Istilah “ecek-ecek” sering digunakan untuk merendahkan sesuatu yang dianggap kecil, tidak penting, atau kurang terkenal.
Dalam dunia media, sebutan ini biasanya ditujukan kepada media online yang belum memiliki nama besar, jangkauan luas, atau sumber daya seperti media mainstream.
Padahal, menyebut media sebagai “ecek-ecek” hanyalah refleksi kesombongan mereka yang angkuh, bukan ukuran kualitas jurnalisme.
Setiap perusahaan media, baik cetak maupun online, lahir dari titik yang kecil. Dari rumah-rumah sederhana, meja kerja seadanya, hingga server murah yang menampung berita pertama mereka, proses ini adalah perjalanan panjang yang tak bisa diukur hanya dari popularitas.
Media yang dulunya dianggap kecil bisa berkembang menjadi media mainstream, dikenal luas, dan memiliki pengaruh signifikan dalam pemberitaan nasional.
Lalu, apa itu media mainstream?
Secara sederhana, media mainstream adalah media yang diterima secara luas oleh masyarakat, memiliki jangkauan besar, dan sering dijadikan rujukan atau sumber berita oleh publik maupun media lain.
Media-media ini biasanya memiliki sumber daya lebih, jaringan luas, dan akses langsung ke narasumber resmi. Namun, menjadi mainstream bukan berarti lebih berani atau lebih benar dalam mengungkap fakta.
Ironisnya, di balik kesuksesan media besar, muncul sikap angkuh dari sebagian orang yang bekerja di dalamnya. Mereka sering memandang sebelah mata media online yang dianggap “ecek-ecek”.
Mereka merasa lebih hebat, lebih tahu, dan lebih penting, padahal kenyataannya, sebagian besar dari mereka hanyalah karyawan, bukan pemilik atau pengambil keputusan utama.
Jika kamu hanya berstatus karyawan, tidak pantas mencela atau mengejek media lain. Besok-besok, jika kamu keluar atau di-PHK dari perusahaan itu, jangan heran jika suatu saat kamu akan mengulang hinaan yang sama entah terhadap perusahaan lama atau media lain yang lebih berani.
Sudah banyak yang keluar dari media besar, dan mereka kemudian mendirikan media online sendiri, yang sering kali lebih berani, tajam, dan inovatif dibandingkan media tempat mereka dulu bekerja.
Justru media yang dianggap “ecek-ecek” lah yang sering lebih berani. Mereka menyoroti kasus-kasus penting, mengungkap penyimpangan, dan membuat berita yang viral di media sosial.
Banyak pemberitaan mereka kemudian dikutip atau dijadikan referensi oleh media mainstream. Keberanian, kecepatan, dan ketajaman liputan inilah yang membuktikan bahwa ukuran atau nama besar bukanlah satu-satunya ukuran kualitas jurnalistik.
Lebih dari itu, media kecil yang disebut ecek-ecek inilah yang tak ada kepentingan di balik kekuasaan dan politik. Mereka menulis tanpa tekanan pihak manapun, tidak terikat sponsor besar, dan tidak harus menjaga relasi dengan pejabat untuk tetap survive.
Karena kebebasan inilah, mereka bisa mengangkat isu-isu sensitif, mengungkap korupsi, dan menyoroti ketidakadilan tanpa takut kehilangan iklan atau keuntungan politik.
Perlu dicatat pula, pemilik media sejati bahkan tak pernah merendahkan media lain. Kesombongan biasanya datang dari orang-orang yang hanya berstatus karyawan, yang lupa bahwa pujian dan hinaan bukan ukuran kualitas.
Kesombongan adalah musuh sejati dalam dunia media. Menganggap remeh media lain karena status atau popularitas justru akan menutup peluang belajar, berinovasi, dan menjaga objektivitas. Dunia jurnalistik seharusnya dibangun di atas keberanian, fakta, dan integritas, bukan gengsi atau ego yang berlebihan.
Media kecil hari ini mungkin dianggap “kurang terkenal”, tapi dengan kerja keras, keberanian meliput, dan konsistensi, mereka bisa menjadi suara yang diperhitungkan bahkan oleh media terbesar sekalipun.
Jadi, tidak ada yang namanya media ecek-ecek. Yang ada hanyalah kesombongan yang tidak pada tempatnya, dan tak perlu suka menghina atau mengejek jika hanya berstatus karyawan, bukan pemilik media.
Makassar, Jumat 28 November 2025
Penulis : Ibhe Ananda
Dewan Pendiri Serikat Insan Media
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















