Okky Madasari Bongkar 5 Mitos Jokowi hingga Pemimpin Gemoy

Selasa, 23 Januari 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Okky Madasari Bongkar 5 Mitos Jokowi hingga Pemimpin Gemoy

Okky Madasari Bongkar 5 Mitos Jokowi hingga Pemimpin Gemoy

Zonafaktualnews.com – Penulis dan Novelis, Okky Madasari membongkar mitos Presiden Jokowi.

Okky Madasari mengatakan ada upaya untuk membangun narasi dan citra positif pemerintahan Jokowi, tetapi belakangan hal tersebut justru terbantahkan.

Citra tersebut kata dia dibangun untuk melanggengkan kekuasaan Jokowi yang kini akan diteruskan oleh putra sulungnya, Gibran Rakabuming Raka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Hal itu disampaikan oleh Okky Madasari melalui podcastdi chanel Youtube Abraham Samad Speak Up, dikutip Selasa (23/1/2024).

Berikut 5 Mitos Jokowi yang dibongkar oleh Okky Madasari :

1 Mitos Jokowi orang baik

Soal mitos mengenai orang baik. Citra baik tersebut sengaja dibangun oleh Jokowi jauh sebelum menjabat sebagai presiden.

Jokowi membangun citra sebagai pemimpin yang sederhana sehingga tampak lebih mulia dibandingkan capres lainnya.

Hal itu juga diperkuat oleh gimik anak-anaknya yang hidup mandiri dan sederhana sebagai wirausahawan.

“Padahal ada pertanyaan besar juga apakah memang benar-benar sederhana? Padahal kita memilih pemimpin gak perlu indikator harus sederhana, penting dia mematuhi hukum dan aturan,

Lagi pula apakah benar Pak Jokowi sederhana itu yang kemudian jadi konsisten kalau kita melihat bagaimana keluarganya, apa yang dikenakan, itu kan berbeda dengan kesederhanaan,” ucap Okky.

Okky menilai, seharusnya apabila Jokowi merupakan orang baik,  ia tidak melanggar aturan dan etika sebagai pemimpin. Oleh sebab itu, Jokowi sebagai orang baik hanyalah mitos.

BACA JUGA :  Pukat UGM Desak KPK Periksa Jokowi Terkait Dugaan Korupsi Proyek Whoosh

“Lebih-lebih, kalau kita bicara orang baik ukuran kebaikan seorang pemimpin itu menurut saya, patuhi UU dan hukum. Kan ada etika-etika pemimpin Tapi ini semua sudah dilanggar oleh Pak Jokowi, jadi ada satu mitos yang sudah gugur yaitu mitos orang baik,” kata dia.

2 Mitos semua orang punya kesempatan sama di Indonesia

Tak semua orang punya keistimewaan untuk menjadi figur penting seperti pejabat maupun pemimpin.

“Kalau ada yang mengatakan bahwa maju saja jadi capres, tapi apakah bisa? Kan mekanismenya tidak seperti itu atau misalnya saya nyalon saja jadi wali kota, apakah bisa?” tuturnya.

Belakangan ini, alasan setiap orang punya kesempatan yang sama sering jadi alat untuk membenarkan majunya keluarga Presiden Jokowi dalam kontestasi politik.

Okky menyampaikan, faktanya kontestasi kepemimpinan tersebut sudah didesain sedemikian rupa.

“Jadi itu yang sengaja dipakai untuk meng-counter gugatan atau pertanyaan kita soal anaknya yang dicalonkan jadi Wali Kota Solo, menantunya jadi Wali Kota Medan. Ya ini kan demokrasi silakan untuk memilih atau mencalonkan diri,” ucap dia.

“Faktanya kita tahu semuanya didesain, belum lagi kalau kita lebih detail melihat proses pilwalkot di Solo itu kan penuh pertanyaan.

Di mitos semua orang punya kesempatan yang sama itu juga jelas sudah gugur, karena ada previlage dari orang-orang tertentu yang akhirnya kesempatan itu hanya dimiliki oleh mereka yang punya jalan itu,” lanjut Okky

BACA JUGA :  Jokowi Mundur dari Bursa Ketum PSI, Sinyal Sakit Mulai Terlihat?

3 Mitos mengenai kepemimpinan muda

Okky menyampaikan, narasi itu dibangun justru untuk memuluskan kepentingan politik tertentu pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024.

Dia juga mengkritisi putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang batas usia capres dan cawapres yang dianggap cacat hukum.

Padahal, terpilihnya anak muda pada 2024 belum tentu akan mengakomodir isu-isu mengenai anak muda.

“Fakta kalau pemimpin mudanya ternyata mendapat kesempatan yang tidak fair atau adil dengan memanipulasi hukum dan undang-undang ya jangan kasih kesempatan hanya karena semata dia muda.

Dan jangan juga berpikir hanya karena orang muda lalu dia relate dengan persoalan gen z dan milenial. Bisa jadi dia tidak paham soal isu anak muda,” tutur dia.

4 Muncul isu gimik pemimpin gemoy

Okky melanjutkan, mitos keempat tentang gimik pemimpin gemoy yang sekarang sedang dijadikan strategi utama bagi pasangan calon nomor urut dua, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Dia menyebut, gimik politik tersebut seakan mengesampingkan gagasan kepemimpinan yang sebenarnya lebih dibutuhkan anak muda sebagai mayoritas pemilih tahun 2024.

“Jadi Gen Z dan milenial dianggap memang juga agak tidak peduli dengan gagasan bahwa yang penting joget, dibuat seneng dan gemoy. Saya itu memang pembodohan ketika kita dianggap tidak peduli atau tidak tertarik berbicara gagasan berarti kita akan dianggap bodoh, dan itu pembodohan,” kata dia.

BACA JUGA :  Begini Alasan Jokowi Soal Surat Suara Datang Lebih Awal di Taipe

Gimik politik itu juga dimaknai sebagai upaya untuk menutupkan berbagai isu lainnya, seperti rekam jejak pelanggaran HAM.

“Jadi yang dimunculkan adalah yang lucu, gemoy, senang bercanda, lupa kan dulu ada peristiwa pelanggaran HAM, lupa dulu bisa jadi ini adalah sosok yang tidak ada gemoynya, jadi kita sengaja diputar faktanya, lalu diciptakan realita baru. Ya karena pemilih muda tidak punya ingatan apa yang terjadi di 98,” ucap Okky.

5 Mitos Presiden Jokowi netral

Terakhir, mitos mengenai Presiden Jokowi netral jelang Pemilu 2024. Padahal nyatanya, konflik kepentingan jelas terlihat di depan mata.

Misalnya, kata dia, antara mantan Ketua MK Anwar Usman yang punya hubungan kekerabatan dengan Jokowi saat memutuskan gugatan batas usia capres-cawapres.

Putusan itu dianggap kental politis karena memberikan karpet merah bagi keponakan Anwar Usman yakni Gibran.

Dia lantas mempertanyakan partai di parlemen yang selama ini membiarkan praktik hukum yang ugal-ugalan tersebut.

“Yang terakhir ada mitos presiden netral bahwa sekarang tanpa kita jelaskan lebih jauh, tak ada konflik kepentingan antara MK dan presiden bahwa ketua MK adalah iparnya presiden itu saja kan sudah jelas, konflik kepentingan yang seharusnya tidak bisa diterima,” ungkap Okky.

 

 

Editor : Id Amor

Berita Terkait

Kasus Ijazah Palsu Gugur, Status Tersangka Eggi-Damai di-SP3 Kilat Usai Bertemu Jokowi
Damai Hari Lubis Tepis Isu Permohonan Maaf Datangi Jokowi Bersama Eggi Sudjana
Gerah Diseret Isu Ijazah Palsu Jokowi, SBY–Megawati Pertimbangkan Langkah Hukum
Proses Pemilihan RT di Rappokalling Diduga Penuh Settingan, Warga Geruduk Lurah
Suara Seri, RW 006 Karampuang Tentukan Ketua Usai “Digoccang”, Husain Terpilih
Pemilihan RT/RW Sarat Masalah, Canvasser MuLIA Tagih Janji, Jawaban Appi Bikin Kecewa
Banjir Berulang di Tripa, Ketua Fraksi NasDem Dorong Pemindahan Alur Sungai Lamie
Denny Indrayana Buka-bukaan Alasan Bela Roy Suryo: “Hukum Sedang Diperalat”

Berita Terkait

Minggu, 18 Januari 2026 - 18:41 WITA

Kasus Ijazah Palsu Gugur, Status Tersangka Eggi-Damai di-SP3 Kilat Usai Bertemu Jokowi

Minggu, 11 Januari 2026 - 21:40 WITA

Damai Hari Lubis Tepis Isu Permohonan Maaf Datangi Jokowi Bersama Eggi Sudjana

Kamis, 1 Januari 2026 - 20:21 WITA

Gerah Diseret Isu Ijazah Palsu Jokowi, SBY–Megawati Pertimbangkan Langkah Hukum

Selasa, 16 Desember 2025 - 19:03 WITA

Proses Pemilihan RT di Rappokalling Diduga Penuh Settingan, Warga Geruduk Lurah

Selasa, 9 Desember 2025 - 21:58 WITA

Suara Seri, RW 006 Karampuang Tentukan Ketua Usai “Digoccang”, Husain Terpilih

Berita Terbaru