Trump Gulingkan Maduro Demi Minyak, Lalu Klaim Diri Presiden Venezuela

Kamis, 15 Januari 2026 - 00:54 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Donald Trump (Ist)

Donald Trump (Ist)

Zonafaktualnews.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela memasuki fase paling ekstrem setelah Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Di balik dalih perang terhadap narkoba dan terorisme, muncul tudingan keras bahwa langkah Washington sesungguhnya dipicu oleh ambisi menguasai kekayaan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu terbesar di dunia.

Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, secara terbuka mempertanyakan motif di balik serangan terhadap Caracas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kebijakan Trump tidak berangkat dari kepentingan keamanan, melainkan dari kalkulasi ekonomi yang berpusat pada cadangan energi Venezuela.

Ia menilai alasan pemberantasan narkoba hanya dijadikan pembenaran, sementara tujuan utama Washington adalah merebut kendali atas sumber daya minyak.

Auchincloss menyebut bahwa sebagian besar jalur perdagangan narkoba justru mengarah ke Eropa, bukan ke Amerika Serikat.

Bahkan, ia menegaskan bahwa krisis narkoba yang mematikan di AS lebih disebabkan oleh fentanyl dari Asia, bukan kokain dari Amerika Latin.

BACA JUGA :  Amerika Gempur Venezuela, Trump Klaim Presiden Nicolas Maduro Ditangkap

Karena itu, ia menyimpulkan operasi militer ke Venezuela sebagai bentuk eksploitasi atas kekayaan alam negara tersebut.

Tak lama setelah Maduro ditangkap dan dibawa ke New York bersama istrinya, Cilia Flores, Trump justru semakin blak-blakan.

Dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan energi Amerika akan segera masuk ke Venezuela dengan investasi bernilai miliaran dolar.

Ia mengatakan infrastruktur minyak negara itu akan diperbaiki dan produksi akan ditingkatkan untuk menghasilkan keuntungan bagi Amerika Serikat.

Venezuela sendiri diketahui memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak, setara dengan 17 persen dari total cadangan dunia—bahkan melampaui Arab Saudi dan Iran.

Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di negara itu, dengan ekspor sekitar 140 ribu barel per hari pada akhir 2025.

BACA JUGA :  Trump Singgung Kekalahan Israel, Perdamaian Gaza Tinggal Selangkah Lagi

Hubungan Trump dan Maduro sebenarnya telah lama tegang sejak masa jabatan pertama Trump. Namun, situasi memburuk drastis sejak September tahun lalu ketika militer AS mulai menggempur kapal-kapal di perairan Venezuela dengan alasan penyelundupan narkoba.

Serangkaian pengerahan pasukan dan persenjataan di kawasan Karibia semakin memperkuat kecurigaan Caracas bahwa Washington tengah menyiapkan skenario penggulingan kekuasaan.

Di tengah eskalasi itu, Trump memicu kontroversi baru dengan mengunggah foto dirinya sebagai “Pejabat Presiden Venezuela” di platform Truth Social.

Unggahan itu muncul hanya beberapa hari setelah operasi militer digelar dan Maduro ditangkap. Meski tidak diakui oleh badan internasional mana pun, langkah tersebut memperkuat kesan bahwa AS tengah mencoba mengambil alih kendali politik Venezuela.

Trump bahkan menyatakan pemerintahannya akan mengelola Venezuela selama masa transisi, dengan alasan menjaga stabilitas dan keamanan. Ia juga mengumumkan bahwa AS akan mengawasi serta menjual minyak Venezuela ke pasar global.

BACA JUGA :  Rocky Gerung: Anak SD di NTT “Memilih” Bunuh Diri, Negara Lebih Sibuk Biayai Trump

Sementara itu, Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara setelah penangkapan Maduro.

Langkah Washington menuai kecaman dari berbagai negara, termasuk China, Rusia, Kolombia, dan Spanyol, yang menilai operasi militer tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan hukum internasional. Namun Trump tetap bergeming.

Ia mengklaim telah terjadi pembebasan tahanan politik dan menyebutnya sebagai sinyal menuju perdamaian.

Di saat yang sama, Trump mendorong perusahaan-perusahaan migas AS untuk menanamkan investasi hingga US$100 miliar di Venezuela dan mengumumkan kesepakatan pasokan 50 juta barel minyak mentah ke Amerika Serikat.

Menurutnya, langkah ini akan membantu menekan harga energi di dalam negeri, sekaligus memperkuat posisi AS di pasar energi global.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Kejari Ekspose Kasus Korupsi Jalan Beton PUPR Parepare 2025
Anak Jahanam di Kuningan Bunuh Ibu Kandung hanya karena Dibangunkan Salat
Rugikan Negara Rp223,6 Miliar, KPK Jebloskan 4 Tersangka Iklan Bank BJB
Asyik Berdua Saat Suami Kerja, Istri di Bone dan Selingkuhan Digerebek Warga
Sultan Brunei Lucuti Gelar Kebangsawanan Istri Pangeran Abdul Malik
2 Tahun Hilang, Gadis Wajo Ternyata Dibunuh Sopir Travel Pakai Kunci Roda
Dg Kuttu Tertipu Janda Glowing, Wajah Putih, Leher Hitam
Mentan Ditantang Buka Data Anggaran Rp2,5 Triliun untuk Pertanian Aceh

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 00:12 WITA

Kejari Ekspose Kasus Korupsi Jalan Beton PUPR Parepare 2025

Rabu, 12 Agustus 2026 - 09:41 WITA

Anak Jahanam di Kuningan Bunuh Ibu Kandung hanya karena Dibangunkan Salat

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:04 WITA

Rugikan Negara Rp223,6 Miliar, KPK Jebloskan 4 Tersangka Iklan Bank BJB

Rabu, 12 Agustus 2026 - 00:03 WITA

Asyik Berdua Saat Suami Kerja, Istri di Bone dan Selingkuhan Digerebek Warga

Selasa, 11 Agustus 2026 - 01:44 WITA

Sultan Brunei Lucuti Gelar Kebangsawanan Istri Pangeran Abdul Malik

Berita Terbaru