Refleksi Setahun Sayuti–Husaini Memimpin Lhokseumawe, Rutinitas atau Transformasi?

Rabu, 18 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pengamat kebijakan publik, Sofyan, S.Sos

Pengamat kebijakan publik, Sofyan, S.Sos

Zonafaktualnews.com – Malam meugang di Lhokseumawe selalu menghadirkan suasana reflektif. Di tengah tradisi menyambut Ramadan, momentum ini kerap dimaknai bukan sekadar perputaran waktu, tetapi juga saat untuk menilai diri, termasuk menilai arah kepemimpinan publik.

Tepat 17 Februari 2026, genap satu tahun pasangan Sayuti–Husaini memimpin Kota Lhokseumawe setelah dilantik pada 17 Februari 2025 oleh Gubernur Aceh, Muzakir Manaf.

Sejak pelantikan itu, mandat politik berubah menjadi tanggung jawab pemerintahan yang dituntut menghadirkan hasil nyata.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pengamat kebijakan publik, Sofyan, S.Sos, menilai satu tahun memang belum cukup untuk memberikan vonis akhir terhadap sebuah pemerintahan. Namun, menurutnya, satu tahun sudah memadai untuk membaca arah.

“Pertanyaannya bukan lagi soal janji, melainkan soal desain kepemimpinan. Apakah kita sedang melihat manajemen rutinitas, atau embrio transformasi?” ujarnya, Rabu (18/2/2026).

Mengelola atau Mengubah?

Dalam teori kepemimpinan publik, terdapat perbedaan mendasar antara kepemimpinan administratif dan kepemimpinan transformatif.

Kepemimpinan administratif berfungsi menjaga stabilitas dan memastikan roda pemerintahan berjalan sebagaimana mestinya.

BACA JUGA :  Parkir Liar Makan Korban, Pengamat Sebut Lemahnya Tata Kelola Kota Lhokseumawe

Sebaliknya, kepemimpinan transformatif berani membongkar pola lama dan membangun sistem baru yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Visi “Kota Cerdas dan Nyaman Huni” dinilai progresif. Namun, Sofyan mengingatkan bahwa visi tidak cukup berhenti sebagai slogan.

“Kota tidak membutuhkan narasi modern yang terdengar canggih. Kota membutuhkan tata kelola yang terasa dalam kehidupan sehari-hari,” tegasnya.

Ia mencontohkan persoalan sampah yang masih berulang, penataan kawasan yang belum menunjukkan pembenahan sistemik, hingga jalan terdampak proyek SPAM yang dinilai belum mendapat kepastian perbaikan.

Menurutnya, jika problem-problem tersebut belum disentuh secara struktural, maka yang terjadi baru sebatas pengelolaan rutinitas dengan kemasan baru.

“Kota ini tidak kekurangan program. Kota ini kekurangan konsistensi sistem,” katanya.

Legitimasi dan Ukuran Kinerja

Dalam demokrasi, legitimasi awal diperoleh melalui pemilihan. Namun legitimasi lanjutan, kata Sofyan, ditentukan oleh kinerja yang terukur.

Ia menyoroti tidak diperolehnya Dana Insentif Daerah (DID) tahun 2025 sebagai indikator penting.

BACA JUGA :  YARA Desak Kapal Maersk Chilka Bayar Ganti Rugi Korban Tabrakan di Laut Aceh

Menurutnya, DID bukan semata soal tambahan anggaran, tetapi simbol pengakuan atas capaian kinerja pemerintah daerah.

“Pada periode sebelumnya, Lhokseumawe pernah memperoleh DID sekitar Rp5,73 miliar. Itu artinya standar kinerja tersebut bukan sesuatu yang mustahil dicapai. Ketika capaian itu tidak lagi diperoleh, publik wajar bertanya,” ujarnya.

Selain itu, serapan anggaran yang belum optimal juga dinilai bukan sekadar persoalan teknis, melainkan mencerminkan kemampuan kepemimpinan dalam mengonsolidasikan birokrasi.

Rotasi pejabat yang telah dilakukan, menurutnya, belum tentu identik dengan reformasi birokrasi.

“Rotasi tanpa perubahan sistem dan target terukur hanya memindahkan figur, bukan memperbaiki struktur,” katanya.

Sofyan menyebut sejumlah persoalan klasik yang masih menjadi pekerjaan rumah, seperti parkir semrawut, kawasan kumuh, pengelolaan sampah, potensi kebocoran pendapatan daerah, hingga minimnya ruang terbuka hijau.

Jika pola penyelesaiannya masih parsial dan reaktif, ia menilai publik berhak mempertanyakan desain kebijakan yang dijalankan.

“Kepemimpinan diuji bukan pada seberapa banyak program diumumkan, tetapi pada seberapa dalam akar masalah disentuh. Kebijakan permukaan tidak pernah menghasilkan perubahan struktural,” tegasnya.

BACA JUGA :  Wali Kota Makassar Temukan Dugaan Penyelewengan Iuran Sampah RT/RW

Menurut Sofyan, tahun pertama seharusnya menjadi fondasi arah lima tahun ke depan. Empat tahun tersisa memang memberi ruang perbaikan, namun waktu panjang tidak otomatis melahirkan perubahan jika pola awal tidak menunjukkan keberanian merombak sistem.

Ia menekankan bahwa kritik bukan bentuk permusuhan, melainkan mekanisme penyeimbang dalam demokrasi.

Oposisi, katanya, bukan ancaman bagi pemerintahan, melainkan pengingat agar kekuasaan tidak terjebak dalam zona nyaman administratif.

“Sejarah tidak mencatat seberapa sering visi diulang. Sejarah mencatat seberapa nyata perubahan diwujudkan,” ujarnya.

Satu tahun telah berlalu. Arah mulai terbaca. Kini publik Lhokseumawe menanti: apakah kepemimpinan Sayuti–Husaini akan naik kelas menjadi transformasi yang sesungguhnya, atau tetap berada dalam orbit pengelolaan administratif?

Waktu akan terus berjalan. Dan waktu, pada akhirnya, tidak pernah berpihak pada stagnasi.

 

(RL/ID)
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok

Berita Terkait

Bentrok Sengketa Lahan di Panakkukang Makassar, Tiga Kubu Saling Serang
Iran Gempur Gudang Amunisi dan Menara Pengawas Armada Kelima AS
Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka, Polsek Tallo Diduga Kriminalisasi Warga
Tak Terima Dituding Aniaya Staf, Ketua DPRD Bone Bakal Lapor Balik
Aksi Jilid III Meledak di DPRD, KONAMI Sulsel Tuntut Verifikasi Gelar Akademik Dewan
Laksus Minta Polda Sulsel Periksa Eks Dekan FIKK UNM Terkait Bukti Pungli CPNS
Ngaku Ditipu Bos Kosmetik di Makassar, Owner RA Skincare Rugi Rp400 Juta
Bermula dari Tagihan, Nasabah Kredivo Berakhir Jadi Korban Pelecehan Oknum DC

Berita Terkait

Minggu, 26 Juli 2026 - 11:47 WITA

Bentrok Sengketa Lahan di Panakkukang Makassar, Tiga Kubu Saling Serang

Minggu, 26 Juli 2026 - 00:56 WITA

Iran Gempur Gudang Amunisi dan Menara Pengawas Armada Kelima AS

Sabtu, 25 Juli 2026 - 13:45 WITA

Korban Pengeroyokan Jadi Tersangka, Polsek Tallo Diduga Kriminalisasi Warga

Sabtu, 25 Juli 2026 - 01:49 WITA

Tak Terima Dituding Aniaya Staf, Ketua DPRD Bone Bakal Lapor Balik

Jumat, 24 Juli 2026 - 20:40 WITA

Aksi Jilid III Meledak di DPRD, KONAMI Sulsel Tuntut Verifikasi Gelar Akademik Dewan

Berita Terbaru