Drama Saling Menggertak Berakhir, Iran dan AS Akhirnya “Ngopi Darat” Bahas Nuklir

Jumat, 6 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto ilustrasi Iran dan AS ngopi darat  

Foto ilustrasi Iran dan AS ngopi darat  

Zonafaktualnews.com – Setelah berhari-hari diwarnai drama saling menggertak dan ancaman, Iran dan Amerika Serikat (AS) akhirnya memilih “ngopi darat” di meja diplomasi.

Kedua negara sepakat melanjutkan perundingan nuklir yang akan digelar di Muscat, Oman, pada Jumat (6/2/2026).

Kesepakatan perundingan tersebut dikonfirmasi oleh kedua belah pihak pada Rabu (4/2/2026), usai sebelumnya muncul ketidakpastian terkait lokasi dan materi pembahasan yang akan dinegosiasikan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Pembicaraan nuklir dengan Amerika Serikat dijadwalkan digelar di Muscat sekitar pukul 10 pagi pada Jumat. Saya berterima kasih kepada saudara kami di Oman yang mengatur semua hal yang dibutuhkan,” kata Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi melalui akun media sosial X.

Amerika Serikat mengirim utusan khusus Presiden AS, Steve Witkoff, ke Oman untuk berunding langsung dengan Araghchi. Presiden AS Donald Trump turut mengonfirmasi agenda pertemuan tersebut.

“Mereka akan bernegosiasi,” ujar Trump menjawab pertanyaan wartawan di Gedung Putih.

BACA JUGA :  Presiden Prabowo Digugat ke PTUN, ART Indonesia-AS Dinilai Langgar Konstitusi

Sebelumnya, media Axios melaporkan adanya ketegangan diplomatik serius antara Washington dan Teheran yang nyaris menggagalkan perundingan.

Jurnalis Axios, Barak Ravid, mengutip pejabat AS yang menyebut Iran menolak membahas isu di luar pengayaan uranium dan program nuklir dalam perundingan tersebut.

Washington disebut menolak permintaan Iran untuk membatasi agenda perundingan hanya pada isu nuklir, sekaligus menolak perubahan lokasi dari Turki ke Oman. Iran juga menegaskan penolakan pembahasan soal rudal balistik dan kelompok proksi Iran di kawasan.

Seorang pejabat AS bahkan disebut melontarkan ultimatum kepada diplomat Iran.

“Antara isu di luar nuklir dibahas atau tidak sama sekali.” Pernyataan itu dibalas Teheran dengan respons singkat, “Baik, berarti tidak.”

Beberapa jam kemudian, Axios memperbarui laporannya dan mengonfirmasi bahwa perundingan tetap berlangsung, dengan Oman sebagai lokasi final.

“Pembicaraan nuklir antara AS dan Iran diperkirakan akan berlangsung di Oman pada Jumat,” tulis Barak Ravid melalui akun X, mengutip sumber Arab.

BACA JUGA :  Heboh Video Netanyahu Usai Rumor Tewas, Jari Ada 6 Picu Dugaan Deepfake

Laporan itu juga menyebut Iran menolak kehadiran perwakilan dari Turki, Mesir, dan Qatar. Teheran hanya bersedia berunding secara langsung dengan Amerika Serikat tanpa mediator tambahan.

Masih menurut Axios, sedikitnya sembilan negara Timur Tengah mendesak pemerintahan Trump agar tidak membatalkan perundingan tersebut. Meski sempat skeptis, AS akhirnya menyetujui pertemuan di Oman demi menghormati sekutu-sekutu regionalnya dan membuka peluang penyelesaian diplomatik.

Meski dialog kembali digelar, hasil perundingan dinilai sulit diprediksi. Seorang sumber Iran kepada RIA Novosti menyebut kerumitan situasi dan tindakan AS menjadi faktor utama ketidakpastian.

“Kurangnya kepercayaan terhadap pihak AS adalah tantangan utama, khususnya setelah langkah militer agresif AS dan Israel terhadap Iran dalam pembicaraan sebelumnya di Muscat,” ujarnya.

Sumber tersebut menilai langkah agresif itu telah memperlebar jurang ketidakpercayaan dan meningkatkan kehati-hatian Iran dalam setiap negosiasi.

Pada Januari lalu, Presiden Trump sempat menyatakan bahwa sebuah “armada besar” sedang menuju Iran, sembari berharap Teheran bersedia menandatangani kesepakatan yang adil dan setara, termasuk komitmen meninggalkan senjata nuklir.

BACA JUGA :  Begini Hasil “Ngopi Darat” Jokowi dengan Biden Soal Palestina

Ia juga memperingatkan serangan AS di masa depan akan “jauh lebih buruk” jika kesepakatan gagal tercapai.

Menanggapi hal itu, Abbas Araghchi menegaskan Iran memasuki perundingan dengan sikap waspada namun tetap beritikad baik.

“Komitmen harus dihargai. Berdiri setara, saling menghormati, dan kesamaan kepentingan bukan sekadar retorika, melainkan pilar kesepakatan yang bertahan lama,” tegasnya.

Sementara itu, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mengingatkan bahwa campur tangan eksternal terhadap Iran berisiko memperluas instabilitas kawasan.

Ia menilai diplomasi tetap menjadi jalan paling masuk akal, termasuk dalam isu nuklir.

“Kami percaya intervensi eksternal terhadap Iran adalah ancaman serius bagi kawasan, dan penyelesaian diplomatik adalah pilihan terbaik,” kata Erdogan.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Budiman S Minta Hakim MA Objektif Telisik Fakta Kasasi Sengketa Perdata PN Maros
HMI Gowa Kutuk Tindakan Represif Polrestabes, Demokrasi Bukan Untuk Dibungkam
Jokowi Injak Kepala Kerbau, Pengamat Tafsirkan Simbol Menantang Megawati
Berawal Baku Lirik Berakhir Tatap Polisi, Penganiaya Selebgram Makassar Diciduk
Pengendali Sabu Medan-Makassar Tak Dituntut, Nama Andido Tak Masuk Berkas JPU
Tak Puas Dibui, Kakak Korban Penyekapan Minta Mata Taufik Sontoloyo Dicungkil
14 Kapolres di Sulsel Dikocok Ulang, Gowa, Maros hingga Toraja Ganti Nakhoda
40 Tahun Mengabdi, Guru Ijah Jadi Simbol Kesenjangan dalam Realisasi Anggaran MBG

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 14:54 WITA

Budiman S Minta Hakim MA Objektif Telisik Fakta Kasasi Sengketa Perdata PN Maros

Selasa, 30 Juni 2026 - 00:42 WITA

HMI Gowa Kutuk Tindakan Represif Polrestabes, Demokrasi Bukan Untuk Dibungkam

Senin, 29 Juni 2026 - 21:02 WITA

Jokowi Injak Kepala Kerbau, Pengamat Tafsirkan Simbol Menantang Megawati

Senin, 29 Juni 2026 - 12:40 WITA

Berawal Baku Lirik Berakhir Tatap Polisi, Penganiaya Selebgram Makassar Diciduk

Minggu, 28 Juni 2026 - 20:13 WITA

Pengendali Sabu Medan-Makassar Tak Dituntut, Nama Andido Tak Masuk Berkas JPU

Berita Terbaru