Viral di Grup WA Wali Murid, Siswa MIN 2 Ketahun Meninggal Usai Santap MBG

Rabu, 4 Maret 2026 - 02:31 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Viral di Grup WA Wali Murid, Siswa MIN 2 Ketahun Meninggal Usai Santap MBG

Ilustrasi meninggal dunia

Zonafaktualnews.com – Kabar duka menyebar cepat dari layar ponsel ke ponsel para orang tua siswa. Percakapan di grup WhatsApp wali murid mendadak ramai, disertai imbauan agar paket dalam Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) sekolah tidak dikonsumsi.

Tak lama berselang, informasi memilukan itu terkonfirmasi, seorang siswa Madrasah Ibtidaiyah Negeri 2 Bengkulu Utara (MIN 2 Ketahun) meninggal dunia usai sempat menjalani perawatan intensif.

Siswa tersebut diketahui bernama M Fatih (8). Siswa tersebut dilaporkan mengalami gangguan kesehatan usai menyantap menu MBG yang dibagikan di sekolah. Peristiwa itu terjadi pada Minggu malam, 1 Maret 2026.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pada hari kejadian Fatih mengonsumsi paket MBG berupa roti burger, pisang, dan kacang.

Tak lama setelah itu, ia mengeluhkan kondisi tubuhnya menurun hingga akhirnya harus dilarikan ke RSUD Lagita untuk mendapatkan penanganan medis.

Karena kondisi korban terus memburuk dan sempat tidak sadarkan diri, tim medis kemudian merujuknya ke RS Bhayangkara Bengkulu. Di rumah sakit tersebut, Fatih dinyatakan meninggal dunia.

Isu dugaan keracunan makanan pertama kali mencuat dari media sosial dan tangkapan layar percakapan grup kelas.

Dalam pesan yang beredar, orang tua siswa diimbau untuk tidak mengonsumsi paket MBG yang belum sempat dimakan anak-anak mereka.

Beredarnya foto korban saat dalam penanganan medis semakin memicu kepanikan di kalangan wali murid.

Sementara itu, Kemaruk Zaman yang mengaku sebagai Asisten Lapangan (Aslap) dapur SPPG Giri Kencana mengungkapkan bahwa sebagian bahan menu MBG dibeli secara eceran.

BACA JUGA :  Kepsek yang Tewas Dianiaya Kekasih Tak Ada Keluarga di Bantaeng

“Roti dan kacang yang dijadikan menu MBG itu terpaksa kami beli eceran karena bahan tersebut tidak tersedia di pihak suplier,” ujarnya saat dikonfirmasi wartawan pada 27 Februari 2026.

Ia menyebut pembelian dilakukan di sejumlah toko dan warung sekitar Pasar D1 Ketahun.

Untuk penjelasan lebih lanjut, ia meminta agar konfirmasi diarahkan kepada penanggung jawab dapur.

Andi, yang disebut sebagai Penanggung Jawab Dapur SPPG Giri Kencana, menjelaskan bahwa roti burger dalam menu tersebut dipasok oleh pihak keluarganya yang berdomisili di Unit 1, kawasan eks transmigrasi yang kini dikenal sebagai Desa Marga Sakti, Kecamatan Padang Jaya, Kabupaten Bengkulu Utara.

Di sisi lain, Kapolres Bengkulu Utara, Bakti Kautsar Ali, membenarkan adanya peristiwa tersebut dan memastikan penyelidikan tengah berlangsung.

“Kami turut berbelasungkawa atas meninggalnya ananda. Saat ini kami masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pastinya dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium,” ujarnya, Minggu (1/3/2026).

Polisi telah mengamankan sampel makanan untuk diuji di laboratorium serta memintai keterangan dari pihak sekolah dan penyedia makanan. Selain itu, data medis dari tenaga kesehatan yang menangani korban juga tengah dikumpulkan.

Sebelumnya, aparat menyebut hanya satu siswa yang mengalami gejala sakit dari seluruh penerima MBG pada hari tersebut. Namun setelah korban dinyatakan meninggal dunia, ruang lingkup penyelidikan diperluas guna memastikan ada tidaknya faktor lain yang berkontribusi.

BACA JUGA :  Terekam CCTV, Detik-detik Dosen Meninggal Dunia Saat Salat

Pihak kepolisian mengimbau masyarakat agar tidak berspekulasi sebelum hasil uji laboratorium resmi keluar.

Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa korban disebut belum sempat mengonsumsi makanan Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) saat insiden terjadi.

“Fatih belum memakan menu MBG dari SPPG Giri Kencana ketika diketahui pingsan sebelum dibawa ke rumah sakit,” ujar Nanik di Jakarta, Selasa (3/3/2026), dalam keterangan pers.

BGN kemudian memaparkan kronologi medis yang dialami korban. Fatih pertama kali mendapatkan penanganan di RS Lagita Ketahun dalam kondisi kesadaran menurun dengan nilai Glasgow Coma Scale (GCS) 6. Secara medis, skor tersebut mengindikasikan cedera otak berat dan kondisi yang mengancam jiwa.

Di RS Lagita, korban disebut hanya mendapat tindakan kegawatdaruratan, bukan perawatan intensif lanjutan. Sejumlah rumah sakit di Bengkulu hingga Padang sempat dihubungi untuk rujukan, namun fasilitas Pediatric Intensive Care Unit (PICU) dilaporkan dalam kondisi penuh.

Fatih akhirnya dirujuk ke RS Bhayangkara Bengkulu guna menjalani pemeriksaan lanjutan.

Hasil pemindaian otak (CT Scan) di rumah sakit tersebut menunjukkan adanya pendarahan otak. Karena membutuhkan tindakan bedah saraf, korban kemudian dirujuk kembali ke RS Tiara Sella yang memiliki fasilitas operasi.

Setelah menjalani prosedur operasi, Fatih dinyatakan meninggal dunia sekitar 12 jam kemudian.

BACA JUGA :  Pengacara Kondang Alvin Lim Meninggal Dunia

Untuk menanggapi dugaan keracunan, BGN juga menyampaikan hasil uji laboratorium dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).

“Hasil uji BPOM menunjukkan seluruh sampel negatif. Tidak ditemukan bakteri E. coli, boraks, formalin, nitrit, arsen, sianida, maupun zat lain yang mengarah pada keracunan pangan,” jelas Nanik.

Dengan demikian, berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, tidak ditemukan indikasi cemaran berbahaya pada sampel makanan MBG yang diuji.

Nanik menambahkan, pada hari yang sama terdapat sekitar 1.800 penerima manfaat MBG. Namun, tidak ada laporan gangguan kesehatan serupa selain kasus yang dialami Fatih.

“Dari 1.800 penerima manfaat, tidak ada laporan kejadian serupa. Hanya satu kasus ini, dan secara medis ditemukan adanya pendarahan otak,” tegasnya.

BGN menyampaikan duka cita mendalam atas wafatnya korban serta mengimbau masyarakat untuk tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Menurut BGN, rujukan informasi resmi harus berdasarkan hasil pemeriksaan medis dan laboratorium yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Melalui penjelasan tersebut, BGN menekankan bahwa berdasarkan temuan medis dan hasil uji laboratorium, penyebab meninggalnya korban mengarah pada pendarahan otak, bukan akibat konsumsi makanan dari program MBG.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Bisnis Tambang Ilegal di Bontonompo Gowa Berjalan Mulus, Siapa yang Beri Restu?
Kejati Sulsel Diduga Kangkangi SE JamPIDUM, Suradi Siapkan Aduan ke Jamwas
Tak Jelas Usut Dugaan Korupsi KONI Rp15 M, Kejari Makassar Diseret ke Jamwas
Spill Tipis-tipis Isu Selingkuh Bupati-Ketua DPRD, Admin Lambe Turah Dipolisikan
KPK Siap Terbitkan Surat Jemput Paksa Nusron Wahid yang Masih Ngumpet
GRH Sulsel Minta Polri Jangan Cuma Tangkap Kurir, Sikat dan Miskinkan Bandar Sabu
KPK Tolak “Bisikan” Luhut ke Prabowo Soal Penghapusan Kerugian Negara
AHY Berpeluang Besar Menggantikan Wapres Gibran Bila Tergeser dari Istana