Demo Pemekaran Luwu Tengah Ricuh, 7 Orang Luka dan Pagar Kantor Gubernur Rusak

Selasa, 13 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bentrok massa dalam Demo Pemekaran Luwu Tengah didepan Kantor Gubernur Sulsel

Bentrok massa dalam Demo Pemekaran Luwu Tengah didepan Kantor Gubernur Sulsel

Zonafaktualnews.com – Demo Pemekaran Luwu Tengah yang digelar puluhan mahasiswa dan warga yang tergabung dalam Aliansi Wija To Luwu di depan Kantor Gubernur Sulsel berakhir ricuh, Senin (12/1/2026).

Aksi tersebut menyebabkan sedikitnya tujuh orang mengalami luka, sementara pagar Kantor Gubernur Sulsel serta sebuah mesin ATM di sekitar lokasi dilaporkan mengalami kerusakan.

Koordinator lapangan aksi, Adriansyah Putra, menyebut kericuhan dipicu oleh tindakan aparat Satpol PP terhadap salah satu peserta demonstrasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Adriansyah mengatakan temannya mengalami kekerasan sehingga memancing reaksi massa di lapangan.

“Awalnya aksi berjalan normal, tetapi kemudian terjadi gesekan dengan Satpol PP. Salah satu rekan kami mengalami luka setelah diperlakukan kasar,” ujar Adriansyah kepada wartawan di Makassar.

Menurutnya, situasi kemudian memanas karena massa merasa aparat bertindak berlebihan dalam menghalau demonstran.

BACA JUGA :  Gunung Dikeruk, Hutan Ditebang! GMPH Sulsel Desak Tambang Ilegal di Maros Ditutup

Kericuhan pun tak terhindarkan ketika aparat dan peserta aksi saling berhadapan di depan pintu gerbang kantor gubernur.

Sementara itu, Kepala Satpol PP Sulsel Arwin Azis membantah tudingan pengeroyokan. Ia menjelaskan bahwa aparat bertindak karena massa berupaya memaksa masuk ke dalam Kantor Gubernur Sulsel yang merupakan objek vital pemerintahan.

“Mereka berusaha masuk ke dalam kantor. Ini adalah fasilitas negara yang harus dijaga keamanannya dan tidak bisa diduduki sembarangan,” tegas Arwin.

Arwin mengklaim salah satu peserta aksi yang disebut dikeroyok justru terjatuh dan dibantu oleh petugas. Namun situasi tersebut disalahartikan oleh massa sehingga memicu aksi lemparan ke arah aparat.

“Akibat lemparan batu itu, enam anggota kami harus mendapatkan perawatan di poliklinik,” ungkapnya.

Kerumunan massa dan aparat terlihat di lokasi Demo Pemekaran Luwu Tengah di depan Kantor Gubernur Sulse
Kerumunan massa dan aparat terlihat di lokasi Demo Pemekaran Luwu Tengah di depan Kantor Gubernur Sulse

Benturan yang terjadi dalam Demo Pemekaran Luwu Tengah itu juga berdampak pada fasilitas publik. Pagar Kantor Gubernur Sulsel dilaporkan rusak setelah ditarik massa, sementara sebuah ATM di sekitar lokasi aksi mengalami pecah kaca.

BACA JUGA :  DEKOPI Undang JIWAI Peringati Hari Kopi Nasional

Aksi tersebut dilakukan sebagai bentuk desakan kepada Pemerintah Provinsi Sulsel dan DPRD agar segera merekomendasikan pembentukan Kabupaten Luwu Tengah sebagai bagian dari percepatan terwujudnya Provinsi Luwu Raya.

“Kami datang membawa tuntutan agar pembentukan Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya segera diproses dan tidak lagi ditunda,” kata Adriansyah.

Adriansyah menyebut Pemprov Sulsel selama ini dinilai gagal memberikan keadilan pembangunan bagi wilayah Luwu Raya, baik dari sisi pendidikan, ekonomi, maupun pelayanan publik.

“Wilayah kami punya kontribusi besar terhadap pendapatan daerah, tetapi hasilnya tidak kembali secara adil ke masyarakat Luwu Raya,” ujarnya.

Adriansyah juga menegaskan bahwa jika moratorium pemekaran daerah belum dicabut oleh pemerintah pusat, maka pemerintah provinsi harus membuka ruang diskresi atau otonomi khusus sebagai jalan keluar.

BACA JUGA :  Paripurna Batal, Netizen Sindir Anti Mager Sulsel: “Nampa Dia Ji Sanna Mager Nah”

Menurutnya, tuntutan pemekaran tersebut bukan hal baru. Aspirasi pembentukan Kabupaten Luwu Tengah dan Provinsi Luwu Raya telah lama disuarakan, khususnya setiap peringatan Hari Perlawanan Rakyat Luwu pada 23 Januari.

“Setiap tahun masyarakat terus menyuarakan hal ini. Sudah saatnya pemerintah mendengar dan bertindak,” tegasnya.

Andriansyah menambahkan, Luwu Raya memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang memadai untuk mengelola wilayahnya sendiri tanpa harus bergantung penuh pada Sulawesi Selatan.

“Luwu Raya adalah salah satu penyumbang besar APBD setelah Makassar. Tidak ada alasan mengapa daerah ini tidak bisa berdiri dan mengelola dirinya sendiri,” pungkas Adriansyah.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

3 Tahun Tak Tuntas, Kasus Hatta Hamzah di Makassar Tersandera Tarik-Ulur Berkas
Proyek Jalan Seko Pakai Material Ilegal, PT Millenium Persada Kangkangi UU Minerba
Wali Kota Makassar Ditampar Balik Soal Wartawan Abal-abal, Jangan Alihkan Isu KPK
Nyaris Tabrak Petugas Dishub di Makassar, Pengendara Pajero Ngaku Keluarga Aparat
Kenalan Lewat Medsos, Gadis ABG di Polman Diperkosa dan Dijual ke Pria Lain
Tak Lagi Kelola Gizi, Dadan Hindayana Kini “Dipromosi” Jadi Tahanan Kejagung
Surat Kuasa “Mandul” di SPBU Bunga Didi, Nelayan Munte Tercekik Aturan Solar
Pencopotan Dadan Tak Cukup, Netizen: “Usut Korupsi BGN dan Tangkap Si Botak”

Berita Terkait

Jumat, 5 Juni 2026 - 04:19 WITA

3 Tahun Tak Tuntas, Kasus Hatta Hamzah di Makassar Tersandera Tarik-Ulur Berkas

Kamis, 4 Juni 2026 - 18:35 WITA

Proyek Jalan Seko Pakai Material Ilegal, PT Millenium Persada Kangkangi UU Minerba

Kamis, 4 Juni 2026 - 15:29 WITA

Wali Kota Makassar Ditampar Balik Soal Wartawan Abal-abal, Jangan Alihkan Isu KPK

Kamis, 4 Juni 2026 - 04:37 WITA

Nyaris Tabrak Petugas Dishub di Makassar, Pengendara Pajero Ngaku Keluarga Aparat

Kamis, 4 Juni 2026 - 03:29 WITA

Kenalan Lewat Medsos, Gadis ABG di Polman Diperkosa dan Dijual ke Pria Lain

Berita Terbaru