DPRD Sulsel Dorong Pemindahan Titik Lokasi Yon TP 872 agar Tak Rugikan Warga

Sabtu, 13 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Sulsel bersama perwakilan Pemerintah Provinsi, TNI, BPN, dan Aliansi Masyarakat Rampoang yang membahas polemik sengketa lahan rencana pembangunan Yon TP 872 Andi Djemma, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Sulsel, Makassar.

Suasana Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD Sulsel bersama perwakilan Pemerintah Provinsi, TNI, BPN, dan Aliansi Masyarakat Rampoang yang membahas polemik sengketa lahan rencana pembangunan Yon TP 872 Andi Djemma, di Ruang Rapat Paripurna DPRD Sulsel, Makassar.

Zonafaktualnews.com – Perjuangan panjang masyarakat Desa Rampoang, Kecamatan Tanalili, Kabupaten Luwu Utara, akhirnya menemukan titik terang.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Sulawesi Selatan secara resmi mengeluarkan tiga rekomendasi penting terkait polemik pembangunan Batalyon Yon TP 872 Andi Djemma, dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) yang digelar pada 11 Desember 2025 di Makassar.

Ketua HIKMAH Lutra, Tandi, mengungkapkan rasa bangga dan haru atas keteguhan masyarakat Rampoang yang selama ini berjuang mempertahankan hak atas lahan mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, konflik tersebut bukan sekadar sengketa administratif, melainkan pertarungan mempertahankan martabat dan sumber penghidupan warga.

Dalam sengketa lahan antara masyarakat dan pihak TNI, warga Rampoang menghadapi tekanan berat akibat rencana pembangunan fasilitas militer di atas lahan perkebunan sawit yang telah mereka kelola puluhan tahun.

BACA JUGA :  Berkedok Jual Beli Mobil Bekas, Pria di Lutra Dilaporkan Kasus Penipuan Rp20 Juta

“Mereka berjuang dengan air mata, keringat, luka-luka, bahkan ada yang sampai patah gigi. Tapi tidak sekalipun mereka gentar,” ujar Tandi.

Tandi menegaskan, keberanian warga mempertahankan lahan yang menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga merupakan bentuk perlawanan yang lahir dari hati nurani, bukan kepentingan sesaat.

Polemik bermula dari terbitnya Surat Keputusan (SK) hibah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalokasikan sekitar 75 hektare lahan kepada TNI untuk pembangunan Yon TP 872 Andi Djemma.

Alih fungsi lahan secara tiba-tiba, disertai dugaan intimidasi terhadap warga, mendorong masyarakat membentuk aliansi bersama Pemilar Tanah Lili, PB IPMIL Raya, dan GMNI Lutra untuk memperjuangkan hak mereka.

BACA JUGA :  P3TGAI Takalar Diduga Tak Bersih, Pola Setoran Mirip Kasus Luwu Utara?

RDP yang digelar DPRD Sulsel menghadirkan seluruh pihak terkait, mulai dari Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan, TNI, Badan Pertanahan Nasional (BPN), hingga perwakilan Aliansi Masyarakat Rampoang.

Dalam forum tersebut, DPRD akhirnya mengeluarkan tiga rekomendasi sebagai respons atas konflik yang berlarut-larut.

Adapun tiga rekomendasi DPRD Sulsel yakni:

  1. Memindahkan titik lokasi pembangunan Batalyon Yon TP 872 Andi Djemma ke lokasi lain yang tidak merugikan masyarakat Rampoang.
  2. Meninjau ulang lokasi pembangunan guna memastikan tidak adanya pelanggaran terhadap hak masyarakat yang telah puluhan tahun mengelola lahan tersebut.
  3. Menghentikan sementara seluruh proses pembangunan Yon TP 872 Andi Djemma hingga pemindahan titik lokasi benar-benar diselesaikan.

Tandi Mahesa menilai rekomendasi tersebut sebagai buah dari perjuangan murni rakyat yang digerakkan oleh keadilan.

BACA JUGA :  Kapolrestabes Makassar Klaim Polisi Ada Meski Gedung DPRD Dibakar Massa

“Inilah arti dari perjuangan sesungguhnya. Jika perjuangan berangkat dari hati nurani, atas dasar keadilan, dan digerakkan oleh rakyat, hanya satu kata yang lahir: bangga. Bangga atas keteguhan rakyat. Bangga melihat air mata itu berubah menjadi kebahagiaan,” ungkapnya dengan suara bergetar.

Meski demikian, ia menegaskan perjuangan belum berakhir. Aliansi masyarakat bersama organisasi mahasiswa akan terus mengawal dan mengawasi langkah Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan agar rekomendasi DPRD benar-benar dijalankan.

“Perjuangan masyarakat Rampoang hari ini bukan hanya tentang mempertahankan lahan, tetapi mempertahankan martabat dan hak hidup. Itu adalah perjuangan yang pantas dikenang dan dihormati,” tutup Tandi.

 

(Mahendra)
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

2 Tahun Kasus Pungli UNM “Tidur” di Polda Sulsel, Laksus Tuntut Ketegasan
Borong Makassar Ricuh, Warga Lempari Polisi, Emak-emak Teriak Uang Haram
Prabowo Rombak Kesejahteraan Hakim Naik 300 Persen Agar Tak Bisa Disogok
Antre Solar 7 Jam Diserobot, Sopir Truk di Makassar Nekat Tikam Rekan Seprofesi
Bandit Tua di Makassar Disikat 3 LP Kasus Cabul Usai Laporan Awal Dicabut
Eks Wakapolri Oegroseno Marah Sebut Tindakan Kortastipidkor Sarat Kriminalisasi
Pamer Duit Segepok Diduga Hasil HB Ilegal, Owner Dhi Lana Belum Terciduk
Gagal Nolongin Janda ala Dracin, Dg Makulle Malah Bonyok

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:26 WITA

2 Tahun Kasus Pungli UNM “Tidur” di Polda Sulsel, Laksus Tuntut Ketegasan

Selasa, 21 Juli 2026 - 14:19 WITA

Borong Makassar Ricuh, Warga Lempari Polisi, Emak-emak Teriak Uang Haram

Selasa, 21 Juli 2026 - 11:51 WITA

Prabowo Rombak Kesejahteraan Hakim Naik 300 Persen Agar Tak Bisa Disogok

Senin, 20 Juli 2026 - 14:53 WITA

Antre Solar 7 Jam Diserobot, Sopir Truk di Makassar Nekat Tikam Rekan Seprofesi

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:47 WITA

Bandit Tua di Makassar Disikat 3 LP Kasus Cabul Usai Laporan Awal Dicabut

Berita Terbaru