Jokowi Pemimpin Butut

Rabu, 7 Agustus 2024 - 14:46 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Momen Jokowi saat lagi santai (Foto Istimewa)

Momen Jokowi saat lagi santai (Foto Istimewa)

Rasanya di antara Presiden yang pernah memimpin Indinesia, Jokowi adalah pemimpin yang paling butut.

Penambahan 5 tahun periode kedua dikira akan mampu memperbaiki bututnya kepemimpinan di periode pertama, akan tetapi ternyata tambah parah.

Pengikutnya termobilisasi dalam kebodohan kolektif. Indonesia ditakdirkan punya pemimpin dan pengikut yang butut. 10 tahun, bro.

Seperti memakai topi dan sepatu butut yang tidak elok dipandang begitulah kondisinya.

Birokrasi korup

Di bawah rezim Jokowi korupsi merajalela dari atas ke bawah, dari Menteri hingga Kepala Desa.

Terbilang 6 (enam) Menteri satu Wakil Menteri dihukum pidana korupsi. Kasus menguap seperti TPPU 376 triliun dan 271 triliun korupsi timah. Korupsi hanya dianggap seperti mencuri kaos oblong.

Utang numpuk.

Bulan April utang kita Rp. 6.521 trilyun kini bulan juli 2024 meningkat menjadi Rp. 8.353 triliun. Di masa pemerintahan SBY utang hanya Rp. 2.608 trilyun.

BACA JUGA :  Proyek IKN Terganjal, Rocky Gerung: Jokowi Dibohongi Soal Kesiapan Infrastruktur

Luar biasa Jokowi “sederhana” ini meroketkan utang melalui proye-proyek hawa nafsu. Di samping korupsi, pemborosan anggaran juga sangat kasat mata.

Tukang bohong.

Sejak mobil Esemka, 11 ribu triliun di kantong, tidak impor, kabinet ramping, tidak naik BBM, tidak bagi-bagi kursi hingga berani bohong ke Putin soal pesan Ukraina menyebabkan predikat yang diberikan adalah  “The King of Lip Service”.

Gambaran dari profil sebagai pendusta. Begitu juga ijazah sekolah dan kuliahnya diduga palsu.

Ujungnya keluarga.

Ujung masa jabatan justru mementingkan keluarga. Anak mantu “direkrut” sebagai penerus tanpa rasa malu.

Nepotisme yang dilarang UU No 28 tahun 1999 dilabrak habis. Nepotisme itu kriminal tapi dilahap seperti makan siang gratis.

Jokowi “Godfather” memang membangun dinasti dan menginjak-injak demokrasi.

Tiongkok andalannya.

China bukan hanya uang yang ditanam tetapi orang yang di tampung dan diselundupkan. Orang China atau Tiongkok  tamu yang justru bertahap menjadi tuan rumah.

BACA JUGA :  Amran Sulaiman Kembali Duduki Tahta Menteri Pertanian

Jahat sekali Jokowi itu, sudah WNI keturunan China banyak berkeliaran ditambah kini China baru yang diimpor. Pribumi semakin tersedak dan terdesak.

BUTUT adalah wajah dari kinerja 10 tahun Jokowi memerintah. Tempo menyebut Nawadosa.

Lalu dengan air mata buaya ia minta maaf atas kesalahan sebagai manusia. Banyak warga nyinyir menyudutkan bahwa itu bukan kesalahan tetapi kejahatan.

Artinya tidak bisa dimaafkan. Lagi pula meminta maaf tanpa didasarkan pada penyesalan adalah kepalsuan.

Saat minta maaf Jokowi mengklaim bahwa itu kesalahan sebagai manusia, akan tetapi saat melakukan kejahatan perilakunya seperti binatang. Anjing yang serakah, babi yang tidak peduli, ular yang menipu, kodok yang menendang dan naga yang melilit garuda.

Manusia itu telah menghalalkan segala cara. Gemar memukul dan lari-lari atau “hit and run”. Pengkhianat, pengecut dan munafik. Agama tidak dijadikan sebagai pedoman, komunis kah ?

BACA JUGA :  Dua Menteri Masih Panggil Jokowi 'Bos Saya', Prabowo Tak Dianggap?

Jokowi pasti menepis dirinya komunis apalagi PKI meski banyak yang mempertanyakan identitas asli dirinya.

Kebijakan yang menyengsarakan dan memiskinkan rakyat merupakan indikasi moral ideologi dan konstitusi yang rendah.

Hukum tidak ditempatkan sebagai sarana penjamin keadilan tetapi alat untuk memperkokoh dan melindungi kekuasaan.

Apapun manuver yang dilakukan sebagus apapun topeng yang dipakai dan seindah-indahnya baju yang dikenakan, maka fakta telah membuktikan bahwa Jokowi adalah pemimpin butut. Pemimpin butut.

 

Penulis : M Rizal Fadillah
Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 6 Agustus 2024
Follow Berita Zona Faktual News di Google News

Berita Terkait

Transisi Kepemimpinan UNM : Inklusifitas, Integritas, dan Resolutif
LBH Anak Rakyat: Ketika Hukum Harus Hadir untuk Rakyat
Integritas Pejabat Publik dan Misteri Gelar Akademik Anggota DPRD Makassar
Menguji Wajah Penegakan Hukum dalam Kasus Pejabat Publik
Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik
Matinya Nalar di Panggung Pilar, Ketika Jawaban Benar Siswa Dihukum Minus 5
Narkoba Bukan Sekadar Kejahatan, tapi Neo-Kolonialisme Hancurkan Generasi
Belajar Syukur dari Negeri yang Terluka Perang

Berita Terkait

Selasa, 25 Agustus 2026 - 18:05 WITA

Transisi Kepemimpinan UNM : Inklusifitas, Integritas, dan Resolutif

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 19:20 WITA

LBH Anak Rakyat: Ketika Hukum Harus Hadir untuk Rakyat

Rabu, 22 Juli 2026 - 19:39 WITA

Integritas Pejabat Publik dan Misteri Gelar Akademik Anggota DPRD Makassar

Jumat, 22 Mei 2026 - 13:03 WITA

Menguji Wajah Penegakan Hukum dalam Kasus Pejabat Publik

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:47 WITA

Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik

Berita Terbaru