Protes Pelajar Ricuh di Prancis, Sekolah Dibakar hingga Bentrok dengan Polisi

Senin, 5 Oktober 2026 - 15:03 WITA

Bagikan artikel ini melalui

Facebook
Twitter
WhatsApp
Telegram
Copy Link

Protes Pelajar Ricuh di Prancis, Sekolah Dibakar hingga Bentrok dengan Polisi

Kobaran api membakar barikade di jalanan menyusul aksi unjuk rasa ribuan pelajar di Prancis yang berujung ricuh dengan aparat (Foto : Ist)

Zonafaktualnews.com – Gelombang protes pelajar yang melanda berbagai kota di Prancis berubah menjadi kerusuhan dalam beberapa hari terakhir.

Aksi yang awalnya berisi tuntutan perbaikan kualitas pendidikan berkembang menjadi bentrokan dengan aparat keamanan, perusakan fasilitas publik, hingga pembakaran sekolah di sejumlah wilayah.

Situasi tersebut memaksa ratusan sekolah menghentikan kegiatan belajar mengajar.

Ribuan orang diamankan polisi sejak aksi meluas, sementara korban luka dilaporkan berasal dari kalangan pelajar, tenaga pendidikan, hingga aparat keamanan yang bertugas mengendalikan massa.

Dikutip dari The New York Times, Minggu (4/10/2026), aksi protes terjadi ketika pemerintah Prancis sedang menghadapi tekanan politik menjelang pemilihan presiden tahun depan.

Pada saat yang sama, pemerintah juga berupaya menerapkan kebijakan penghematan anggaran yang memicu ketidakpuasan di berbagai sektor, termasuk pendidikan.

Kemarahan para siswa bermula dari persoalan yang mereka anggap telah lama diabaikan.

Serikat pelajar menyebut kondisi gedung sekolah yang memburuk, ruang kelas yang terlalu padat, keterbatasan jumlah guru, hingga minimnya pendanaan menjadi alasan utama mereka turun ke jalan.

Selain itu, sebagian siswa juga menentang sistem seleksi masuk perguruan tinggi yang dikelola pemerintah.

Mereka menilai mekanisme tersebut tidak memberikan kesempatan yang adil bagi seluruh pelajar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

BACA JUGA :  Grib Jaya Diminta Dibubarkan Tanpa Kompromi, Aksi Hercules Lampaui Polri

Dampak aksi terlihat di berbagai wilayah. Menteri Pendidikan Prancis Édouard Geffray mengatakan lebih dari sepertiga dari sekitar 3.700 sekolah menengah mengalami penutupan atau gangguan operasional pada Kamis.

Sementara pada Jumat, lebih dari 400 sekolah kembali terdampak oleh aksi serupa.

Aksi yang awalnya berlangsung damai kemudian berubah menjadi kericuhan di sejumlah kota.

Otoritas setempat melaporkan adanya penggunaan kembang api jenis mortir, perusakan bangunan sekolah, hingga serangan terhadap fasilitas umum yang menyebabkan kerugian besar.

Pusat-pusat demonstrasi tidak lagi terbatas di kawasan pinggiran Paris. Gelombang protes telah menjalar ke Marseille, Lyon, Nantes, Belfort, dan sejumlah kota lainnya, membuat jumlah sekolah yang terdampak terus bertambah.

Pemerintah mengakui sebagian tuntutan pelajar merupakan persoalan yang perlu diperhatikan. Otoritas mengecam keras aksi kekerasan yang muncul di tengah demonstrasi dan menuding sejumlah kelompok politik turut memperkeruh situasi.

Di tengah kerusuhan, sebagian siswa berusaha menjaga jarak dari tindakan anarkis. Mereka menegaskan bahwa tujuan utama aksi adalah menyuarakan kondisi pendidikan, bukan melakukan perusakan.

“Kami bukan tidak mendapat pendidikan yang baik, kami hanya tidak didengarkan,” demikian bunyi salah satu spanduk yang dipasang pekan ini di depan sebuah sekolah di Seine-Saint-Denis, kawasan kelas pekerja di utara Paris yang menjadi salah satu pusat aksi protes.

BACA JUGA :  Fabem Sulsel Kritik Keras Dugaan Pemufakatan Jahat di Dinas Kota Makassar

Keluhan para siswa juga menyentuh persoalan fasilitas belajar sehari-hari yang mereka hadapi.

“Ruang kelas tidak memiliki ventilasi, dan kami hampir tidak bisa membuka jendela,” kata Issam Makhloufi, 15 tahun, siswa Rosa Parks High School di St.-Denis, kepada The New York Times.

Aksi pelajar tersebut kemudian menarik dukungan dari sejumlah serikat guru dan kelompok politik sayap kiri.

Mereka menilai persoalan yang disuarakan siswa mencerminkan kondisi pendidikan publik yang terus mengalami penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

“Sistem pendidikan publik berada dalam kondisi yang sangat buruk setelah 10 tahun pemerintahan Emmanuel Macron,” kata Sophie Vénétitay, pemimpin serikat guru yang bergabung dalam aksi pelajar, di sela-sela demonstrasi baru-baru ini.

“Segalanya kurang,” ujarnya.

Kerusuhan yang terjadi memicu gelombang penangkapan besar-besaran. Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nuñez mengatakan kepada BFMTV bahwa hampir 2.000 orang ditangkap pada Kamis dan lebih dari 1.700 orang diamankan pada Jumat. Sebagian besar dari mereka merupakan remaja di bawah umur.

Penanganan aparat terhadap demonstrasi turut menuai kritik dari kelompok hak asasi manusia.

Amnesty International dan sejumlah organisasi lainnya mempertanyakan penggunaan gas air mata serta granat kejut untuk membubarkan massa yang didominasi pelajar.

BACA JUGA :  Kasus Korupsi Pipa Avtur Mandek, GMPH Geruduk Kejati Sulsel: “Jangan Main Kotor!”

Korban luka juga terus bertambah. Geffray menyebut lebih dari 60 staf sekolah mengalami cedera, termasuk sekitar 40 kepala sekolah.

Sementara itu, menurut Nuñez, lebih dari 300 polisi dan anggota gendarmerie terluka selama rangkaian demonstrasi berlangsung.

Beberapa insiden menonjol terjadi di sejumlah kota. Sebuah sekolah dilaporkan dibakar di Nantes, sementara di Marseille massa melempari kendaraan pemadam kebakaran yang datang ke lokasi.

Di Belfort, seorang remaja berusia 17 tahun ditangkap setelah sekelompok pelajar diduga menyerang seorang anggota polisi.

Prancis memiliki sejarah panjang gerakan pelajar yang kerap menjadi bagian dari perubahan sosial dan politik di negara tersebut.

Salah satu yang paling dikenang adalah gelombang demonstrasi mahasiswa pada 1968 yang hampir mengguncang pemerintahan saat itu.

Menghadapi situasi yang terus memanas, pemerintah menegaskan tidak akan mentoleransi aksi kekerasan.

Menteri Kehakiman Prancis Gérald Darmanin mengatakan pada Jumat bahwa jaksa telah diminta untuk mengupayakan tuntutan pidana terhadap para pelaku serta meminta pertanggungjawaban orang tua atas berbagai kerusakan yang terjadi selama aksi berlangsung.

Editor : Id Amor

Berita Terkait

Aksi Jilid II Rakyat Nusantara Ricuh di Kolaka, Polisi Diduga Pukuli Demonstran
Klaim 2015 Gibran “Kuliah di Singapura, Bukan Australia” Bentrok Data KPU
Mahasiswa di Makassar Tewas Dibusur Usai Diserang Komplotan Geng Motor
Denny Desak MK Tegakkan Konstitusi, Klaim Gibran Tak Memiliki Ijazah SMA
Feri Amsari Sindir Rocky Gerung Lewat Video Lama Janji Penolakan Jabatan
Proyek Jalan Rp46 M di Lutra Diduga Pakai Material Ilegal, PPK-DPRD Masa Bodoh
Tambang Bermasalah di Gowa Terus Eksis, Janji Penindakan Tipidter Sekadar Bual?
Kritikus Akal Sehat Rocky Gerung Dilantik Prabowo, Netizen : Si Paling “Dungu” Takluk

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 02:15 WITA

Aksi Jilid II Rakyat Nusantara Ricuh di Kolaka, Polisi Diduga Pukuli Demonstran

Senin, 5 Oktober 2026 - 01:15 WITA

Klaim 2015 Gibran “Kuliah di Singapura, Bukan Australia” Bentrok Data KPU

Minggu, 4 Oktober 2026 - 21:19 WITA

Mahasiswa di Makassar Tewas Dibusur Usai Diserang Komplotan Geng Motor

Minggu, 4 Oktober 2026 - 01:48 WITA

Denny Desak MK Tegakkan Konstitusi, Klaim Gibran Tak Memiliki Ijazah SMA

Minggu, 4 Oktober 2026 - 01:01 WITA

Feri Amsari Sindir Rocky Gerung Lewat Video Lama Janji Penolakan Jabatan

Berita Terbaru