Kades Akui Tambang Tanpa Izin Jalan Lagi, Polres Torut Bak Tersandera, UU Tak Ditegakkan

Selasa, 7 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aktivitas truk di tambang galian C Kelurahan Singki’, Kecamatan Rantepao, yang diduga milik Kepala Lembang dan beroperasi tanpa izin.

Aktivitas truk di tambang galian C Kelurahan Singki’, Kecamatan Rantepao, yang diduga milik Kepala Lembang dan beroperasi tanpa izin.

Zonafaktualnews.com – Pemandangan yang sama dengan beberapa bulan lalu kembali terlihat di Kelurahan Singki’, Kecamatan Rantepao, Kabupaten Toraja Utara (Torut), Sulawesi Selatan (Sulsel).

Debu beterbangan, truk-truk mengangkut batu galian C mondar-mandir, sementara warga sekitar menatap heran.

Tambang yang sempat ditutup oleh aparat kini dikabarkan beroperasi kembali, meski tanpa izin resmi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Seorang warga setempat, R, menuturkan keheranannya atas kondisi itu.

“Ini yang jadi pertanyaan. Sebelumnya kegiatan tambang tersebut pernah ditutup karena menurut informasi mereka tidak punya izin, namun sekarang beroperasi kembali. Ada apa?” kata R dalam keterangannya, Selasa (7/4/2026).

Anehnya, aktivitas itu berjalan tanpa pengawasan yang terlihat dari aparat kepolisian, sehingga warga merasa ada yang tidak beres.

“Besar harapan kita agar tambang tersebut dipantau ulang oleh Polda. Jangan sampai ada oknum-oknum anggota yang main di dalam untuk meloloskannya beroperasi,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Lembang Soloso (Kades), Andung Tiku Sule Gorri’ sekaligus pemilik tambang, mengakui tidak ada izin resmi, namun menjelaskan bahwa aktivitas itu terkait penataan tongkonan dan penjualan batu.

BACA JUGA :  FK LSM-PERS Somasi Kapolres Luwu Utara, Desak Penutupan 8 Praktik Ilegal

“Tidak ada izinnya. Itu kan tongkonan mau ditata untuk dijadikan tongkonan dengan panjat tebing di belakangnya. Kemudian batunya pasti kita jual, masa mau dikemanakan? Kalau truk biasa kita kasih Rp250 ribu per mobil. Kalau truk tongkang bervariasi, ada yang Rp400 ribu, ada yang Rp500 ribu. Kalau jumbo Rp600 ribu per mobil, dan kalau tai batu (sisa pecahan batu) Rp150 ribu per mobil,” jelasnya.

Andung menekankan bahwa laporan warga perlu dipertimbangkan dari sisi keterlibatan dan kepentingan.

“Kalau ada yang tanyakan soal operasi, apalagi kalau mau minta-minta APH turun memeriksa kegiatan kami, harus kita tahu warganya siapa dan kepentingannya apa. Kalau tidak ada hubungannya dengan tongkonan kami, ya tidak usah digubris. Kalau dia terlibat dalam tongkonan di sini, ya boleh. Tapi kalau orang yang tidak ada kepentingannya di tongkonan, ya tidak usah direspons,” tegasnya.

Andung menambahkan bahwa semua aktivitas sudah dibahas melalui kesepakatan internal tongkonan, sehingga menurutnya tidak ada pihak luar yang berhak mengintervensi.

BACA JUGA :  F-KRB Desak Prabowo Buktikan Janji Tindak Oknum Jenderal Beking Tambang Ilegal

“Kami rapat dulu baru jalan karena semuanya punya hak. Jadi saya tegaskan, bahwa selain dari pihak yang punya tongkonan, tidak boleh ada yang melapor-lapor. Kami sudah rapat dulu dengan rumpun tongkonan baru kami jalan,” bebernya.

Kendati demikian, penataan tongkonan sendiri adalah kegiatan adat yang sah, namun pengambilan dan penjualan batu dari lokasi tersebut termasuk kegiatan pertambangan komersial tanpa izin.

BACA JUGA :  Marak Tambang Liar, Sabung Ayam, dan Solar Ilegal di Bulukumba

Menurut UU Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara (Minerba), Pasal 158 menyatakan bahwa setiap orang yang melakukan pertambangan tanpa izin resmi dapat dikenakan pidana penjara dan/atau denda.

Pasal 158A hasil perubahan UU Nomor 3 Tahun 2020 menegaskan sanksi tambahan bagi pertambangan ilegal.

Oleh karena itu, jika aktivitas hanya membangun atau menata tongkonan, tidak melanggar UU Minerba.

Sebaliknya, jika aktivitas mengambil batu dan menjualnya, meski dengan alasan penataan tongkonan, masuk kategori pertambangan ilegal.

Hingga berita ini diterbitkan, Kasatreskrim Polres Toraja Utara belum memberikan tanggapan, meninggalkan kesan bahwa aparat “bak tersandera” di tengah beroperasinya tambang ilegal tersebut.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece
Jokowi Diduga Resah, Analis Intelijen Endus Ada Skenario Jatuhkan Febrie
Kejagung Hentikan Pulbaket MBG, Pastikan Tidak Ada Pemeriksaan Polri
Cewek BO Vs Burung Beo
Mahfud MD Ungkap Hubungan Kepolisian-Kejaksaan Sudah Lama Tak Harmonis
Jukir Liar Makin Beringas di Makassar, PD Parkir Dinilai Gagal Lakukan Penertiban
SPBU Pettuadae Jadi Biang Keladi Antrean Truk, Pengawasan Pertamina Minim
Arah Drama Perselingkuhan Surti dan Tejo Berbelok

Berita Terkait

Selasa, 14 Juli 2026 - 04:27 WITA

Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece

Selasa, 14 Juli 2026 - 02:34 WITA

Jokowi Diduga Resah, Analis Intelijen Endus Ada Skenario Jatuhkan Febrie

Selasa, 14 Juli 2026 - 00:43 WITA

Kejagung Hentikan Pulbaket MBG, Pastikan Tidak Ada Pemeriksaan Polri

Senin, 13 Juli 2026 - 15:37 WITA

Cewek BO Vs Burung Beo

Senin, 13 Juli 2026 - 01:52 WITA

Mahfud MD Ungkap Hubungan Kepolisian-Kejaksaan Sudah Lama Tak Harmonis

Berita Terbaru

Visual dibuat dengan AI

Geleng Kepala

Istri Dasteran Bolong, Suami Kolor Kendor, Giliran Live Kece

Selasa, 14 Jul 2026 - 04:27 WITA

Visual dibuat dengan AI

Geleng Kepala

Cewek BO Vs Burung Beo

Senin, 13 Jul 2026 - 15:37 WITA