Zonafaktualnews.com – Krisis ekonomi Iran semakin dalam. Inflasi yang terus meroket, cadangan devisa yang menipis, dan hilangnya kepercayaan publik terhadap mata uang nasional telah membuat rial Iran terpuruk di pasar global.
Kondisi ini bukan saja melemah drastis terhadap dolar AS, tetapi juga mengubah posisi rial terhadap mata uang lain, termasuk rupiah Indonesia.
Per 14 Januari 2026, kurs pasar menunjukkan bahwa 1 rial Iran setara hanya sekitar Rp0,40–Rp0,401. Artinya, satuan moneter Iran kini bernilai kurang dari setengah rupiah Indonesia.
Fenomena ini menciptakan paradoks bagi pemegang rupiah, menukar uang di Iran akan menghasilkan jumlah rial yang sangat besar secara angka.
Misalnya, jika seorang membawa Rp1 juta ke Iran, angka yang diterima bisa mencapai sekitar 2,49 juta rial, karena 1 rupiah setara hampir 2,5 rial Iran.
Nominal besar itu jangan disalahartikan sebagai kekuatan ekonomi. Karena daya beli rial sudah sangat lemah akibat inflasi dan depresiasi panjang, jumlah rial yang “besar” itu tidak banyak berarti dalam praktik belanja di pasar lokal Iran.
Apa yang Terjadi pada Rial Iran?
Kurs rial terhadap dolar telah merosot tajam dalam beberapa tahun terakhir. Di pasar bebas, dolar kini diperdagangkan di atas level yang membuat satu unit mata uang Iran bernilai jutaan rial.
Penurunan nilai ini sebagian besar disebabkan oleh kombinasi tekanan sanksi ekonomi internasional, ketergantungan tinggi pada impor, serta kebijakan moneter yang memperluas jumlah uang beredar tanpa diimbangi pertumbuhan produktivitas yang kuat.
Hal ini memicu inflasi yang terus meningkat dan mendorong rakyat mencari aset yang lebih stabil seperti dolar atau emas.
Perbandingan Kurs Timur Tengah
Untuk memberi konteks lebih luas, berikut rata-rata nilai tukar beberapa mata uang di kawasan Timur Tengah terhadap rupiah Indonesia (berdasarkan kurs pasar internasional umum, estimasi per Januari 2026):
| Mata Uang | Perkiraan Kurs terhadap Rupiah |
|---|---|
| Rial Iran (IRR) | ± Rp0,400 per 1 IRR |
| Riyal Arab Saudi (SAR) | ± Rp4.000–Rp4.200 per 1 SAR |
| Dirham UEA (AED) | ± Rp3.900–Rp4.100 per 1 AED |
| Dinar Kuwait (KWD) | ± Rp45.000–Rp50.000 per 1 KWD |
Catatan: nilai tukar di atas adalah perkiraan berdasarkan pasar global dan dapat berubah tergantung pada kondisi pasar dan kebijakan moneter masing-masing negara.
Realitas di Balik “Rupiah Sultan”
Secara statistik, rupiah memang terlihat sangat kuat jika dibandingkan dengan rial Iran, setiap rupiah bisa ditukar dengan beberapa unit rial yang secara angka tampak besar.
Sayangnya, ini lebih mencerminkan ukurannya yang kecil daripada kekuatan rupiah itu sendiri. Nilai rial yang makin menyusut berarti daya beli masyarakat Iran makin tergerus, sehingga setiap rial yang diperoleh kaum wisatawan atau pelaku bisnis tidak sebanding dengan harga barang dan jasa di sana.
Dan meskipun angka kurs ini tampak menguntungkan bagi pemegang rupiah, realitas sosial-ekonomi Iran saat ini, dengan gejolak harga kebutuhan pokok, ketidakpastian politik, dan ketegangan sosial, tetap membuat skenario berwisata atau berbisnis di negara ini penuh risiko dan tantangan.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















