Zonafaktualnews.com – Eskalasi konflik di Semenanjung Arab kian memanas setelah dua rudal balistik milisi Houthi menyasar wilayah Kerajaan Arab Saudi.
Sistem pertahanan udara setempat berhasil mengintersepsi ancaman tersebut sebelum menghantam target utama.
Meski demikian, serpihan ledakan rudal yang dihancurkan justru berhamburan ke pemukiman warga.
Salah satu titik jatuh terdeteksi di Wadi Al-Mughammas, kawasan yang berjarak hanya sekitar 20 kilometer dari Masjidil Haram.
Otoritas keamanan mengatakan puing material tidak hanya mendarat di pinggiran kota suci. Puing lainnya tersebar di Al-Nuzha Jeddah, Wadi Jalil Taif, hingga wilayah Masturah di Kegubernuran Rabigh.
Juru bicara Pertahanan Sipil Arab Saudi memastikan penanganan darurat langsung bergerak ke lokasi jatuhnya material bahaya.
“Kedua rudal berhasil dicegat saat menuju sasaran masing-masing,” terangnya sebagaimana dikutip dari Arab News dan Saudi Press Agency, Minggu (25/10/2026).
Pihak berwenang menambahkan bahwa insiden ledakan di udara tersebut tidak menimbulkan korban jiwa.
“Hingga saat ini belum ada laporan resmi mengenai jatuhnya korban maupun kerusakan material yang signifikan,” jelas pernyataan resmi otoritas setempat.
Gelombang ancaman ini merupakan lanjutan dari gempuran udara yang melintas sehari sebelumnya.
Pasukan koalisi pendukung pemerintah Yaman melaporkan telah merontokkan rudal balistik arah Riyadh, Taif, dan Yanbu, serta melumpuhkan satu unit drone di Provinsi Timur.
Peningkatan intensitas serangan dalam beberapa pekan terakhir mulai menyasar objek vital sipil, bandara, hingga fasilitas energi.
Arah gelombang serangan yang mendekati Makkah dan Madinah memicu alarm kewaspadaan tinggi bagi seluruh negara Muslim.
Langkah militer kelompok Houthi tersebut menuai reaksi keras dari kalangan keagamaan tertinggi Kerajaan.
“Aksi penyerangan ini merupakan bentuk agresi serius yang memprovokasi umat Islam di seluruh dunia,” tegas Dewan Ulama Senior Arab Saudi dalam keterangan resminya.
Motif Serangan Houthi
Gempuran rudal ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Serangan intensif kelompok Houthi berakar dari intervensi militer koalisi pimpinan Saudi di Yaman sejak 2015 untuk memulihkan pemerintahan resmi setempat.
Bagi milisi Houthi, peluncuran balistik dan drone jarak jauh diposisikan sebagai aksi pembalasan atas serangan udara serta pemblokadean akses ekonomi.
Kelompok tersebut secara konsisten mengincar objek vital seperti bandara dan fasilitas minyak untuk menekan posisi tawar politik Riyadh.
Di luar faktor perang saudara, eskalasi ini juga merefleksikan persaingan pengaruh geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Keterlibatan jaringan taktis dan pasokan teknologi tempur menjadikan perbatasan selatan Saudi sebagai titik krusial perselisihan keamanan regional.
Editor : Id Amor





















