Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi

Sabtu, 16 Mei 2026 - 01:35 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi

Poster Official Trailer film dokumenter Pesta Babi garapan sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono yang kini ramai diperbincangkan netizen karena mengangkat kerangka analisis kolonialisme di Papua

Zonafaktualnews.com – Isu sensitif kembali memanas setelah rilisnya Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Karya audio-visual terbaru hasil kolaborasi Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono ini langsung memicu perdebatan publik yang sangat sengit di berbagai lini masa.

Selain karena keberanian sutradara menggunakan istilah “kolonialisme” dalam konteks Papua, sebagian warganet juga mulai mempertanyakan judul film tersebut yang dinilai terlalu provokatif, mengingat sinema ini sama sekali tidak menampilkan tradisi pesta babi secara literal.

Menanggapi polemik yang menggelinding bak bola salju tersebut, Cypri Paju Dale akhirnya buka suara melalui sebuah pernyataan video.

Cypri menegaskan bahwa Film Dokumenter Pesta Babi ini tidak sedang bermain-main dengan sensasi murahan.

Sejak awal, proyek ini dirancang sebagai karya berbasis akademis dan kerja lapangan yang ketat.

“Film ini sebenarnya sebuah film yang berbasis penelitian sejarah dan antropologi, selain tentu saja investigasi jurnalistik dan analisis kebijakan,” ujar Cypri, Jumat, 15 Mei 2026.

BACA JUGA :  Kerap Pulang Malam, Gadis 14 Tahun Diperkosa Bapak Kandung

Membongkar Kotak Pandora Papua

Bagi Cypri, penyematan istilah “kolonialisme” dalam judul dan narasi filmnya memiliki landasan metodologi yang kuat, bukan bumbu pemanis demi memantik kontroversi.

Istilah tersebut dipilih sebagai pisau bedah atau kerangka analisis untuk membaca persoalan Papua secara lebih luas, terstruktur, dan sistematis.

Selama ini, Cypri menilai label-label konvensional yang kerap dilekatkan pada Papua belum mampu memotret akar masalah secara utuh—baik itu label konflik bersenjata, pelanggaran HAM, keterbelakangan pembangunan, hingga masifnya deforestasi.

“Istilah kolonialisme dipakai karena ada kebutuhan untuk suatu kerangka analisis untuk memahami situasi Papua secara mendalam dan menyeluruh,” tegasnya.

Konsep kolonialisme ini sendiri, lanjut Cypri, bukanlah barang baru atau istilah asing yang dipaksakan dari luar.

Sebagian masyarakat Papua rupanya telah lama menggunakan terminologi tersebut untuk menggambarkan benturan pengalaman historis serta realitas politik yang mereka jalani sehari-hari.

BACA JUGA :  Pengamat Sentil Gibran, Tugas Papua Dinilai Lebih Penting dari Ngantor di IKN

Upaya Pembungkaman di Balik Layar?

Nahasnya, ketika sebuah karya mencoba menyajikan realitas dari sudut pandang yang berbeda, batu sandungan kerap menghadang.

Cypri mengklaim ada indikasi kuat mengenai upaya pembatasan sistematis agar Film Dokumenter Pesta Babi ini tidak meluas dan diakses oleh masyarakat luas.

Ada pihak-pihak tertentu yang tampaknya gerah jika dinamika riil di tanah Papua terbuka terang benderang.

“Film ini memang sedang dicegah oleh sejumlah pihak untuk sampai kepada penonton. Banyak pihak yang berusaha agar apa yang terjadi di Papua tidak diketahui oleh masyarakat luas,” ungkap Cypri lugas.

Menggoyang Zona Nyaman Semua Pihak

Pada ujung pernyataannya, Cypri secara jujur mengakui bahwa filmnya bukanlah tontonan yang ramah atau menyenangkan.

Karya ini memang sengaja dihadirkan untuk memicu ketidaknyamanan kolektif—sebuah tamparan keras yang efeknya tidak hanya dirasakan oleh lingkar kekuasaan, melainkan juga menyasar masyarakat sipil yang selama ini merasa sudah berada di barisan yang benar.

BACA JUGA :  3 Tahun Merantau, Pulang Jadi Mayat, Tukang Ojek Gowa Diduga Dibunuh KKB

“Film ‘Pesta Babi’ mungkin mengganggu kita semua. Tidak hanya pemerintah dan aparat militer, tapi juga mungkin mengganggu bagi kita yang merasa sebagai warga yang baik, yang kritis, yang bersolidaritas terhadap orang Papua,” akunya.

Alih-alih saling melempar tuduhan tak berdasar di media sosial, Cypri menutup penjelasannya dengan sebuah undangan terbuka.

Ia mengajak seluruh lapisan publik untuk berani membuka ruang diskusi yang lebih jujur, jernih, dan objektif mengenai persoalan Papua, sebuah diskusi yang menengok kembali pada khitah dan amanat konstitusi tertinggi kita: penolakan total terhadap segala bentuk penjajahan di atas dunia.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

DPO Tewas Usai Ditangkap, LKBHMI Desak Kapolri Uji Rantai Komando Polda Sulsel
APAK dan GRH Desak Kejari Periksa Ketua KONI Makassar Terkait Hibah
DPO Bantaeng Tewas Ditembak, Dirnarkoba Polda Sulsel Diminta Dicopot
Kejagung Jebloskan Kolonel Budi Utomo ke Sel Tahanan Kasus Korupsi MBG
Husniah Masih Jabat Bupati Gowa Meski Tersangka, F-KRB :Sudahlah, Kasih DM Saja
Terjerat Utang Misterius PNM Mekaar, Warga Takalar Ngaku Dirugikan
Owner Asaf Skincare Diciduk Polisi, Korban Desak Proses Hukum Dipercepat
Dua Kali Gagal P-21, H. Suradi Desak Kejati Sulsel Sikat Mafia Rincik Siluman

Berita Terkait

Rabu, 30 September 2026 - 17:16 WITA

DPO Tewas Usai Ditangkap, LKBHMI Desak Kapolri Uji Rantai Komando Polda Sulsel

Rabu, 30 September 2026 - 17:02 WITA

APAK dan GRH Desak Kejari Periksa Ketua KONI Makassar Terkait Hibah

Rabu, 30 September 2026 - 03:50 WITA

DPO Bantaeng Tewas Ditembak, Dirnarkoba Polda Sulsel Diminta Dicopot

Rabu, 30 September 2026 - 01:30 WITA

Kejagung Jebloskan Kolonel Budi Utomo ke Sel Tahanan Kasus Korupsi MBG

Selasa, 29 September 2026 - 20:50 WITA

Husniah Masih Jabat Bupati Gowa Meski Tersangka, F-KRB :Sudahlah, Kasih DM Saja

Berita Terbaru