Trump Gulingkan Maduro Demi Minyak, Lalu Klaim Diri Presiden Venezuela

Kamis, 15 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Donald Trump (Ist)

Donald Trump (Ist)

Zonafaktualnews.com – Ketegangan antara Amerika Serikat dan Venezuela memasuki fase paling ekstrem setelah Presiden Donald Trump memerintahkan operasi militer yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Di balik dalih perang terhadap narkoba dan terorisme, muncul tudingan keras bahwa langkah Washington sesungguhnya dipicu oleh ambisi menguasai kekayaan minyak Venezuela, yang merupakan salah satu terbesar di dunia.

Anggota Kongres AS dari Partai Demokrat, Jake Auchincloss, secara terbuka mempertanyakan motif di balik serangan terhadap Caracas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, kebijakan Trump tidak berangkat dari kepentingan keamanan, melainkan dari kalkulasi ekonomi yang berpusat pada cadangan energi Venezuela.

Ia menilai alasan pemberantasan narkoba hanya dijadikan pembenaran, sementara tujuan utama Washington adalah merebut kendali atas sumber daya minyak.

Auchincloss menyebut bahwa sebagian besar jalur perdagangan narkoba justru mengarah ke Eropa, bukan ke Amerika Serikat.

Bahkan, ia menegaskan bahwa krisis narkoba yang mematikan di AS lebih disebabkan oleh fentanyl dari Asia, bukan kokain dari Amerika Latin.

BACA JUGA :  Trump Incar Relokasi 1 Juta Warga Gaza ke Libya Secara Permanen

Karena itu, ia menyimpulkan operasi militer ke Venezuela sebagai bentuk eksploitasi atas kekayaan alam negara tersebut.

Tak lama setelah Maduro ditangkap dan dibawa ke New York bersama istrinya, Cilia Flores, Trump justru semakin blak-blakan.

Dalam konferensi pers di kediamannya di Mar-a-Lago, Florida, Trump menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan energi Amerika akan segera masuk ke Venezuela dengan investasi bernilai miliaran dolar.

Ia mengatakan infrastruktur minyak negara itu akan diperbaiki dan produksi akan ditingkatkan untuk menghasilkan keuntungan bagi Amerika Serikat.

Venezuela sendiri diketahui memiliki sekitar 303 miliar barel cadangan minyak, setara dengan 17 persen dari total cadangan dunia—bahkan melampaui Arab Saudi dan Iran.

Saat ini, Chevron menjadi satu-satunya perusahaan minyak AS yang masih beroperasi di negara itu, dengan ekspor sekitar 140 ribu barel per hari pada akhir 2025.

BACA JUGA :  Diplomasi Gagal! Presiden Jerman Kecam Trump atas Sikapnya terhadap Zelenskyy

Hubungan Trump dan Maduro sebenarnya telah lama tegang sejak masa jabatan pertama Trump. Namun, situasi memburuk drastis sejak September tahun lalu ketika militer AS mulai menggempur kapal-kapal di perairan Venezuela dengan alasan penyelundupan narkoba.

Serangkaian pengerahan pasukan dan persenjataan di kawasan Karibia semakin memperkuat kecurigaan Caracas bahwa Washington tengah menyiapkan skenario penggulingan kekuasaan.

Di tengah eskalasi itu, Trump memicu kontroversi baru dengan mengunggah foto dirinya sebagai “Pejabat Presiden Venezuela” di platform Truth Social.

Unggahan itu muncul hanya beberapa hari setelah operasi militer digelar dan Maduro ditangkap. Meski tidak diakui oleh badan internasional mana pun, langkah tersebut memperkuat kesan bahwa AS tengah mencoba mengambil alih kendali politik Venezuela.

Trump bahkan menyatakan pemerintahannya akan mengelola Venezuela selama masa transisi, dengan alasan menjaga stabilitas dan keamanan. Ia juga mengumumkan bahwa AS akan mengawasi serta menjual minyak Venezuela ke pasar global.

BACA JUGA :  Trump Cabut Postingan Mirip Yesus, Klaim Hanya Dokter Sedang Menyembuhkan

Sementara itu, Wakil Presiden Delcy Rodriguez dilantik sebagai presiden sementara setelah penangkapan Maduro.

Langkah Washington menuai kecaman dari berbagai negara, termasuk China, Rusia, Kolombia, dan Spanyol, yang menilai operasi militer tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap kedaulatan dan hukum internasional. Namun Trump tetap bergeming.

Ia mengklaim telah terjadi pembebasan tahanan politik dan menyebutnya sebagai sinyal menuju perdamaian.

Di saat yang sama, Trump mendorong perusahaan-perusahaan migas AS untuk menanamkan investasi hingga US$100 miliar di Venezuela dan mengumumkan kesepakatan pasokan 50 juta barel minyak mentah ke Amerika Serikat.

Menurutnya, langkah ini akan membantu menekan harga energi di dalam negeri, sekaligus memperkuat posisi AS di pasar energi global.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Refly Harun dan Jahmada Nyaris Baku Hantam di Live TV, Sempat Saling Dorong
MBG di Nabire Mendadak “Sempurna”, Siswa Baru Rasakan Enak Saat Gibran Datang
7 Karakter Kuat Orang yang Tidak Pernah Umbar Kehidupan Pribadi di Medsos
Niat Selesaikan Masalah Anak, Pria di Kodingareng Tewas di Tangan Sesama Nelayan
Polemik Pencemaran Lingkungan di Pabrik TSM Gowa “Deal”, Bukti Belum Bicara
Ayah Tiri di Mamuju Perkosa Gadis ABG, 5 Tahun Terpendam Baru Terungkap
Cekcok Berujung Penganiayaan, Anak Bupati Jeneponto Dilaporkan ke Polisi
Perjalanan dari Jakarta Berakhir Tragis, Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Diserang

Berita Terkait

Rabu, 22 April 2026 - 17:44 WITA

Refly Harun dan Jahmada Nyaris Baku Hantam di Live TV, Sempat Saling Dorong

Rabu, 22 April 2026 - 16:11 WITA

MBG di Nabire Mendadak “Sempurna”, Siswa Baru Rasakan Enak Saat Gibran Datang

Rabu, 22 April 2026 - 15:15 WITA

7 Karakter Kuat Orang yang Tidak Pernah Umbar Kehidupan Pribadi di Medsos

Selasa, 21 April 2026 - 19:44 WITA

Niat Selesaikan Masalah Anak, Pria di Kodingareng Tewas di Tangan Sesama Nelayan

Selasa, 21 April 2026 - 18:48 WITA

Polemik Pencemaran Lingkungan di Pabrik TSM Gowa “Deal”, Bukti Belum Bicara

Berita Terbaru