Zonafaktualnews.com – Isu sensitif kembali memanas setelah rilisnya Film Dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita.
Karya audio-visual terbaru hasil kolaborasi Cypri Paju Dale dan Dandhy Laksono ini langsung memicu perdebatan publik yang sangat sengit di berbagai lini masa.
Selain karena keberanian sutradara menggunakan istilah “kolonialisme” dalam konteks Papua, sebagian warganet juga mulai mempertanyakan judul film tersebut yang dinilai terlalu provokatif, mengingat sinema ini sama sekali tidak menampilkan tradisi pesta babi secara literal.
Menanggapi polemik yang menggelinding bak bola salju tersebut, Cypri Paju Dale akhirnya buka suara melalui sebuah pernyataan video.
Cypri menegaskan bahwa Film Dokumenter Pesta Babi ini tidak sedang bermain-main dengan sensasi murahan.
Sejak awal, proyek ini dirancang sebagai karya berbasis akademis dan kerja lapangan yang ketat.
“Film ini sebenarnya sebuah film yang berbasis penelitian sejarah dan antropologi, selain tentu saja investigasi jurnalistik dan analisis kebijakan,” ujar Cypri, Jumat, 15 Mei 2026.
Membongkar Kotak Pandora Papua
Bagi Cypri, penyematan istilah “kolonialisme” dalam judul dan narasi filmnya memiliki landasan metodologi yang kuat, bukan bumbu pemanis demi memantik kontroversi.
Istilah tersebut dipilih sebagai pisau bedah atau kerangka analisis untuk membaca persoalan Papua secara lebih luas, terstruktur, dan sistematis.
Selama ini, Cypri menilai label-label konvensional yang kerap dilekatkan pada Papua belum mampu memotret akar masalah secara utuh—baik itu label konflik bersenjata, pelanggaran HAM, keterbelakangan pembangunan, hingga masifnya deforestasi.
“Istilah kolonialisme dipakai karena ada kebutuhan untuk suatu kerangka analisis untuk memahami situasi Papua secara mendalam dan menyeluruh,” tegasnya.
Konsep kolonialisme ini sendiri, lanjut Cypri, bukanlah barang baru atau istilah asing yang dipaksakan dari luar.
Sebagian masyarakat Papua rupanya telah lama menggunakan terminologi tersebut untuk menggambarkan benturan pengalaman historis serta realitas politik yang mereka jalani sehari-hari.
Upaya Pembungkaman di Balik Layar?
Nahasnya, ketika sebuah karya mencoba menyajikan realitas dari sudut pandang yang berbeda, batu sandungan kerap menghadang.
Cypri mengklaim ada indikasi kuat mengenai upaya pembatasan sistematis agar Film Dokumenter Pesta Babi ini tidak meluas dan diakses oleh masyarakat luas.
Ada pihak-pihak tertentu yang tampaknya gerah jika dinamika riil di tanah Papua terbuka terang benderang.
“Film ini memang sedang dicegah oleh sejumlah pihak untuk sampai kepada penonton. Banyak pihak yang berusaha agar apa yang terjadi di Papua tidak diketahui oleh masyarakat luas,” ungkap Cypri lugas.
Menggoyang Zona Nyaman Semua Pihak
Pada ujung pernyataannya, Cypri secara jujur mengakui bahwa filmnya bukanlah tontonan yang ramah atau menyenangkan.
Karya ini memang sengaja dihadirkan untuk memicu ketidaknyamanan kolektif—sebuah tamparan keras yang efeknya tidak hanya dirasakan oleh lingkar kekuasaan, melainkan juga menyasar masyarakat sipil yang selama ini merasa sudah berada di barisan yang benar.
“Film ‘Pesta Babi’ mungkin mengganggu kita semua. Tidak hanya pemerintah dan aparat militer, tapi juga mungkin mengganggu bagi kita yang merasa sebagai warga yang baik, yang kritis, yang bersolidaritas terhadap orang Papua,” akunya.
Alih-alih saling melempar tuduhan tak berdasar di media sosial, Cypri menutup penjelasannya dengan sebuah undangan terbuka.
Ia mengajak seluruh lapisan publik untuk berani membuka ruang diskusi yang lebih jujur, jernih, dan objektif mengenai persoalan Papua, sebuah diskusi yang menengok kembali pada khitah dan amanat konstitusi tertinggi kita: penolakan total terhadap segala bentuk penjajahan di atas dunia.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















