut ikut memperbesar tekanan terhadap mata uang negara berkembang.
Di saat yang sama, sikap bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga ketat turut memperkuat posisi dolar AS di pasar global.
“Rupiah kemungkinan masih akan terdepresiasi,” ujar analis pasar uang Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana.
Faktor domestik juga dinilai memberi pengaruh terhadap pelemahan rupiah. Pelaku pasar disebut mencermati kondisi fiskal nasional, tingginya kebutuhan valuta asing untuk impor dan pembayaran korporasi, hingga keluarnya sebagian dana investor asing dari pasar keuangan Indonesia.
Selain itu, perlambatan ekspor dan belum kuatnya sentimen positif di pasar turut membuat ruang penguatan rupiah menjadi terbatas dalam jangka pendek.
Mayoritas mata uang Asia pada perdagangan pagi juga tercatat melemah terhadap dolar AS, termasuk ringgit Malaysia, peso Filipina, dan baht Thailand.
Kendati demikian, tekanan terhadap rupiah dinilai berasal dari gabungan sentimen eksternal dan internal.
Penguatan dolar AS akibat kondisi global, meningkatnya kebutuhan valas di dalam negeri, serta kekhawatiran investor terhadap stabilitas fiskal dan efektivitas kebijakan moneter menjadi faktor yang terus membebani pergerakan rupiah.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















