Proyek Jalan Salomatti-Wanuwaru Diduga Langgar K3 dan Manfaatkan BBM Subsidi

Kamis, 29 Januari 2026 - 01:48 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Proyek Jalan Salomatti-Wanuwaru Diduga Langgar K3 dan Manfaatkan BBM Subsidi

Papan proyek peningkatan Jalan Salomatti-Wanuwaru, Kecamatan Mallawa, Maros. Dikerjakan PT Putra Utama Konstruksi, konsultan supervisi PT Bintang Inti Rekatama KSO PT Indo Pratama Sari, kontrak Rp14,9 miliar, durasi 27 hari, sumber dana APBN.

Zonafaktualnews.com – Proyek peningkatan Jalan Salomatti-Wanuwaru di Kecamatan Mallawa, Kabupaten Maros, yang dikerjakan oleh PT Putra Utama Konstruksi diduga melanggar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) serta pemanfaatan BBM bersubsidi yang tidak sesuai aturan.

Proyek konstruksi bernilai hampir Rp15 miliar ini dibiayai APBN melalui Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional Sulawesi Selatan, dengan nomor kontrak HK.02.01/Bbpjn6/PJN-WIL.III/PPK3.1/IJD-SW/APBN/XII/2025, dimulai Desember 2025, dan dijadwalkan selesai dalam 27 hari kalender. Konsultan supervisi proyek adalah PT Bintang Inti Rekatama KSO PT Indo Pratama Sari.

Penggiat antikorupsi Andi Ranggah menyoroti penerapan K3 yang diduga lemah di lapangan.

“Dalam proyek dengan nilai hampir Rp15 miliar, penerapan K3 bukan sekadar formalitas. Jika diabaikan, ini berpotensi mengarah pada pelanggaran hukum dan membahayakan keselamatan pekerja,” ujar Ranggah dalam keterangannya, Rabu (28/1/2026).

BACA JUGA :  Wow, Mafia BBM Beraksi Pakai “Surat Sakti” Expired di SPBU Terang-Terang

Ranggah menegaskan bahwa pengabaian standar K3 tidak hanya meningkatkan risiko kecelakaan kerja, tetapi juga membuka peluang sanksi hukum serius bagi perusahaan pelaksana.

Ranggah juga merujuk UU Nomor 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja, Pasal 3 ayat (1) yang mewajibkan perusahaan menjamin keselamatan tenaga kerja serta mencegah kecelakaan di tempat kerja, dan Pasal 9 ayat (1) mengenai kewajiban perusahaan menjelaskan potensi bahaya kerja serta penggunaan alat pelindung diri (APD).

“Perusahaan juga diwajibkan menyediakan alat pelindung diri secara cuma-cuma sebagaimana diatur dalam Pasal 14 UU Nomor 1 Tahun 1970. Jika kewajiban ini tidak dijalankan, maka konsekuensi hukumnya jelas,” tambah Ranggah.

BACA JUGA :  Solar Industri Tembus Rp28 Ribu, Black Market Mulai Dilirik Pebisnis di Sulsel

Pasal 15 UU Nomor 1 Tahun 1970 juga membuka ruang sanksi pidana berupa kurungan atau denda bagi pihak yang melanggar K3.

Apabila pelanggaran mengakibatkan kecelakaan berat atau korban jiwa, perusahaan bisa menghadapi gugatan perdata berdasarkan Pasal 1365 KUHPerdata.

“Gugatan perdata bisa bernilai miliaran rupiah dan berdampak langsung pada reputasi serta keberlangsungan bisnis perusahaan. Karena itu, pengawasan K3 tidak boleh dianggap remeh,” tegas Ranggah.

Selain persoalan K3, Ranggah juga menyoroti dugaan penyalahgunaan BBM subsidi dalam proyek tersebut.

Ranggah menduga BBM bersubsidi yang digunakan tidak sesuai ketentuan dan melanggar UU Nomor 22 Tahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi, Pasal 55, serta Perpres Nomor 191 Tahun 2014 yang diubah dengan Perpres Nomor 117 Tahun 2021.

BACA JUGA :  Proyek RSUD Camba Maros ‘Gagal’, Anggaran Miliaran Berpotensi Rugikan Negara

“Kami telah mendapatkan bukti atas dugaan bahwa bahan bakar yang digunakan bukan solar non-subsidi, melainkan BBM bersubsidi. Jika ini benar, maka ada indikasi penyalahgunaan subsidi negara,” tegas Ranggah.

Ranggah mendesak instansi teknis terkait, pengawas proyek, BPH Migas, serta aparat penegak hukum untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap penerapan K3 maupun dugaan penyalahgunaan BBM bersubsidi pada proyek ini.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Putra Utama Konstruksi belum memberikan keterangan resmi terkait dugaan pelanggaran tersebut.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Bongkar Dugaan Korupsi Rp2,3 Miliar, Ketua GRH Laporkan Dispora Makassar
Jaringan BSS VinFast di Gowa-Maros Hanya Omon-omon, Konsumen Kecewa
2 Pelangsir Disikat, Operator-SPBU ‘Dilindungi’, Polres Parepare Tebang Pilih?
Diduga Rugikan Negara, Dana Hibah KORMI Makassar 1,5 M Dilapor ke Kejati
Praktisi Hukum Desak Evaluasi Total K3 Usai Lima Jurnalis Gugur di Krakatau
Kayu Ilegal di Luwu Utara Digagalkan, Sopir dan Truk Diamankan Petugas
Jalan Beton Parepare Diduga Ubah Ready Mix, Mutu K250 Diminta Diuji Core Drill
Kejari Kantongi LHP BPK, Kasus Korupsi Jalan Beton Parepare Segera Diekspose

Berita Terkait

Sabtu, 19 September 2026 - 01:47 WITA

Bongkar Dugaan Korupsi Rp2,3 Miliar, Ketua GRH Laporkan Dispora Makassar

Sabtu, 19 September 2026 - 01:02 WITA

Jaringan BSS VinFast di Gowa-Maros Hanya Omon-omon, Konsumen Kecewa

Jumat, 18 September 2026 - 18:08 WITA

2 Pelangsir Disikat, Operator-SPBU ‘Dilindungi’, Polres Parepare Tebang Pilih?

Jumat, 18 September 2026 - 17:07 WITA

Diduga Rugikan Negara, Dana Hibah KORMI Makassar 1,5 M Dilapor ke Kejati

Jumat, 18 September 2026 - 08:49 WITA

Praktisi Hukum Desak Evaluasi Total K3 Usai Lima Jurnalis Gugur di Krakatau

Berita Terbaru