Walhi Soroti Ketertutupan Medco, Dana CSR di Aceh Timur Diduga Tak Tepat Sasaran

Rabu, 5 November 2025 - 22:17 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, Ahmad Shalihin

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh, Ahmad Shalihin

Zonafaktualnews.com – Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Aceh menyoroti ketidaktransparanan PT Medco E&P Malaka dalam pengelolaan dana tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) dan Participating Interest (PI) di wilayah operasi migas Blok A, Kecamatan Julok, Kabupaten Aceh Timur.

Direktur Walhi, Ahmad Shalihin menyatakan bahwa kehadiran industri migas seharusnya membawa manfaat langsung bagi masyarakat sekitar. Namun, hingga kini, pelaksanaan program CSR dinilai belum menjawab kebutuhan riil masyarakat.

“CSR bukan sekadar kegiatan seremonial atau formalitas laporan tahunan. Program itu harus mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat, terutama di kawasan lingkar tambang,” ujar Ahmad Shalihin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (5/11/2025).

BACA JUGA :  Praktik “Berjamaah” DPR Gunakan CSR BI, Said Didu: Hancuurr Bangsa Ini!

Menurutnya, sebagian besar kegiatan sosial Medco masih terfokus pada wilayah tertentu dan dikelola langsung oleh perusahaan, tanpa pelibatan aktif Pemerintah Kabupaten Aceh Timur.

Kondisi ini memunculkan kecemburuan sosial di sejumlah desa seperti Jambo Bale, Alue Ie Mirah, Jambo Lubok, dan Suka Makmu.

Ahmad Shalihin menegaskan, CSR dan PI bukan bentuk kemurahan hati korporasi, melainkan bagian dari hak ekonomi daerah.

BACA JUGA :  Jangan Ada yang Luput, KPK Diminta Periksa Deputi BI Filianingsih dan Gubernur Riau

Ia mendorong agar Medco membuka data dan mekanisme pengelolaan dana secara terbuka kepada publik.

“Transparansi menjadi kunci. Masyarakat berhak tahu ke mana dana CSR dan PI disalurkan. Pemerintah daerah harus turut mengawasi agar manfaatnya dirasakan langsung oleh warga,” tambahnya.

Sebelumnya, sejumlah aksi protes terjadi di kawasan operasi Blok A. Warga dari beberapa desa menuntut pemerataan program CSR serta perbaikan infrastruktur di sekitar wilayah kerja Medco.

Aksi terbesar terjadi di Desa Bandar Baro pada 28 Oktober 2025, ketika warga sempat mengambil alih sumur minyak JR 50 sebagai bentuk kekecewaan terhadap perusahaan.

BACA JUGA :  Bank Sulselbar Barru Ogah Keterbukaan Publik, Penggunaan Dana CSR Ditutup-tutupi

Walhi menilai, kehadiran industri migas di Aceh Timur harus disertai tanggung jawab sosial yang nyata, bukan sekadar janji.

“Investasi harus memberi nilai tambah bagi daerah, bukan meninggalkan kerusakan lingkungan dan kesenjangan sosial,” pungkasnya.

(RL/ID)
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Tower 2 RS HAH Dibangun Rp6 Miliar, Benarkah Masih Pakai AMDAL Lama?
Pria Lansia Tewas di Kanal Batua Raya, Eceng Gondok Jadi Biang Kerok Pencarian
Kasus Pengancaman Dosen UIN Alauddin Makassar, LKBHMI Ambil Sikap Tegas
Owner Arashi Cosmetindo Bagi-bagi Coffee Gratis di Antrean BBM Makassar
Aturan Pemprov Sulsel-Pertamina Diinjak-injak, Sopir Truk Tetap Isi BBM Siang
Rumor Aksi September Hitam Diprediksi Akan Ricuh Tanggal 24 Mendatang
Truk Dilarang Isi BBM Siang Hari di Makassar, Satgas BBM Diminta Sikat Bila Langgar
Kebijakan Pengisian BBM di Makassar Berlaku, Plat Nomor Ganjil Genap Diatur

Berita Terkait

Selasa, 15 September 2026 - 01:28 WITA

Tower 2 RS HAH Dibangun Rp6 Miliar, Benarkah Masih Pakai AMDAL Lama?

Selasa, 15 September 2026 - 01:06 WITA

Pria Lansia Tewas di Kanal Batua Raya, Eceng Gondok Jadi Biang Kerok Pencarian

Selasa, 15 September 2026 - 00:12 WITA

Kasus Pengancaman Dosen UIN Alauddin Makassar, LKBHMI Ambil Sikap Tegas

Senin, 14 September 2026 - 23:52 WITA

Owner Arashi Cosmetindo Bagi-bagi Coffee Gratis di Antrean BBM Makassar

Senin, 14 September 2026 - 15:00 WITA

Aturan Pemprov Sulsel-Pertamina Diinjak-injak, Sopir Truk Tetap Isi BBM Siang

Berita Terbaru