KPK Sesalkan Vonis Setnov Dipangkas, Doakan Hakim Diadili Tuhan

Kamis, 3 Juli 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto (Foto Antara)

Terdakwa kasus korupsi KTP Elektronik Setya Novanto (Foto Antara)

Zonafaktualnews.com – KPK angkat suara soal dikabulkannya Peninjauan Kembali (PK) oleh Mahkamah Agung terhadap terpidana kasus mega korupsi e-KTP, Setya Novanto. Vonis pria yang akrab disapa Setnov itu dipangkas dari 15 tahun menjadi 12 tahun 6 bulan penjara.

Wakil Ketua KPK, Johanis Tanak, menyayangkan keputusan tersebut. Menurutnya, putusan itu menjadi ironi besar dalam upaya pemberantasan korupsi yang selama ini digembar-gemborkan pemerintah.

Johanis tak bisa menyembunyikan kekecewaannya dan menyindir keras para hakim yang terlibat dalam putusan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Putusan itu kelak tidak hanya akan dimintai pertanggungjawaban di dunia, tapi juga di hadapan Tuhan,” tegas Tanak dalam pernyataan tertulisnya, Rabu (2/7/2025).

BACA JUGA :  Buru Harun Masiku, KPK Minta Bantuan kepada Masyarakat

Johanis menilai pengurangan hukuman terhadap Setnov justru melemahkan semangat penegakan hukum atas kejahatan luar biasa seperti korupsi.

Ia mengingatkan bahwa hukum pidana korupsi memberikan ruang untuk hukuman maksimal, termasuk hukuman mati, demi menjaga uang rakyat dari penjarahan elite.

“Sudah seharusnya pelaku korupsi dihukum seberat-beratnya. Bukan sebaliknya, malah diberi keringanan,” katanya.

Dalam pernyataannya, Tanak juga mengenang sosok mendiang Artidjo Alkostar, hakim agung yang terkenal galak terhadap para koruptor.

Ia membandingkan bagaimana dulu para terpidana enggan mengajukan kasasi atau PK karena takut hukumannya diperberat.

BACA JUGA :  Bos Sritex Iwan Lukminto Terseret Kasus Korupsi Kredit Rp3,6 Triliun

“Di era Artidjo, PK adalah mimpi buruk bagi koruptor. Sekarang? Justru jadi pintu harapan,” sindirnya tajam.

Tak berhenti di situ, Tanak turut mengajak sistem peradilan Indonesia untuk belajar dari negara seperti Singapura, yang berani menjatuhkan vonis ekstrem kepada pelaku korupsi, termasuk denda tinggi hingga hukuman mati.

Ia pun menyinggung bahwa fenomena “diskon hukuman” inilah yang menjadi penyebab Indonesia terus terpuruk dalam Indeks Persepsi Korupsi.

“IPK Indonesia tahun 2024 hanya 37 poin. Sementara Singapura jauh lebih baik karena tak main-main soal korupsi,” ucapnya.

Sebagai informasi, PK Setya Novanto dikabulkan oleh majelis hakim MA yang dipimpin Surya Jaya bersama dua anggota majelis, yakni Sinintha Yuliansih Sibarani dan Sigid Triyono.

BACA JUGA :  Anggota KPK Gadungan Ditangkap Usai Beraksi Peras Pegawai

Selain memotong masa hukuman pokok, MA juga mengurangi larangan menjabat jabatan publik dari lima tahun menjadi dua tahun enam bulan.

Padahal, dalam kasus e-KTP, Setnov dinyatakan terbukti menerima lebih dari USD 7 juta serta satu jam tangan mewah Richard Mille, merugikan negara hingga Rp2,6 triliun.

Sebelumnya ia divonis 15 tahun penjara dan diminta membayar uang pengganti. Jika tidak dibayar, harta bendanya akan disita dan diganti dengan tambahan dua tahun penjara.

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

2 Tahun Kasus Pungli UNM “Tidur” di Polda Sulsel, Laksus Tuntut Ketegasan
Borong Makassar Ricuh, Warga Lempari Polisi, Emak-emak Teriak Uang Haram
Prabowo Rombak Kesejahteraan Hakim Naik 300 Persen Agar Tak Bisa Disogok
Antre Solar 7 Jam Diserobot, Sopir Truk di Makassar Nekat Tikam Rekan Seprofesi
Bandit Tua di Makassar Disikat 3 LP Kasus Cabul Usai Laporan Awal Dicabut
Eks Wakapolri Oegroseno Marah Sebut Tindakan Kortastipidkor Sarat Kriminalisasi
Pamer Duit Segepok Diduga Hasil HB Ilegal, Owner Dhi Lana Belum Terciduk
Gagal Nolongin Janda ala Dracin, Dg Makulle Malah Bonyok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:26 WITA

2 Tahun Kasus Pungli UNM “Tidur” di Polda Sulsel, Laksus Tuntut Ketegasan

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:19 WITA

Borong Makassar Ricuh, Warga Lempari Polisi, Emak-emak Teriak Uang Haram

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:51 WITA

Prabowo Rombak Kesejahteraan Hakim Naik 300 Persen Agar Tak Bisa Disogok

Senin, 20 Juli 2026 - 14:53 WITA

Antre Solar 7 Jam Diserobot, Sopir Truk di Makassar Nekat Tikam Rekan Seprofesi

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:47 WITA

Bandit Tua di Makassar Disikat 3 LP Kasus Cabul Usai Laporan Awal Dicabut

Berita Terbaru