Retribusi Aneh, Izin Diblokir, Venue Digembok, Begini Cara Aceh Membunuh Kreativitas

Senin, 10 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Data penyelenggara WJP, sedikitnya 1.052 warga Aceh menghadiri konser di luar provinsi. Menggunakan pendekatan konservatif yang lazim dalam studi dampak pariwisata, nilai belanja yang tidak berputar di Aceh diperkirakan Rp1,58–3,68 miliar hanya dari satu event.

Data penyelenggara WJP, sedikitnya 1.052 warga Aceh menghadiri konser di luar provinsi. Menggunakan pendekatan konservatif yang lazim dalam studi dampak pariwisata, nilai belanja yang tidak berputar di Aceh diperkirakan Rp1,58–3,68 miliar hanya dari satu event.

Zonafaktualnews.com – Dunia industri kreatif Aceh kini menghadapi ancaman serius, bukan dari kurangnya ide atau talenta, melainkan dari kebijakan yang berubah-ubah dan penegakan aturan yang dinilai semena-mena.

Sejumlah pelaku event organizer (EO) menilai, situasi ini telah membunuh kreativitas dan mematikan denyut ekonomi hiburan di Tanah Rencong.

CEO PT Erol Perkasa Mandiri, Steffy Burase, mengungkapkan bahwa pembatalan beruntun terhadap berbagai acara berskala besar di Aceh bukan lagi persoalan teknis, melainkan bentuk nyata dari ketidakpastian kebijakan dan penyalahgunaan wewenang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Bukan hanya satu EO yang mengalami ini. Hampir semua acara berskala nasional selalu berakhir dengan hambatan administratif, perubahan aturan mendadak, atau alasan syariat yang sebenarnya sudah dinyatakan ‘lolos’ oleh Dinas Syariat Islam dan MPU. Sementara itu, konser-konser lokal yang tidak mengikuti tata aturan justru dibiarkan berlangsung,” ujar Steffy dalam keterangan tertulisnya, Senin (10/11/2025).

BACA JUGA :  Kejam, Ternyata Paspampres Habisi Nyawa Warga Alasan Ekonomi

Menurut Steffy, pola penghambatan yang terjadi seringkali dibungkus dengan alasan syariat, padahal akar masalahnya justru terletak pada mekanisme administrasi yang tidak sehat.

“Ada yang lapangannya digembok di hari-H, ada yang diberikan tagihan retribusi dengan angka yang tidak rasional, ada yang izin sudah lengkap tetapi tetap diberhentikan. Situasi seperti ini membuat EO mana pun tidak bisa bekerja dengan kepastian,” katanya.

Ia menegaskan bahwa peristiwa yang menimpa perusahaannya merupakan contoh jelas dari maladministrasi di tingkat pelaksana.

“Dalam kasus kami, alasan syariat tidak bisa dipakai karena seluruh persyaratan keagamaan sudah lolos sejak awal. Yang muncul justru tagihan yang tidak masuk akal dan tindakan penggembokan venue. Ini bukan persoalan syariat, ini masalah tata kelola,” tegasnya.

BACA JUGA :  Diduga Selewengkan Dana Desa, Camat dan Geuchik Blang Majron Dilaporkan

Kerugian akibat kebijakan semacam ini, lanjut Steffy, tak hanya dirasakan oleh penyelenggara acara, tetapi juga seluruh rantai ekonomi lokal.

“Setiap acara besar melibatkan ratusan pekerja, vendor, UMKM, crew lokal, talent, dan pelaku usaha lainnya. Ketika acara besar selalu dihambat, ekonomi Aceh kehilangan perputaran uang miliaran rupiah,” jelasnya.

Fenomena ini bahkan menciptakan tren baru di masyarakat Aceh, di mana banyak warga kini lebih memilih keluar daerah hanya untuk menikmati hiburan.

“Lebih dari seribu warga Aceh tercatat bepergian ke luar provinsi untuk menghadiri konser nasional. Ini bukti bahwa kebutuhan masyarakat tetap ada, hanya saja tidak bisa dipenuhi di Aceh karena kebijakan yang tidak konsisten,” katanya.

Steffy menegaskan bahwa perjuangan para pelaku industri kreatif bukan untuk menentang syariat, melainkan menuntut aturan yang konsisten, adil, dan berbasis kajian.

BACA JUGA :  Janji Manis PT. SSI Tak Terpenuhi, Keluarga Korban Kecelakaan Merasa Tertipu

“Kalau aturan berubah-ubah tergantung siapa penyelenggaranya, itu bukan lagi syariat dan bukan lagi administrasi, itu ketidakadilan. Suara yang kami bawa adalah suara ratusan pelaku industri kreatif Aceh yang ingin bekerja dengan tenang, transparan, dan profesional,” ujarnya.

Ia menyerukan agar Pemerintah Aceh membuka ruang dialog dengan pelaku industri kreatif agar kebijakan yang lahir tidak merugikan rakyat sendiri.

“Kami hanya meminta pemerintah membuat standar yang jelas, adil, dan tidak semena-mena. Kalau ingin menjaga syariat, lakukan dengan konsisten. Kalau ingin menegakkan aturan, lakukan dengan prosedur yang benar. Yang diperlukan rakyat Aceh hari ini adalah kepastian, bukan larangan yang berubah-ubah,” tutup Steffy.

Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Polemik Pencemaran Lingkungan di Pabrik TSM Gowa “Deal”, Bukti Belum Bicara
Ayah Tiri di Mamuju Perkosa Gadis ABG, 5 Tahun Terpendam Baru Terungkap
Cekcok Berujung Penganiayaan, Anak Bupati Jeneponto Dilaporkan ke Polisi
Perjalanan dari Jakarta Berakhir Tragis, Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Diserang
Skema Pemerasan Terkuak, Eks Kajari Enrekang Diduga Terima Ratusan Juta
Jusuf Kalla Buka Suara Usai Dilaporkan, Singgung Fitnah dan Klarifikasi Syahid
Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Naik, Pertalite-Biosolar Tetap
Budiman S Warning MA agar Tak Ulangi Dugaan “Kejahatan Prosedural” di PT Makassar

Berita Terkait

Selasa, 21 April 2026 - 18:48 WITA

Polemik Pencemaran Lingkungan di Pabrik TSM Gowa “Deal”, Bukti Belum Bicara

Selasa, 21 April 2026 - 17:52 WITA

Ayah Tiri di Mamuju Perkosa Gadis ABG, 5 Tahun Terpendam Baru Terungkap

Selasa, 21 April 2026 - 13:43 WITA

Cekcok Berujung Penganiayaan, Anak Bupati Jeneponto Dilaporkan ke Polisi

Senin, 20 April 2026 - 02:16 WITA

Perjalanan dari Jakarta Berakhir Tragis, Ketua Golkar Maluku Tenggara Tewas Diserang

Senin, 20 April 2026 - 01:20 WITA

Skema Pemerasan Terkuak, Eks Kajari Enrekang Diduga Terima Ratusan Juta

Berita Terbaru