Zonafaktualnews.com – Setelah menuai kecaman luas dari publik, Lurah Maricaya Baru, Budianto, akhirnya menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga Wahbah (85), lansia yang sempat viral karena harus digotong warga untuk mengambil bantuan beras di kantor kelurahan.
Permintaan maaf tersebut disampaikan langsung saat Budianto mengunjungi kediaman Wahbah di Jalan Monginsidi Baru, Rabu (19/12/2025) pagi.
Budianto datang bersama sejumlah staf kelurahan serta perwakilan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) sebagai bentuk tanggung jawab moral atas polemik yang terjadi.
“Kami datang untuk menyampaikan permohonan maaf apabila dalam pelayanan kemarin terdapat kekurangan,” ujar Budianto di hadapan keluarga Wahbah.
Budianto menegaskan, persoalan tersebut telah diselesaikan secara kekeluargaan. Ia menyebut pihak keluarga Wahbah telah menerima permohonan maaf dan tidak ingin memperpanjang persoalan yang sempat menyedot perhatian publik itu.
“Kami sudah berkunjung langsung dan keluarga juga sudah memaafkan. Kami anggap masalah ini selesai,” katanya.
Meski demikian, Budianto berharap agar rekaman video yang telanjur beredar luas di media sosial tidak lagi dipolemikkan.
Menurutnya, situasi di lapangan telah diluruskan dan tidak ada niat dari pihak kelurahan untuk mempersulit warga.
Budianto juga mengungkapkan bahwa pihak kelurahan sempat menyarankan agar Wahbah kembali mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Namun, keluarga memilih merawat Wahbah di rumah mengingat kondisi usia yang sudah sangat lanjut.

Sebelumnya, pemandangan memilukan terjadi di Kota Makassar. Seorang nenek renta berusia 85 tahun, Wahbah, yang masih dalam kondisi sakit dan baru keluar dari rumah sakit, terpaksa digotong tetangga hanya demi mengambil bantuan beras miskin (raskin).
Peristiwa tersebut menyita perhatian publik usai video penggotongan Wahbah viral di media sosial, Rabu (17/12/2025).
Nenek tersebut disebut dipaksa hadir langsung ke kantor Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, lantaran pihak kelurahan menolak penyaluran bantuan jika diwakilkan oleh keluarga.
Menantu Wahbah, Emmi (65), mengungkapkan bahwa persoalan bermula ketika pihak keluarga mencoba mengambil bantuan sembako atas nama Wahbah.
Sayangnya, upaya itu kandas karena petugas kelurahan bersikeras bahwa penerima bantuan harus datang sendiri.
“Sudah kami jelaskan kalau mama ini sakit, tidak bisa jalan, baru keluar rumah sakit. Tapi tetap dibilang tidak bisa, harus orangnya langsung,” kata Emmi kepada wartawan, Rabu (17/12/2025).
Emmi menyebut pihak kelurahan sempat meminta KTP Wahbah sebagai syarat pengambilan. Meski KTP tersebut dibawa, permohonan keluarga tetap ditolak.
Bahkan ketika Emmi datang sendiri ke kantor kelurahan untuk menjelaskan kondisi mertuanya, jawaban yang diterima tidak berubah.
Menurut Emmi, sikap tersebut membuat keluarganya merasa dipermainkan dan tidak diperlakukan secara manusiawi.
Emmi menyayangkan pelayanan pemerintah yang dinilai tidak memperhatikan kondisi kesehatan warga lanjut usia.
“Adik saya bolak-balik, capek, cuma mau ambil dua karung beras. Rasanya seperti kami tidak dihargai sama sekali,” ungkapnya dengan nada kecewa.
Karena bantuan tak kunjung diberikan, keluarga akhirnya mengambil langkah ekstrem.
Wahbah yang lemah dan tak mampu berjalan digotong keluar rumah oleh kerabat dan tetangga.
Warga kemudian membantu menaikkan tubuh lansia itu ke atas bentor untuk dibawa langsung ke kantor kelurahan.
“Masyarakat yang gotong mama, dibawa pakai bentor ke kantor lurah,” tutur Emmi.
Setibanya di lokasi, Lurah Maricaya Baru, Budianto, disebut sempat meminta agar Wahbah tidak turun dari bentor.
Budianto berdalih akan mengantarkan bantuan langsung ke rumah Wahbah. Sayangnya, keluarga menilai respons tersebut terlambat dan baru muncul setelah kejadian menjadi sorotan warga.
“Kalau tidak dibawa begini, mungkin tidak dipercaya kalau mama benar-benar sakit,” ujar Emmi dengan nada kesal.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















