Titah Terakhir dari Istana Balla Lompoa, Raja Gowa Baru Telah Dipilih

Jumat, 29 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Andi Muhammad Imam, putra sulung Raja Gowa ke-38 sebagai penerus tahta Kerajaan Gowa ke-39.

Andi Muhammad Imam, putra sulung Raja Gowa ke-38 sebagai penerus tahta Kerajaan Gowa ke-39.

Zonafaktualnews.com – Di tengah duka mendalam atas berpulangnya Raja Gowa ke-38, Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang, terungkap sebuah amanat penting dalam perjalanan sejarah Kerajaan Gowa.

Pada Jumat, 29 November 2024, kuasa hukum Andi Kumala Idjo, Wawan Nur Rewa, menggelar konferensi pers yang menyampaikan pesan terakhir dari sang Raja kepada publik.

Wawan, yang juga dikenal sebagai Kuasa Hukum Andi Kumala Idjo, dengan penuh kehormatan membacakan wasiat yang telah disampaikan oleh sang Raja sebelum wafat.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Dalam wasiat tersebut, Andi Kumala Idjo memilih putra sulungnya, Andi Muhammad Imam, sebagai penerus tahta Kerajaan Gowa, menjadikannya Raja Gowa ke-39.

“Beban moral bagi saya kalau tidak menyampaikan, dan saya telah membacakan wasiat ini. Secara otomatis surat kuasa saya gugur atau selesai, dan kami anggap telah menyelesaikan tugas dan tanggung jawab kami. Selanjutnya, kami diberi amanah baru untuk melanjutkan mendampingi Andi Muhammad Imam,” ujar Wawan dengan tegas.

Konferensi pers yang berlangsung di kediaman Raja Gowa ke-38 di Jalan Mangka Dg Bombong, Gowa, pada pukul 16.30 Wita, ini menjadi momen penting bagi keluarga Kerajaan Gowa dan masyarakat.

BACA JUGA :  Kuasa Hukum Ishak Hamzah Desak Kejati Sulsel Periksa JPU Kejari Makassar

Wawan mengungkapkan bahwa wasiat itu merupakan titah yang harus dilaksanakan untuk menjaga kelangsungan kerajaan dan kehormatan yang telah diwariskan oleh leluhur.

“Wasiat tersebut harus saya sampaikan agar tanggung jawab saya selesai. Begitu pun hasil musyawarah di Bate Salapang dan keluarga Kerajaan Gowa, akan meneruskan wasiat tersebut,” lanjut Wawan Nur Rewa.

Dalam suasana yang penuh kehormatan dan haru, Wawan juga menegaskan bahwa tidak ada lagi klaim terhadap tahta Kerajaan Gowa sepeninggal Andi Kumala Idjo.

“Tidak ada yang mengaku-ngaku sebagai Raja Gowa sepeninggal Andi Kumala Idjo, karena langsung diwasiatkan oleh Almarhum kepada putra sulungnya, yaitu Andi Muhammad Imam,” tegas Wawan.

Wawan menambahkan, bahwa tradisi kerajaan Gowa yang sudah sangat kental dengan aturan dan adat, mengharuskan diterimanya wasiat tersebut dengan penuh pengorbanan, seperti halnya seorang Raja yang meninggalkan wasiat sebelum bertempur.

BACA JUGA :  Raja Gowa ke-38 Gelar Misi Perlindungan Warisan Budaya

“Ibarat seorang Raja yang ingin berangkat ke medan pertempuran, menitipkan sebuah wasiat. Ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terhadap dirinya, maka wasiat tersebut yang harus dilaksanakan,” jelasnya.

Meskipun Andi Muhammad Imam telah ditetapkan sebagai Raja Gowa ke-39, pengangkatan formalnya belum dapat dilaksanakan, mengingat keluarga besar Kerajaan Gowa masih dalam suasana berduka.

Wawan menjelaskan bahwa meskipun tidak ada protes dalam musyawarah mengenai wasiat tersebut, pengangkatan Andi Muhammad Imam akan menunggu waktu yang tepat.

“Ketika saya musyawarah dengan ‘Bate Salapang’ dan keluarga Kerajaan, baik kemarin malam maupun tadi pagi (29/11/2024), pembacaan wasiat berjalan dengan lancar, tidak ada yang protes. Saya telah menyerahkan salinannya kepada mereka. Ketika terjadi silang pendapat, hal tersebut lumrah sebagai dinamika,” ujar Wawan.

Selain itu, Wawan menuturkan bahwa sesuai dengan tradisi kerajaan, seorang Raja yang wafat tidak dapat langsung dimakamkan sebelum ada penggantinya yang sah.

BACA JUGA :  Raja Gowa ke-38 Akan Kembali ke Istana Balla Lompoa

“Raja yang wafat tidak bisa diturunkan dari Istana Balla Lompoa dan dimasukkan ke liang lahat kalau belum ada penggantinya. Setelah wasiat tersebut diserahkan kepada Bate Salapang dan disaksikan keluarga Kerajaan Gowa, serta dihadapan umum oleh permaisuri yang menyebutkan Andi Muhammad Imam sebagai putra mahkota, barulah almarhum Andi Kumala Idjo Karaeng Lembang Parang dapat dimakamkan,” paparnya.

Proses ini menjadi simbol perpindahan kekuasaan yang tidak hanya bergantung pada waktu, tetapi juga pada kesepakatan dan kesetiaan terhadap nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para pendahulu.

Sebuah pengingat bahwa tahta bukan sekadar hak, tetapi amanah yang harus dijaga dan dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.

 

(Id Amor)
Follow Berita Zona Faktual News di Google News

Berita Terkait

Cuaca Ekstrem Mengintai Sulsel, BMKG Ingatkan Banjir dan Gelombang Tinggi
Usai Pesta Miras, Geng Motor di Makassar Serang Warga dan Rusaki Kantor Ekspedisi
Danrem Ralat Pernyataan, Kotak Oranye di Gunung Bulusaraung Bukan Black Box ATR 42-500
Perangkat Oranye Diduga Black Box ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung
Pesawat ATR 42-500 Diduga Tabrak Gunung, Serpihan Ditemukan di Bulusaraung
Demo Pemekaran Luwu Tengah Ricuh, 7 Orang Luka dan Pagar Kantor Gubernur Rusak
Banjir Rendam Biringkanaya Makassar, Puluhan Warga Terpaksa Mengungsi
Tenang tapi Mematikan, Strategi Hukum Nur Amin Tantu Bikin DPD Kosipa Terancam

Berita Terkait

Kamis, 22 Januari 2026 - 02:27 WITA

Cuaca Ekstrem Mengintai Sulsel, BMKG Ingatkan Banjir dan Gelombang Tinggi

Selasa, 20 Januari 2026 - 12:25 WITA

Usai Pesta Miras, Geng Motor di Makassar Serang Warga dan Rusaki Kantor Ekspedisi

Senin, 19 Januari 2026 - 02:46 WITA

Danrem Ralat Pernyataan, Kotak Oranye di Gunung Bulusaraung Bukan Black Box ATR 42-500

Minggu, 18 Januari 2026 - 21:37 WITA

Perangkat Oranye Diduga Black Box ATR 42-500 Ditemukan di Gunung Bulusaraung

Minggu, 18 Januari 2026 - 19:25 WITA

Pesawat ATR 42-500 Diduga Tabrak Gunung, Serpihan Ditemukan di Bulusaraung

Berita Terbaru