Zonafaktualnews.com – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran meluncurkan serangan rudal yang menargetkan fasilitas nuklir Israel di wilayah selatan.
Serangan ini disebut sebagai aksi balasan cepat Teheran setelah fasilitas nuklir mereka di Natanz sebelumnya diserang oleh militer Israel.
Serangan rudal tersebut dilaporkan terjadi pada Jumat (20/3/2026), dengan sasaran wilayah sekitar pusat penelitian nuklir Dimona di Israel selatan.
Aksi militer ini terjadi kurang dari 24 jam setelah serangan udara Israel menghantam situs nuklir Iran di Provinsi Isfahan, menandai eskalasi konflik yang semakin terbuka antara kedua negara.
Sejumlah analis menilai langkah Iran menunjukkan perubahan strategi militer yang kini lebih terbuka dan langsung menyerang target strategis Israel. Iran disebut menerapkan strategi balasan langsung terhadap setiap serangan yang menyasar fasilitas vital mereka.
Pakar urusan internasional Iran, Morteza Simiari, dalam wawancara dengan stasiun televisi pemerintah IRIB TV menyatakan bahwa serangan ke Dimona merupakan respons langsung atas serangan Israel sebelumnya.
“Strategi baru Iran sangat jelas. Setiap tindakan militer Israel akan dibalas dengan intensitas yang lebih tinggi. Jika mereka berani menyentuh situs atom kami, maka fasilitas nuklir mereka pun tak akan aman,” ujarnya.
Serangan balasan yang berlangsung dalam waktu singkat tersebut menunjukkan kesiapan sistem militer Iran, khususnya unit rudal jarak menengah dan jauh yang mampu menjangkau wilayah strategis Israel dalam waktu singkat.
Di Israel, situasi di wilayah Dimona dilaporkan sempat mencekam setelah rudal menghantam beberapa area di sekitar fasilitas nuklir tersebut.
Otoritas medis Israel menyebutkan sedikitnya 30 orang mengalami luka-luka akibat serangan tersebut. Namun hingga kini, informasi mengenai kerusakan fasilitas nuklir masih dibatasi oleh sensor militer Israel.
Sementara itu, Badan Energi Atom Internasional (IAEA) menyatakan tidak menemukan indikasi kerusakan serius pada fasilitas nuklir Israel berdasarkan pemantauan radiasi di kawasan tersebut.
Direktur Jenderal IAEA juga mengingatkan bahwa menjadikan fasilitas nuklir sebagai target militer merupakan tindakan yang sangat berbahaya karena berpotensi menimbulkan bencana lingkungan dan kemanusiaan yang luas.
Eskalasi konflik Iran dan Israel ini disebut semakin memburuk sejak serangan besar pada akhir Februari 2026 yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran dan sejumlah pejabat militer senior.
Sejak peristiwa tersebut, Iran mulai melancarkan serangan langsung terhadap target yang berkaitan dengan Israel dan sekutunya di Timur Tengah.
Situasi yang terus memanas membuat dunia internasional khawatir konflik ini dapat berkembang menjadi perang terbuka yang lebih luas, bahkan berpotensi menyeret negara-negara besar ke dalam konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















