Zonafaktualnews.com – Ketegangan di Iran semakin mencekam usai Presiden AS Donald Trump mengeluarkan ancaman militer terhadap Teheran.
Menyusul pernyataan itu, Kedutaan Besar Virtual Amerika Serikat di Iran pada Selasa (13/1/2026) meminta seluruh warga negaranya untuk segera meninggalkan wilayah tersebut.
Dalam pernyataannya, Kedutaan menekankan agar warga AS membuat rencana perjalanan mandiri tanpa bergantung pada bantuan pemerintah.
“Tinggalkan Iran sekarang. Rencanakan keberangkatan Anda secara mandiri,” tulis pernyataan resmi Kedubes.
Selain mengimbau evakuasi, Kedutaan juga memperingatkan agar warga Amerika meningkatkan kewaspadaan. Mereka yang belum dapat pergi disarankan mencari lokasi aman serta menyiapkan persediaan penting, termasuk makanan, air, dan obat-obatan.
“Hindari demonstrasi, tetap rendah profil, dan awasi lingkungan sekitar,” lanjut pernyataan itu.
Kedutaan menegaskan warga AS di Iran berisiko ditangkap atau diinterogasi.
“Menunjukkan paspor AS atau mengaku terkait dengan Amerika Serikat bisa menjadi alasan pihak berwenang Iran menahan seseorang,” tulis Kedubes.
Mengingat tidak adanya hubungan diplomatik resmi antara AS dan Iran, warga Amerika disarankan memanfaatkan Kedutaan Besar Swiss di Teheran sebagai perlindungan.
Peringatan ini dikeluarkan beberapa hari setelah Trump menegaskan kemungkinan intervensi militer jika pemerintah Iran melakukan tindakan keras terhadap demonstran sipil.
“Militer AS terus memantau situasi, dan beberapa opsi yang serius sedang dipertimbangkan,” kata Trump pada Senin (12/1/2026), dikutip dari The Guardian.
Trump juga sebelumnya menyampaikan ancamannya melalui media sosial Truth, menegaskan bahwa Amerika siap membantu kebebasan di Iran, serta mengancam sanksi tarif ekspor 25 persen bagi negara-negara yang bekerja sama dengan Teheran.
Pemerintah Iran merespons keras pernyataan Trump. Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh AS dan Israel ikut memicu gelombang protes yang berlangsung sejak 29 Desember 2025.
“Mereka melatih beberapa orang di dalam dan luar negeri, serta membawa masuk teroris dari luar,” kata Pezeshkian, dikutip Aljazeera.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan kesiapan negaranya menghadapi kemungkinan intervensi militer.
“Jika Washington ingin menguji opsi militer, kami siap menghadapinya,” tegas Araghchi.
Di tengah ketegangan ini, protes sipil di Iran masih berlangsung. Meski angka pastinya sulit dikonfirmasi karena pembatasan internet sejak 8 Januari 2026, media pemerintah melaporkan sedikitnya 109 aparat tewas, sementara organisasi HAM berbasis AS, HRANA, mencatat 646 korban tewas.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















