Keterlaluan! Kelurahan Maricaya Baru ‘Paksa’ Nenek yang Sakit Datang Ambil Raskin

Kamis, 18 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Seorang nenek renta berusia 85 tahun, Wahbah, yang masih dalam kondisi sakit dan baru keluar dari rumah sakit, terpaksa digotong tetangga hanya demi mengambil bantuan beras miskin. (Ist)

Seorang nenek renta berusia 85 tahun, Wahbah, yang masih dalam kondisi sakit dan baru keluar dari rumah sakit, terpaksa digotong tetangga hanya demi mengambil bantuan beras miskin. (Ist)

Zonafaktualnews.com – Pemandangan memilukan terjadi di Kota Makassar. Seorang nenek renta berusia 85 tahun, Wahbah, yang masih dalam kondisi sakit dan baru keluar dari rumah sakit, terpaksa digotong tetangga hanya demi mengambil bantuan beras miskin (raskin).

Peristiwa tersebut menyita perhatian publik usai video penggotongan Wahbah viral di media sosial, Rabu (17/12/2025).

Nenek tersebut disebut dipaksa hadir langsung ke kantor Kelurahan Maricaya Baru, Kecamatan Makassar, lantaran pihak kelurahan menolak penyaluran bantuan jika diwakilkan oleh keluarga.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menantu Wahbah, Emmi (65), mengungkapkan bahwa persoalan bermula ketika pihak keluarga mencoba mengambil bantuan sembako atas nama Wahbah.

Sayangnya, upaya itu kandas karena petugas kelurahan bersikeras bahwa penerima bantuan harus datang sendiri.

BACA JUGA :  Berdalih Ganti Celana, Pria di Makassar Pamer "Joni" di Depan Siswi SMK

“Sudah kami jelaskan kalau mama ini sakit, tidak bisa jalan, baru keluar rumah sakit. Tapi tetap dibilang tidak bisa, harus orangnya langsung,” kata Emmi kepada wartawan, Rabu (17/12/2025).

Emmi menyebut pihak kelurahan sempat meminta KTP Wahbah sebagai syarat pengambilan. Meski KTP tersebut dibawa, permohonan keluarga tetap ditolak.

Bahkan ketika Emmi datang sendiri ke kantor kelurahan untuk menjelaskan kondisi mertuanya, jawaban yang diterima tidak berubah.

Menurut Emmi, sikap tersebut membuat keluarganya merasa dipermainkan dan tidak diperlakukan secara manusiawi.

Emmi menyayangkan pelayanan pemerintah yang dinilai tidak memperhatikan kondisi kesehatan warga lanjut usia.

“Adik saya bolak-balik, capek, cuma mau ambil dua karung beras. Rasanya seperti kami tidak dihargai sama sekali,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Karena bantuan tak kunjung diberikan, keluarga akhirnya mengambil langkah ekstrem.

BACA JUGA :  Heboh, Emak-emak di Makassar Tampar Pak Polisi

Wahbah yang lemah dan tak mampu berjalan digotong keluar rumah oleh kerabat dan tetangga.

Warga kemudian membantu menaikkan tubuh lansia itu ke atas bentor untuk dibawa langsung ke kantor kelurahan.

“Masyarakat yang gotong mama, dibawa pakai bentor ke kantor lurah,” tutur Emmi.

Setibanya di lokasi, Lurah Maricaya Baru, Budianto, disebut sempat meminta agar Wahbah tidak turun dari bentor.

Budianto berdalih akan mengantarkan bantuan langsung ke rumah Wahbah. Sayangnya, keluarga menilai respons tersebut terlambat dan baru muncul setelah kejadian menjadi sorotan warga.

“Kalau tidak dibawa begini, mungkin tidak dipercaya kalau mama benar-benar sakit,” ujar Emmi dengan nada kesal.

Pada akhirnya, Wahbah menerima bantuan berupa dua karung beras dengan total berat 20 kilogram serta empat liter minyak goreng.

BACA JUGA :  Polisi Tangkap Dua Jukir Liar Pemeras di Pelabuhan Makassar

Lurah Maricaya Baru Budianto yang dikonfirmasi wartawan menyatakan akan memberikan penjelasan terkait insiden tersebut.

Budianto mengaku belum bisa memberikan keterangan karena sedang mengikuti rapat.

“Iya, nanti ya. Ini masih rapat di Hotel Novotel,” singkatnya.

Sementara itu, dalam video yang beredar luas, Wahbah terlihat terbaring lemah di atas kasur sebelum digendong keluar rumah.

Beberapa warga tampak bahu-membahu mengangkat tubuh lansia tersebut hingga ke pinggir jalan, lalu membantunya naik ke bentor menuju kantor kelurahan.

 

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi
Mahasiswi Perantau di Makassar Disekap dan Diperkosa Modus Loker Palsu
Fasilitas Tahanan Rumah Terdakwa Korupsi Nadiem Makarim Dinilai Cederai Keadilan
Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik
Matinya Nalar di Panggung Pilar, Ketika Jawaban Benar Siswa Dihukum Minus 5
Kronologi Penemuan Mahasiswi Asal Torut Tewas di Kamar Kos Tidung Makassar
Prahara “Si Paling Artikulasi”, Juri LCC MPR RI Dihujat Usai Begal Nilai Siswa
Warga Tidung Makassar Geger, Mahasiswi Asal Torut Ditemukan Tewas di Kamar Kos

Berita Terkait

Sabtu, 16 Mei 2026 - 01:35 WITA

Mengusik Kenyamanan Penguasa, Ini Fakta di Balik Film Dokumenter Pesta Babi

Sabtu, 16 Mei 2026 - 00:28 WITA

Mahasiswi Perantau di Makassar Disekap dan Diperkosa Modus Loker Palsu

Jumat, 15 Mei 2026 - 16:32 WITA

Fasilitas Tahanan Rumah Terdakwa Korupsi Nadiem Makarim Dinilai Cederai Keadilan

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:47 WITA

Ironi Perundungan Berdalih Artikulasi, LCC Bukan Tempat Menghakimi Anak Didik

Jumat, 15 Mei 2026 - 00:40 WITA

Matinya Nalar di Panggung Pilar, Ketika Jawaban Benar Siswa Dihukum Minus 5

Berita Terbaru