Usai Viral Joget dan Pamer Rp6 Juta per Hari, Pengelola SPPG Minta Maaf

Kamis, 26 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengelola SPPG, Hendrik Irawan menyampaikan permohonan maaf usai video joget dan polemik insentif Rp6 juta per hari viral di media sosial.

Pengelola SPPG, Hendrik Irawan menyampaikan permohonan maaf usai video joget dan polemik insentif Rp6 juta per hari viral di media sosial.

Zonafaktualnews.com – Viralnya video pengelola Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berjoget di dapur operasional sambil membahas insentif Rp6 juta per hari berbuntut panjang.

Badan Gizi Nasional (BGN) akhirnya mengambil tindakan tegas dengan memberikan teguran keras hingga membekukan sementara operasional dapur MBG tersebut.

Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menyampaikan bahwa izin operasional SPPG di wilayah Pangauban, Batujajar, Kabupaten Bandung Barat yang dikelola Hendrik Irawan untuk sementara dihentikan setelah dilakukan evaluasi dan inspeksi langsung di lokasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurut Nanik, keputusan suspend tidak hanya dipicu oleh video viral yang menuai polemik di media sosial, tetapi juga karena ditemukan sejumlah pelanggaran teknis di dapur produksi makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

BACA JUGA :  Mulut Berbusa hingga Kejang, Siswi SMKN 1 Cihampelas Meninggal, Isu MBG Merebak

Dari hasil inspeksi mendadak, tim BGN menemukan bahwa tata letak dapur tidak sesuai dengan petunjuk teknis yang telah ditetapkan.

Selain itu, sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) juga dinilai tidak memenuhi standar yang seharusnya diterapkan dalam dapur produksi makanan untuk program pemerintah.

BGN menilai pelanggaran tersebut cukup serius karena berkaitan langsung dengan standar kebersihan, sanitasi, dan keamanan makanan yang akan dikonsumsi oleh anak-anak sebagai penerima manfaat program MBG.

Nanik juga menegaskan bahwa program MBG merupakan program negara yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi dan sumber daya manusia, sehingga para mitra diminta untuk bekerja secara profesional dan tidak menjadikan program tersebut sekadar ajang bisnis atau konten media sosial.

BACA JUGA :  Isu Tak Sedap Menghantam MBG Cempa, Pengelola Bongkar Fakta Penarikan Peralatan

Sementara itu, Hendrik Irawan melalui media sosialnya menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat, Badan Gizi Nasional, serta Presiden Prabowo Subianto atas kegaduhan yang terjadi akibat video joget dan polemik insentif Rp6 juta per hari yang menjadi perbincangan publik.

Ia menjelaskan bahwa dana Rp6 juta per hari yang ramai dibicarakan bukan berasal dari anggaran makan anak-anak, melainkan merupakan bentuk penggantian investasi pribadi yang ia keluarkan untuk membangun dapur SPPG dari nol.

Hendrik mengaku telah menginvestasikan dana pribadi sekitar Rp3,5 miliar untuk membangun fasilitas dapur di atas lahan hampir 1.000 meter persegi.

Menurutnya, insentif harian tersebut merupakan skema pengembalian investasi selama program berjalan dan hingga kini ia mengaku masih belum mencapai titik balik modal.

BACA JUGA :  Media Sosial Ramai Plesetan MBG Jadi Makan Beracun Gratis, Legislator PDIP Prihatin

Terkait video joget yang viral, ia mengakui kesalahannya dan menyatakan tidak memiliki niat merendahkan program pemerintah maupun masyarakat. Ia berjanji akan lebih profesional dalam menjalankan program MBG ke depan.

Untuk membuktikan komitmennya, Hendrik bahkan mengundang masyarakat dan netizen untuk datang langsung ke dapur SPPG pada 27 Maret 2026 dalam acara makan gratis dan demo memasak menu MBG dengan harga Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi, sebagai bentuk transparansi kualitas makanan yang diproduksi.

Ia juga menyatakan siap mundur dari program MBG apabila terbukti kualitas makanan yang diproduksi tidak sesuai standar yang telah ditetapkan pemerintah.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Viral Servis Intim Bebas Remas “Novi Chindo” dan Tukang Cilok, Video Diburu Netizen
Tambang di Maros Diduga Sedot Solar Subsidi Negara dengan Tameng Izin IUP OP
Pelaku Penyekapan dan Pemerkosa Mahasiswi Perantau di Makassar Ditangkap
Prabowo Sebut Warga Desa Tak Terdampak Dolar Saat Rupiah Melemah
Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi
Mahasiswi Perantau di Makassar Disekap dan Diperkosa Modus Loker Palsu
Fasilitas Tahanan Rumah Terdakwa Korupsi Nadiem Makarim Dinilai Cederai Keadilan
Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik

Berita Terkait

Senin, 18 Mei 2026 - 18:00 WITA

Viral Servis Intim Bebas Remas “Novi Chindo” dan Tukang Cilok, Video Diburu Netizen

Senin, 18 Mei 2026 - 16:11 WITA

Tambang di Maros Diduga Sedot Solar Subsidi Negara dengan Tameng Izin IUP OP

Senin, 18 Mei 2026 - 13:09 WITA

Pelaku Penyekapan dan Pemerkosa Mahasiswi Perantau di Makassar Ditangkap

Minggu, 17 Mei 2026 - 01:18 WITA

Prabowo Sebut Warga Desa Tak Terdampak Dolar Saat Rupiah Melemah

Sabtu, 16 Mei 2026 - 01:35 WITA

Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi

Berita Terbaru