Etnis Tionghoa Kuasai 50% Ekonomi RI, JK: Kita Yang Kurang

Sabtu, 13 Mei 2023 - 01:14 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Etnis Tionghoa Kuasai 50% Ekonomi RI, JK: Kita Yang Kurang

Jusuf Kalla di Acara Halalbihalal ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia)

Zonafaktualnews.com – Jusuf Kalla (JK) dalam pernyataannya di acara halal bihalal yang diselenggarakan oleh Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) di Hotel Borobudur, Jakarta, Jumat (12/5/2023) malam.

Menyinggung terkait ekonomi Indonesia yang dimana 50 persen lebih dikuasai oleh penduduk etnis Tionghoa. Yang sekiranya etnis Tionghoa tak lebih dari 5 persen di Indonesia.

“Kita di Indonesia penduduk Tionghoa itu hanya 4,5 persen tapi mengusai ekonomi lebih dari 50 persen. Jadi kekuatan 10 kali lipat dari pada jumlahnya,” ungkap JK.

Jusuf Kalla bahkan memberikan contoh negara tetangga kita, yaitu Malaysia yang 30 persen total penduduk Tiongho menguasai 60 persen ekonomi negara.

“Malaysia juga, tetapi Malaysia memang penduduk Tionghoa itu 30 persen. Jadi kalau ekonomi Malaysia 60 persen dikuasai Tionghoa, itu hanya 1 banding dua,” lanjut JK.

BACA JUGA :  JK Minta Jokowi Tidak Terlalu Melibatkan Diri dalam Politik

JK mengungkapkan bahwa minimnya warga Indonesia yang menjadi pengusaha merupakan masalah besar.

“Tentu (etnis Tionghoa), sahabat- sahabat kita juga penting, kerjanya bayar pajak, dia pekerjakan orang. Tapi tantangan terbesarnya ada di kita, Mereka tidak salah, yang kurang kita,” tuturnya.

“Karena itu tantangan kita yang terbesar sebenarnya pada dewasa ini. Adalah entrepreneurship. Bukan hanya ilmu saja. Semua di sini perilmuan cendikiawan,” sambungnya lagi.

Jusuf Kalla yang juga merupakan mantan Wakil Presiden (Wapres) RI Ke-10 dan Ke-12, mengungkapkan bahwa minat orang Indonesia untuk menjadi pengusaha berkurang. Menurutnya hal itu disebabkan oleh biaya politik yang tinggi.

JK pun mencontohkan dulu di Makassar pada tahun 50-an banyak pengusaha hebat, walau hanya berbekal tamatan SD hingga SMP.

BACA JUGA :  JK "Murka" Minta Lahan PT Vale Harus Segera Diambil Alih

“Zaman dulu saya kasih contoh di Makassar kira-kira ada 60 sampai 70 pengusaha hebat di tahun 50-an termasuk bapak saya cuman tamatan SD paling tinggi SMP,” kata JK.

Namun kini, banyak orang yang lulusan sarjana, mulai berkurang semangatnya untuk menjadi pengusaha.

Salah satu faktor penyebabnya yaitu politik, tingginya biaya yang harus dikeluarkan ketika akan terjun ke dunia politik, ditambah biaya kampanye dan sebagainya.

Orang-orang tersebut tentunya membutuhkan sponsor. Nah, pengusaha-pengusaha besar lah yang terpilih menjadi sponsor demi menutup biaya politik yang cukup besar. Sementara pengusaha kecil makin tersisihkan.

“Turun semangat itu, tapi itu juga karena politik, pengaruh. Kenapa itu, karena threshold 20%. Mau jadi anggota DPR jadi Gubernur tentu ada biayanya belum lagi kampanye perlu sponsor,” katanya.

BACA JUGA :  JK Sebut Syarat Jadi Ketum Golkar Harus Punya Modal Rp 600 Miliar

Dan ketika menjabat, Dia akan memberikan izin real estate, izin mall ,kadang taman pun jadi mall karena hutang itu.

“Jadi Bupati gaji 7 juta, ongkos jadi Bupati ratusan miliar, jadi Gubernur ratusan miliar, pastilah salah satu cara yang menurunkan biaya politik,” ungkapnya.

JK menyebut, hal itu merupakan masalah besar untuk sekarang dan masa yang akan datang. Dan bila ini dibiarkan, maka akan ada gap sosial di masyarakat.

“Nanti kalau ini terjadi akan ada gap sosial, apabila gap sosial akan jadi konflik sosial. Contohnya sekarang ibu-ibu aja pakai tas mahal langsung jadi musuh masyarakat,” tuturnya.

 

Editor : Atika

Berita Terkait

Pembalut Wanita “Dipalak” PPN 11 Persen, Pemerintah Diminta Kaji Ulang
Digeruduk Loyalis Usai Fitnah Anggota DPR RI, Kadispar Sultra Minta Maaf
Tawuran Pecah di Makassar, Konvoi Motor Diserang Pakai Busur dan Batu
Ekspor Gas Dibatasi, Politikus Singapura Ancam Potong Kabel Internet Indonesia
Geng Motor Tebar Busur Ketiban Sial, Motor Ludes Dibakar Massa di Makassar
Jimly Usul Ijazah Capres Dihapus, Netizen Sindir Terapkan di Semua Lembaga
Kejati Sulsel Diduga Kangkangi SE JamPIDUM, Suradi Siapkan Aduan ke Jamwas
Tak Jelas Usut Dugaan Korupsi KONI Rp15 M, Kejari Makassar Diseret ke Jamwas