Zonafaktualnews.com – Saham Raja Nikel tercatat masih tertahan pergerakannya meski indeks harga saham gabungan (IHSG) berhasil mencetak rekor baru di level 8.700.
Saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), emiten nikel dengan cadangan terbesar di Indonesia, dinilai belum menunjukkan performa maksimal.
Meski begitu, analis melihat adanya peluang kebangkitan seiring arah kebijakan pemerintah di sektor nikel.
Analis Yuanta Sekuritas dalam riset terbarunya menyebut pemerintah berencana menerapkan moratorium investasi nikel, mencakup nickel pig iron (NPI), produk nikel kelas 2, mixed hydroxide precipitate (MHP), hingga nikel matte.
Kebijakan ini ditujukan untuk meningkatkan nilai tambah nikel nasional dan diyakini dapat menjadi katalis positif bagi Saham Raja Nikel.
“Kebijakan tersebut tidak akan langsung mendorong kenaikan harga nikel dunia karena smelter yang masih dalam tahap konstruksi tetap dikecualikan dari moratorium,” tulis Yuanta dalam risetnya yang dikutip Senin (15/12/2025).
Yuanta juga mencatat tekanan harga NPI masih terjadi akibat faktor musiman. Selain itu, beberapa fasilitas high pressure acid leach (HPAL) yang memproduksi MHP diperkirakan mulai beroperasi pada tahun depan, sehingga menambah kapasitas sekitar 500 ribu ton per tahun.
Kondisi ini dinilai masih menahan pergerakan harga nikel dalam jangka pendek, termasuk bagi Saham Raja Nikel.
Meski demikian, dalam jangka panjang Yuanta menilai pengetatan investasi smelter merupakan langkah tepat untuk mengurangi kelebihan pasokan nikel di pasar global.
“Langkah ini berpotensi mendukung pemulihan harga nikel, terutama MHP yang digunakan sebagai bahan baku precursor baterai kendaraan listrik,” tulis Yuanta.
Selain itu, pemerintah juga disebut berencana membatasi produksi bijih nikel. Kebijakan ini diyakini akan menjaga harga bijih nikel tetap berada di level premium, dengan kisaran harga diperkirakan mencapai US$ 20 per ton, sehingga memperkuat prospek Saham Raja Nikel ke depan.
Yuanta mencatat, meski harga nikel global masih terkoreksi sekitar 3%, saham-saham nikel di Bursa Efek Indonesia tetap menarik untuk dicermati.
MBMA dipilih sebagai top pick sektor nikel karena dinilai memiliki kombinasi risiko dan peluang yang menarik serta potensi pembalikan kinerja keuangan.
“Rekomendasi kami untuk MBMA adalah buy dengan target harga Rp 750, mencerminkan potensi kenaikan sekitar 40%,” tulis Yuanta.
Sementara itu, saham PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) atau Harita Nickel juga direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.500.
Yuanta menilai NCKL relatif lebih defensif di tengah volatilitas harga nikel karena merupakan salah satu pionir industri pengolahan nikel di Indonesia, sekaligus memperkuat daya tarik Saham Raja Nikel di pasar.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















