Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi

Sabtu, 16 Mei 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Poster Official Trailer film dokumenter Pesta Babi garapan sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono yang kini ramai diperbincangkan netizen karena mengangkat kerangka analisis kolonialisme di Papua

Poster Official Trailer film dokumenter Pesta Babi garapan sutradara Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono yang kini ramai diperbincangkan netizen karena mengangkat kerangka analisis kolonialisme di Papua

Zonafaktualnews.com – Isu sensitif kembali memanas setelah rilisnya Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.

Karya audio-visual terbaru hasil kolaborasi Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono ini langsung memicu perdebatan publik yang sangat sengit di berbagai lini masa.

Selain karena keberanian sutradara menggunakan istilah “kolonialisme” dalam konteks Papua, sebagian warganet juga mulai mempertanyakan judul film tersebut yang dinilai terlalu provokatif, mengingat sinema ini sama sekali tidak menampilkan tradisi pesta babi secara literal.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menanggapi polemik yang menggelinding bak bola salju tersebut, Cypri Paju Dale akhirnya buka suara melalui sebuah pernyataan video.

Cypri menegaskan bahwa Film Dokumenter Pesta Babi ini tidak sedang bermain-main dengan sensasi murahan.

Sejak awal, proyek ini dirancang sebagai karya berbasis akademis dan kerja lapangan yang ketat.

“Film ini sebenarnya sebuah film yang berbasis penelitian sejarah dan antropologi, selain tentu saja investigasi jurnalistik dan analisis kebijakan,” ujar Cypri, Jumat, 15 Mei 2026.

BACA JUGA :  Judi Rolex di Pasar Youtefa Menjamur Diduga Dibekingi Oknum Polisi?

Membongkar Kotak Pandora Papua

Bagi Cypri, penyematan istilah “kolonialisme” dalam judul dan narasi filmnya memiliki landasan metodologi yang kuat, bukan bumbu pemanis demi memantik kontroversi.

Istilah tersebut dipilih sebagai pisau bedah atau kerangka analisis untuk membaca persoalan Papua secara lebih luas, terstruktur, dan sistematis.

Selama ini, Cypri menilai label-label konvensional yang kerap dilekatkan pada Papua belum mampu memotret akar masalah secara utuh—baik itu label konflik bersenjata, pelanggaran HAM, keterbelakangan pembangunan, hingga masifnya deforestasi.

“Istilah kolonialisme dipakai karena ada kebutuhan untuk suatu kerangka analisis untuk memahami situasi Papua secara mendalam dan menyeluruh,” tegasnya.

Konsep kolonialisme ini sendiri, lanjut Cypri, bukanlah barang baru atau istilah asing yang dipaksakan dari luar.

Sebagian masyarakat Papua rupanya telah lama menggunakan terminologi tersebut untuk menggambarkan benturan pengalaman historis serta realitas politik yang mereka jalani sehari-hari.

BACA JUGA :  Oknum Polisi Cabul Divonis Bebas, Netizen Geram: Restitusi Jadi Alat Pelemahan Hukum

Upaya Pembungkaman di Balik Layar?

Nahasnya, ketika sebuah karya mencoba menyajikan realitas dari sudut pandang yang berbeda, batu sandungan kerap menghadang.

Cypri mengklaim ada indikasi kuat mengenai upaya pembatasan sistematis agar Film Dokumenter Pesta Babi ini tidak meluas dan diakses oleh masyarakat luas.

Ada pihak-pihak tertentu yang tampaknya gerah jika dinamika riil di tanah Papua terbuka terang benderang.

“Film ini memang sedang dicegah oleh sejumlah pihak untuk sampai kepada penonton. Banyak pihak yang berusaha agar apa yang terjadi di Papua tidak diketahui oleh masyarakat luas,” ungkap Cypri lugas.

Menggoyang Zona Nyaman Semua Pihak

Pada ujung pernyataannya, Cypri secara jujur mengakui bahwa filmnya bukanlah tontonan yang ramah atau menyenangkan.

Karya ini memang sengaja dihadirkan untuk memicu ketidaknyamanan kolektif—sebuah tamparan keras yang efeknya tidak hanya dirasakan oleh lingkar kekuasaan, melainkan juga menyasar masyarakat sipil yang selama ini merasa sudah berada di barisan yang benar.

BACA JUGA :  3 Tahun Merantau, Pulang Jadi Mayat, Tukang Ojek Gowa Diduga Dibunuh KKB

“Film ‘Pesta Babi’ mungkin mengganggu kita semua. Tidak hanya pemerintah dan aparat militer, tapi juga mungkin mengganggu bagi kita yang merasa sebagai warga yang baik, yang kritis, yang bersolidaritas terhadap orang Papua,” akunya.

Alih-alih saling melempar tuduhan tak berdasar di media sosial, Cypri menutup penjelasannya dengan sebuah undangan terbuka.

Ia mengajak seluruh lapisan publik untuk berani membuka ruang diskusi yang lebih jujur, jernih, dan objektif mengenai persoalan Papua, sebuah diskusi yang menengok kembali pada khitah dan amanat konstitusi tertinggi kita: penolakan total terhadap segala bentuk penjajahan di atas dunia.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Ditampar Kakak Ipar Usai Akad Nikah di Takalar, Pengantin Pria Minta Cerai
Budiman S Minta Hakim MA Objektif Telisik Fakta Kasasi Sengketa Perdata PN Maros
HMI Gowa Kutuk Tindakan Represif Polrestabes, Demokrasi Bukan Untuk Dibungkam
Jokowi Injak Kepala Kerbau, Pengamat Tafsirkan Simbol Menantang Megawati
Berawal Baku Lirik Berakhir Tatap Polisi, Penganiaya Selebgram Makassar Diciduk
Pengendali Sabu Medan-Makassar Tak Dituntut, Nama Andido Tak Masuk Berkas JPU
Tak Puas Dibui, Kakak Korban Penyekapan Minta Mata Taufik Sontoloyo Dicungkil
14 Kapolres di Sulsel Dikocok Ulang, Gowa, Maros hingga Toraja Ganti Nakhoda

Berita Terkait

Rabu, 1 Juli 2026 - 01:50 WITA

Ditampar Kakak Ipar Usai Akad Nikah di Takalar, Pengantin Pria Minta Cerai

Selasa, 30 Juni 2026 - 14:54 WITA

Budiman S Minta Hakim MA Objektif Telisik Fakta Kasasi Sengketa Perdata PN Maros

Selasa, 30 Juni 2026 - 00:42 WITA

HMI Gowa Kutuk Tindakan Represif Polrestabes, Demokrasi Bukan Untuk Dibungkam

Senin, 29 Juni 2026 - 21:02 WITA

Jokowi Injak Kepala Kerbau, Pengamat Tafsirkan Simbol Menantang Megawati

Senin, 29 Juni 2026 - 12:40 WITA

Berawal Baku Lirik Berakhir Tatap Polisi, Penganiaya Selebgram Makassar Diciduk

Berita Terbaru