Octavianus Masheka Sentil Tradisi Sastra: “Di Mana Angkatan 2000 dan Milenial?”

Selasa, 30 September 2025 - 18:12 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Octavianus Masheka, Ketua TISI, saat membuka acara peluncuran dan diskusi sastra buku antologi puisi bersama Republik Puitik dan Manifesto Jabodetabek bertema “Penyair Membaca 80 Tahun Indonesia Merdeka” di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu siang (28/9/2025). (Foto: Lasman Simanjuntak)

Octavianus Masheka, Ketua TISI, saat membuka acara peluncuran dan diskusi sastra buku antologi puisi bersama Republik Puitik dan Manifesto Jabodetabek bertema “Penyair Membaca 80 Tahun Indonesia Merdeka” di PDS HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Minggu siang (28/9/2025). (Foto: Lasman Simanjuntak)

Zonafaktualnews.com – Sejak angkatan tahun 1970-an versi kritikus sastra HB. Jassin, Indonesia tak punya lagi angkatan penyair. Setelah tahun 1970, ke mana kini angkatan penyair dalam perjalanan sastra Indonesia?

Pertanyaan ini dilontarkan langsung oleh Octavianus Masheka, penyair dan sastrawan yang juga Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) di Jakarta, Selasa pagi (30/9/2025), usai menyelenggarakan peluncuran (launching) buku antologi puisi bersama Republik Puitik dan Manifesto Jabodetabek di PDS HB. Jassin, TIM Jakarta, Minggu siang (28/9/2025).

“Oleh karena itu kita berharap Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dapat mengambil peran untuk menciptakan angkatan-angkatan baru dan forum-forum baru bagi perjalanan kepenyairan di Indonesia,” pintanya.

Bung Octa—panggilan akrabnya—memberikan contoh angkatan sastra milenial (Gen Z) itu seperti apa, atau angkatan sastra tahun 2000 seperti apa pula.

BACA JUGA :  80 Tahun Merdeka, Penyair Soroti “PR” Besar Menuju Indonesia Emas 2045

“Siapa tokoh-tokohnya? Misal tahun 1970-an, berdasarkan data sastra yang ada, muncul nama Sutardji Calzoum Bachri (SCB). Setelah itu tidak ada lagi,” tegasnya.

Menurutnya, diperlukan pemetaan untuk tiap angkatan sastra dalam rangka mewujudkan perjalanan kepenyairan Indonesia.

“Kita telah kehilangan kritikus puisi yang mumpuni seperti HB. Jassin. Justru yang ada sekarang di era Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) berbeda dengan dulu. Forum-forum pertemuan penyair pada saat sekarang sudah hilang. Oleh karena itu DKJ mestinya berkelanjutan,” pintanya lagi.

Octavianus Masheka—seorang penyair yang belakangan ini melalui TISI sering menyelenggarakan event-event sastra tingkat nasional—menyebutkan, semua itu adalah tugas Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) ke depan.

“Republik Puitik bersama TISI tahun depan semoga bisa memetakan angkatan per angkatan sastra yang lebih sempurna lagi. Misalnya penyair angkatan 2000 bisa dipetakan untuk masuk angkatan 2000,” pungkasnya.

BACA JUGA :  Peringati Hari Kartini 2025, TISI Tantang Penyair Perempuan Suarakan Emansipasi Lewat Puisi

Apakah Puisi Masih Diperlukan?

Sementara itu, dalam cover belakang buku antologi puisi bersama Republik Puitik yang diterbitkan oleh penerbit Taresia (Gerbang Literasi Nusantara)—cetakan pertama September 2025 setebal 2015 halaman—penyair dan sastrawan Eka Budianta berpendapat bahwa sepanjang Indonesia merdeka, kata Octavianus Masheka melalui telepon, Chairil Anwar telah memberikan semangat kepada Bung Karno.

Mengapa Eka Budianta tidak menulis untuk pemimpin zamannya?

“Saya tersehentak dan tersentuh. Apakah puisi masih diperlukan? Pada saat ini Artificial Intelligence (AI) pun bisa menulis puisi. Saya ragu, apakah buku antologi puisi Republik Puitik ini masih mendapat tempat dan tercatat. Jangan-jangan hanya Octa saja yang membacanya,” kilahnya.

Sekali lagi, ia mengaku takut, jangan-jangan puisi—ungkapan hati para penyair Indonesia—tidak dibaca lagi. WS. Rendra dan Taufiq Ismail dengan puisinya Sajak-Sajak Sepatu Tua, Tirani, Benteng, dan lain-lain bisa saja akan dilupakan.

BACA JUGA :  Panggung Sastra Perempuan Merah Putih Akan Digelar TISI di Eco Park untuk Hari Kartini

“Itu yang saya khawatirkan. Kalau ingin tuntas, siapa pemimpin kita dewasa ini? Prabowo-Gibrankah? Apakah mereka masih membaca puisi? Saya sangat meragukan.

Mungkin mereka tidak ambil pusing lagi. Puisi tidak membuat para pemimpin tenang, namun juga tidak membuat mereka pusing. Apa pun itu, puisi sebagaimana lagu-lagu bisa dinikmati untuk rekreasi. Selamat menikmati. Semoga puisi Indonesia menemukan bentuk baru,” pungkas Eka Budianta.

Kontributor : Lasman Simanjuntak
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Polisi Bongkar Modus Operator SPBU Parepare “Kuras” BBM, Izin Terancam Dicabut
Warga Makassar Siap-siap “Puasa” Air! Bili-Bili Direhab 3 Hari, Cepat Isi Tandon
Bongkar Modus Mobil Tangki, Polres Toraja Utara Sikat Mafia BBM Subsidi
Tower 2 RS HAH Dibangun Rp6 Miliar, Benarkah Masih Pakai AMDAL Lama?
Pria Lansia Tewas di Kanal Batua Raya, Eceng Gondok Jadi Biang Kerok Pencarian
Kasus Pengancaman Dosen UIN Alauddin Makassar, LKBHMI Ambil Sikap Tegas
Owner Arashi Cosmetindo Bagi-bagi Coffee Gratis di Antrean BBM Makassar
Aturan Pemprov Sulsel-Pertamina Diinjak-injak, Sopir Truk Tetap Isi BBM Siang

Berita Terkait

Rabu, 16 September 2026 - 02:03 WITA

Polisi Bongkar Modus Operator SPBU Parepare “Kuras” BBM, Izin Terancam Dicabut

Selasa, 15 September 2026 - 17:21 WITA

Warga Makassar Siap-siap “Puasa” Air! Bili-Bili Direhab 3 Hari, Cepat Isi Tandon

Selasa, 15 September 2026 - 16:09 WITA

Bongkar Modus Mobil Tangki, Polres Toraja Utara Sikat Mafia BBM Subsidi

Selasa, 15 September 2026 - 01:28 WITA

Tower 2 RS HAH Dibangun Rp6 Miliar, Benarkah Masih Pakai AMDAL Lama?

Selasa, 15 September 2026 - 01:06 WITA

Pria Lansia Tewas di Kanal Batua Raya, Eceng Gondok Jadi Biang Kerok Pencarian

Berita Terbaru