Ringkasan
Keluarga seorang siswi sekolah dasar di Kabupaten Takalar berencana menempuh jalur hukum setelah mediasi pihak sekolah terkait kasus perundungan menemui jalan buntu. Korban mengalami trauma berat dan enggan bersekolah akibat perlakuan merendahkan dari seorang pedagang di lingkungan sekolah.
Orang tua korban menilai sekolah tidak memberikan tindakan tegas maupun perlindungan dan pemulihan psikologis bagi anak mereka. Sementara itu, Dinas Pendidikan Kabupaten Takalar telah menerjunkan tim untuk menyelidiki kasus ini dan menginstruksikan sekolah agar menjamin hak pendidikan korban.
Zonafaktualnews.com – Langkah mediasi pihak sekolah berujung jalan buntu bagi keluarga Siswi Korban Bully di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan, yang merasa penanganan kasus ini berjalan lamban.
Orangtua korban menyatakan siap membawa persoalan tersebut ke ranah hukum. Keluarga menilai langkah penyelesaian dari pihak institusi pendidikan belum mampu memberikan jaminan keamanan maupun pemulihan psikologis anak.
Insiden ini bermula ketika korban berinisial R mengalami ketakutan mendalam. Ia diduga menjadi sasaran ucapan merendahkan dari seorang pedagang berinisial Daeng SA yang berjualan di sekitar lingkungan sekolah pada Jumat, 4 September 2026.
Dampaknya, siswi kelas V SDN 176 Inpres Lengkese II, Kelurahan Mangadu, Kecamatan Mangarabombang, itu enggan kembali mengikuti kegiatan belajar.
Ibu korban, Suriani, mengaku sangat terpukul melihat perubahan drastis pada putrinya yang kini ketakutan setiap kali mendengar kata sekolah.
“Sejak kejadian itu, anak saya tidak mau ke sekolah. Berkali-kali kami bujuk, tetapi dia terkesan ketakutan. Kalau begini kondisinya, jelas anak kami trauma,” kata Suriani kepada wartawan, Rabu (9/9/2026).
Menurut keterangan keluarga, pedagang tersebut tidak hanya meminta siswa lain menjauhi korban, tetapi juga melontarkan kalimat bernada merendahkan fisik di hadapan banyak anak.
Upaya konfrontasi sempat dilakukan kepada terduga pelaku, sebelum akhirnya aduan resmi dilayangkan ke pihak sekolah sehari setelah kejadian.
- Tak Puas Langkah Sekolah, Ortu Siswi Korban Bully di Takalar Lapor Polisi
- Diduga Genjot Bright Gas, Pertamina Dituding Mainkan Krisis LPG di Sulsel, Benarkah?
- Influencer Tajir Tewas Usai Jalani Suntik “Burung” di Thailand
- LPG 3 Kg Langka, Polda Sulsel Didesak Sikat Penimbun hingga Kios Nakal
- Gara-gara Abu Vulkanik, Pak RT Salah Masuk Rumah Janda
Kendati mediasi telah dipimpin langsung oleh Kepala Sekolah, keluarga menilai forum tersebut tidak menghasilkan solusi substantif bagi Siswi Korban Bully Takalar yang hingga kini masih menanggung beban mental.
Suriani mempertanyakan efektivitas penanganan internal yang dianggap hampa dari tindakan tegas terhadap pihak luar maupun perlindungan nyata bagi korban.
“Kami keberatan karena pertama, kami menilai sekolah tidak berpihak kepada korban. Kedua, tidak ada sanksi atau tindakan tegas terhadap pihak yang diduga melakukan bullying. Ketiga, tidak ada pendekatan dari pihak sekolah untuk membantu pemulihan mental anak kami,” tegasnya.
Kekecewaan akut tersebut mendorong keluarga memutuskan langkah hukum lanjutan ke Unit P3A Polresta Takalar demi mencari keadilan.
Di sisi lain, Kepala Dinas Pendidikan Takalar, Dody Rian Saputra, menyatakan pihaknya tengah menerjunkan tim untuk menelusuri duduk perkara secara objektif.
Dody menegaskan telah menginstruksikan pihak sekolah agar memberikan atensi penuh terhadap nasib Siswi Korban Bully Takalar agar hak-hak pendidikannya tetap terlindungi.
“Saya sudah perintahkan agar pihak sekolah mengatensi masalah ini,” tandas Dody.
Editor : Id Amor




















