Zonafaktualnews.com – Ambisi Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) untuk membawa Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menembus Senayan pada Pemilu 2029 dinilai terlalu mengada-ada.
Langkah politik tersebut dianggap mustahil terwujud mengingat kondisi internal PSI saat ini.
Analis politik Saiful Huda Ems meminta Jokowi agar tak terlalu “ngehalu” atau berhalusinasi membayangkan partai berlambang gajah hitam berkepala merah tersebut mendadak bertransformasi menjadi kekuatan politik baru yang diperhitungkan.
“PSI menurut saya tidak akan bisa jadi partai besar, paling tidak dalam Pemilu 2029 nanti,” kata Saiful, Selasa (3/11/2026).
Menurut Saiful, kendala utama yang membentengi PSI untuk berkembang adalah minimnya stok kader senior.
Roda organisasi partai dinilai belum didukung oleh jajaran pengurus yang berpengalaman dalam mengelola dinamika partai politik berskala nasional.
Faktor kepemimpinan juga tak luput dari sorotannya. Karakter serta rekam jejak figur puncak di tubuh PSI dianggap belum cukup matang untuk mengarungi persaingan pemilu yang makin ketat.
“Apalagi ketua umumnya, Kaesang Pangarep, putra bungsu Jokowi, itu masih sangat hijau dan belum berpengalaman memimpin partai politik,” ujar Saiful.
Ia menambahkan, strategi memboyong sejumlah politisi dari luar pun belum mampu menaikkan elektabilitas partai secara signifikan. Kehadiran para pendatang baru tersebut dinilai tak membawa dampak instan terhadap perolehan suara.
“Karena mereka rata-rata merupakan figur yang kurang dikenal publik dan tidak memiliki track record sebagai politisi atau aktivis ulung,” jelasnya.
Masalah PSI, lanjut Saiful, bukan terletak pada urusan logistik atau pernak-pernik promosi. Terbukti pada Pemilu 2019 dan 2024, masifnya penyebaran alat peraga kampanye seperti baliho, stiker, hingga kaos di pelosok tanah air tetap gagal mengerek suara partai.
“Meskipun gencar menyebar alat peraga kampanye, hasilnya tetap nihil. PSI tetap bertahan sebagai partai gurem pada Pemilu 2019 dan 2024,” pungkas Saiful.
Editor : Id Amor





















