Ringkasan
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan di Majelis Umum PBB bahwa negaranya tidak akan tunduk pada tekanan militer maupun ekonomi Amerika Serikat. Ia memprotes sanksi Washington, sambil menegaskan bahwa program nuklir Teheran tetap bertujuan damai tanpa berniat memiliki senjata nuklir.
Pezeshkian juga menyoroti dampak konflik terhadap krisis kemanusiaan serta meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz. Iran menuntut hak akses pelayaran yang setara di jalur strategis tersebut dan menilai pengerahan armada militer tidak akan menciptakan perdamaian.
Zonafaktualnews.com – Nyali besar ditunjukkan Presiden Iran Masoud Pezeshkian. Ia hadir langsung di markas besar PBB, New York, untuk menghadapi tekanan politik Washington.
Mengutip Reuters, Kamis (24/09/2026), di hadapan Majelis Umum PBB, Pezeshkian membuka pintu diplomasi lebar-lebar.
Masoud bersumpah negaranya pantang menyerah menghadapi gempuran geopolitik.
Kecaman keras langsung dilayangkan terhadap kebijakan Gedung Putih. Ia menyebut ancaman pemusnahan dari Donald Trump mencerminkan mentalitas penguasa lalim.
“Pernyataan yang dibuat oleh presiden AS kemarin adalah tanda mentalitas penindas,” tegas Presiden Iran Masoud Pezeshkian.
Ia memastikan rakyatnya kebal terhadap intimidasi militer maupun ekonomi. Ironi perang turut diangkat saat delegasi AS melakukan aksi walk out di ruang sidang.
“Rakyat Iran tidak akan tunduk pada tekanan,” tandasnya.
“Mereka yang merupakan teroris dan melatih teroris justru menyebut kami teroris,” tambahnya.
Konflik terbuka ini telah memasuki bulan ketujuh dan mengguncang pasar energi global. Kawasan Teluk kini berada di ambang eskalasi militer yang jauh lebih luas.
Pezeshkian membeberkan bukti visual korban jiwa di dalam ruang sidang internasional.
Serangan rudal mematikan di sekolah dasar Minab pada 28 Februari lalu disorot tajam.
Tragedi kemanusiaan itu merenggut nyawa 175 anak dan guru sekolah. Pentagon hingga kini masih menutup rapat hasil investigasi resmi atas insiden berdarah tersebut.
Di sisi lain, program atom Teheran kembali ditegaskan berstatus damai. Pemerintah Iran menolak kepemilikan senjata pemusnah massal tanpa melepaskan hak penguasaan teknologinya.
“Tidak akan ada senjata nuklir, maupun melepaskan pengetahuan nuklir,” paparnya di podium PBB.
Sanksi ekonomi brutal kini dilancarkan Washington setelah opsi militer menemui jalan buntu.
Tekanan domestik melonjak akibat lonjakan harga yang menghantam pendapatan warga.
Titik didih ketegangan kini bergeser ke jalur pelayaran vital Selat Hormuz. Jalur strategis tersebut mengalirkan seperlima pasokan minyak mentah dan LNG dunia.
Teheran mengajukan sejumlah syarat krusial melalui perantara internasional. Akses pengiriman logistik di jalur air tersebut menuntut kesetaraan hak bagi Iran.
“Tidak bisa dibiarkan bahwa semua orang mendapat manfaat dari Selat Hormuz sementara kami ditolak aksesnya untuk pengiriman pelayaran melalui jalur air ini,” ungkap Pezeshkian.
Pengerahan armada perang permanen dinilai tidak akan membawa solusi damai. Eskalasi konflik hanya akan memperparah krisis keamanan di kawasan Timur Tengah.
“Pengerahan armada permusuhan secara permanen dan perluasan perang tidak akan mengarah pada perdamaian,” pungkasnya.
Editor : Id Amor





















