Zonafaktualnews.com – Pengamat politik Rocky Gerung menilai Mantan Presiden RI Joko Widodo, atau Jokowi, kini menghadapi posisi yang semakin terjepit.
Menurut Rocky, berbagai kontroversi sepanjang dua periode kepemimpinannya (2014–2024) kini diperparah oleh sengkarut utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung (KCJB) alias Whoosh yang menembus ratusan triliun rupiah.
Rocky menyebut Jokowi mengalami kondisi yang dalam filsafat Jawa dikenal sebagai ‘kelangan pulung’, yakni kehilangan kemampuan membaca tanda-tanda zaman atau alam, termasuk indikasi bahwa masa kekuasaannya telah berakhir dan imunitas politiknya melemah.
“Di dalam filsafat Jawa, ada orang yang kehilangan pulung, tidak lagi mampu membaca tanda-tanda alam. Itulah yang terjadi pada Pak Jokowi sekarang,” ungkap Rocky dalam video yang diunggah kanal YouTube Rocky Gerung Official, Senin (20/10/2025).
Akibat situasi ini, Rocky memperkirakan Jokowi tak akan menikmati masa pensiun dengan tenang. Publik terus menyoroti berbagai skandal selama satu dekade pemerintahannya.
“Dia tidak bisa tidur nyenyak, karena setiap hari emak-emak, BEM, dan netizen membongkar kembali skandal yang pernah terjadi,” tegas Rocky.
Selain kontroversi terkait keabsahan ijazah S1 Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) dan pencalonan putranya, Gibran Rakabuming Raka, sebagai Calon Wakil Presiden RI, yang disebut sebagai “penyelundupan hukum,” proyek Whoosh kini menjadi titik sorot utama yang membuat Jokowi semakin sulit mengelak dari tuduhan publik.
Rocky menyoroti keputusan kontroversial Jokowi pada 2015 yang berpaling dari Jepang (JICA) ke China (KCIC) sebagai mitra proyek.
Padahal, Jepang menawarkan pinjaman rendah (0,1 persen) dengan tenor 40 tahun, sedangkan China memberikan skema lebih mahal dengan bunga 2–3,4 persen.
Akibatnya, biaya Whoosh kini membengkak menjadi $7,27 miliar atau sekitar Rp120,38 triliun, dan peralihan ini bahkan memicu pemecatan Ignasius Jonan, Menteri Perhubungan saat itu, karena menolak keputusan tersebut.
“Yang menjadi sorotan sekarang adalah kereta cepat. Sulit bagi Pak Jokowi menghindar dari tuduhan publik terkait mark-up,” ujar Rocky, pendiri Tumbuh Institute.
Dugaan ini diperkuat Mantan Menkopolhukam Mahfud MD, yang menyoroti perhitungan biaya per kilometer oleh pihak Indonesia mencapai $52 juta AS, hampir tiga kali lipat dari estimasi China $17–18 juta AS.
“Ini yang menaikkan siapa, uangnya ke mana,” kata Mahfud, seraya mendesak penyelidikan kasus Whoosh.
Selain membebani negara dengan utang yang bunga tahunannya sekitar Rp2 triliun, Rocky menilai proyek Whoosh juga dipaksakan tanpa izin publik.
Urgensinya dipertanyakan, karena perbedaan waktu tempuh antara Bandung dan Jakarta hanya setengah jam, sehingga masyarakat maupun pelaku usaha lebih memilih kendaraan pribadi.
“Kalkulasi salah ini menjadikan kereta cepat beban utang negara,” kata Rocky.
Rocky menekankan, proyek yang tidak dilakukan dengan kehati-hatian ini menjadi skandal karena bisa dianggap akibat ketidakcermatan, bahkan kesengajaan.
Mark-up tanpa konsultasi DPR dalam skema Business to Business turut menambah risiko negara jika proyek bangkrut.
“Jadi sekarang, Jokowi disorot bukan hanya karena perilaku politiknya, tapi juga kecenderungan memaksakan proyek tanpa izin rakyat,” pungkas Rocky.
Editor : Id Amor
Follow Berita Zona Faktual News di TikTok





















