Efek Domino Konflik Iran, Publik AS Ramai-ramai Dorong Pemakzulan Trump

Jumat, 10 April 2026 - 11:01 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Efek Domino Konflik Iran, Publik AS Ramai-ramai Dorong Pemakzulan Trump

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (Ist)

Zonafaktualnews.com – Kebijakan konfrontatif yang ditempuh pemerintahan Donald Trump dalam konflik dengan Iran mulai berbalik arah menjadi tekanan serius dari dalam negeri.

Alih-alih memperkuat posisi politiknya, langkah agresif tersebut justru memicu gelombang penolakan publik yang kini berkembang menjadi desakan terbuka untuk pemakzulan.

Hasil jajak pendapat yang dipublikasikan Newsweek menunjukkan perubahan signifikan dalam sikap masyarakat.

Sebanyak 52 persen pemilih terdaftar menyatakan setuju Trump dicopot dari jabatannya, sementara 40 persen lainnya menolak.

Bahkan, retakan mulai terlihat di basis pendukungnya sendiri, dengan sebagian pemilih Partai Republik ikut menyuarakan dukungan terhadap pemakzulan.

Survei tersebut melibatkan 790 responden dan digagas oleh John Bonifaz bersama lembaga jajak pendapat yang dipimpin Celinda Lake.

Bonifaz menyebut lonjakan dukungan pemakzulan ini sebagai fenomena yang tidak lazim dalam dinamika politik Amerika Serikat.

“Ini adalah situasi yang belum pernah terjadi pada fase awal pemerintahan seorang presiden,” ujar Bonifaz dalam konferensi pers, dikutip, Jumat (10/4/2026).

BACA JUGA :  Trump Ditembak di Pennsylvania, Satu Tewas dan Dua Terluka

Menurutnya, meskipun masa jabatan Trump saat ini secara teknis merupakan periode kedua, perubahan opini publik terjadi jauh lebih cepat dibandingkan presiden lain yang pernah menghadapi ancaman serupa, termasuk Richard Nixon.

Lonjakan tekanan politik ini tak lepas dari kebijakan militer Trump terhadap Iran yang dinilai kontroversial.

Keputusan tersebut tidak hanya mengguncang stabilitas geopolitik, tetapi juga berdampak langsung pada kepercayaan masyarakat terhadap kepemimpinan di Gedung Putih.

Ketegangan sempat mencapai puncaknya pada 7 April, ketika Trump melontarkan pernyataan ekstrem dengan memperingatkan kemungkinan “akhir peradaban” jika Iran tidak membuka kembali jalur strategis Selat Hormuz. Pernyataan itu menuai kritik luas dan memperparah persepsi negatif publik.

Walau jalur pelayaran tersebut akhirnya kembali dibuka menyusul kesepakatan gencatan senjata sementara, dampak politiknya sudah terlanjur terasa.

Tingkat persetujuan terhadap kinerja Trump turun menjadi 39 persen, dari sebelumnya 42 persen sebelum konflik memanas. Sebaliknya, angka penolakan melonjak hingga 53 persen.

BACA JUGA :  Tak Ada Kemenangan pada Perang, yang Ada Kehancuran

Survei yang sama juga mengungkap polarisasi tajam di tingkat pemilih. Mayoritas besar pendukung Partai Demokrat (84 persen) mendukung pemakzulan, sementara 81 persen pemilih Partai Republik menolaknya.

Kelompok independen yang kerap menjadi penentu justru cenderung berpihak pada opsi pencopotan, dengan dukungan mencapai 55 persen.

Tekanan dari publik ini segera direspons oleh kalangan legislatif di Capitol Hill. Anggota DPR AS dari Partai Demokrat, John Larson, secara resmi mengajukan pasal pemakzulan dengan menyoroti kebijakan Trump dalam konflik Iran.

Dalam pernyataannya, Larson menilai tindakan Trump telah melampaui batas konstitusi dan membawa konsekuensi serius bagi rakyat Amerika.

“Donald Trump telah memenuhi syarat untuk dicopot dari jabatannya. Perang yang ia lakukan tidak hanya membebani ekonomi keluarga Amerika, tetapi juga merenggut nyawa,” tegasnya.

BACA JUGA :  Rudal Hantam Bunker Petinggi Israel, Tel Aviv Gelap dan Kilang Minyak Ikut Terbakar

Ia juga mengkritik keras gaya komunikasi Trump yang dianggap berbahaya. “Pernyataan-pernyataannya tidak hanya tidak pantas, tetapi juga berpotensi mengarah pada pelanggaran serius dan mengancam keamanan nasional,” tambahnya.

Menanggapi langkah tersebut, Trump justru merespons dengan nada meremehkan. Dalam sebuah rapat umum, ia menyindir Larson sebagai sosok yang tidak dikenal, sembari mengecilkan upaya pemakzulan yang kembali mencuat.

Meski tekanan publik terus meningkat, realitas politik di parlemen masih menjadi penghalang besar. Proses pemakzulan membutuhkan dukungan mayoritas di DPR serta dua pertiga suara di Senat.

Saat ini, Partai Republik masih menguasai kedua lembaga tersebut, sehingga peluang Trump untuk benar-benar dimakzulkan dinilai masih sangat kecil.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Pengamat Peringatkan Risiko “People Power Di-Nepal-kan” Jika Gibran Tak Mundur
Husniah Talenrang Lengser, Darmawangsyah Muin Pegang Kemudi Plt Bupati Gowa
Minta Gibran Lengser, Rocky Bak Kerbau Dicocok Hidungnya Usai Disemprot Bakom
Simulasi Pemakzulan Beredar di Medsos, DPR Ditantang Lengserkan Gibran
Siswi SMPN 5 Sungguminasa Dianiaya Kakak Kelas, Sekolah Lepas Tangan?
Kabut Asap Karhutla “Serang” Makassar, Racun PM2.5 Ancam Kesehatan Warga
Neon Box Nganro Mart di Barru “Offside”, Tinggal Tunggu Dihantam Truk
Balap Liar di Gowa Didenda Rp 3 Juta, Polisi Didesak Transparansi Soal BRIVA

Berita Terkait

Kamis, 15 Oktober 2026 - 12:24 WITA

Pengamat Peringatkan Risiko “People Power Di-Nepal-kan” Jika Gibran Tak Mundur

Kamis, 15 Oktober 2026 - 08:48 WITA

Husniah Talenrang Lengser, Darmawangsyah Muin Pegang Kemudi Plt Bupati Gowa

Rabu, 14 Oktober 2026 - 22:21 WITA

Minta Gibran Lengser, Rocky Bak Kerbau Dicocok Hidungnya Usai Disemprot Bakom

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:48 WITA

Simulasi Pemakzulan Beredar di Medsos, DPR Ditantang Lengserkan Gibran

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:38 WITA

Siswi SMPN 5 Sungguminasa Dianiaya Kakak Kelas, Sekolah Lepas Tangan?

Berita Terbaru